Pelajar Nunukan Keluhkan Internet “Timbul Tenggelam”, H. Ladullah Siap Perjuangkan Infrastruktur Digital Perbatasan

NUNUKAN – Keterbatasan jaringan internet dan minimnya fasilitas laboratorium di sekolah menjadi sorotan utama dalam kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, H. Ladullah, di Sweetnes Cafe, Kabupaten Nunukan, Rabu (17/2/2026) sore.

Dalam agenda penjaringan aspirasi tersebut, para pelajar dan masyarakat menyuarakan langsung berbagai persoalan pembangunan, terutama ketertinggalan infrastruktur teknologi komunikasi di wilayah perbatasan.

banner 728x90

Mewakili pelajar SMK Negeri 1 Nunukan, Muhammad Risal mengungkapkan kondisi jaringan internet yang kerap “timbul tenggelam” menjadi hambatan serius dalam proses pembelajaran berbasis digital.

Menurutnya, akses internet yang tidak stabil mengganggu pencarian referensi, pengerjaan tugas daring, hingga pelaksanaan ujian atau praktik berbasis teknologi.

“Nunukan masih mengalami ketertinggalan infrastruktur komunikasi dan informasi. Kami sering kesulitan karena jaringan tidak stabil. Ini memperlihatkan kesenjangan digital yang masih dirasakan pelajar di perbatasan dibandingkan daerah lain,” ujar Risal.

Tak hanya soal jaringan, ia juga menyoroti keterbatasan sarana praktik di sekolah. Rasio perangkat yang belum memadai membuat siswa harus bergantian menggunakan alat praktik. Bahkan, laboratorium belum tersedia secara lengkap sehingga pembelajaran vokasi dinilai kurang maksimal.

“Kami masih bergantian menggunakan peralatan praktik karena jumlahnya terbatas, dan laboratorium belum lengkap. Ini tentu berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan,” tambahnya.

Kondisi tersebut, lanjut Risal, memperlihatkan belum meratanya sarana penunjang pendidikan kejuruan di wilayah perbatasan. Sistem penggunaan ruang praktik secara bergantian antar kelas dinilai mengurangi intensitas pembelajaran yang menjadi inti pendidikan vokasi.

Menanggapi aspirasi itu, H. Ladullah mengapresiasi keberanian para pelajar menyampaikan kondisi riil di sekolah. Ia menilai suara generasi muda sangat penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.

“Saya sangat mengapresiasi pertanyaan dari adik-adik. Apa yang disampaikan tadi menggambarkan adanya kesenjangan yang dihadapi pelajar di daerah kita. Jika tidak diutarakan, kami mungkin tidak mengetahui secara rinci persoalan yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengakui, keterbatasan jaringan internet di wilayah perbatasan memang menjadi tantangan besar dalam pengembangan pendidikan berbasis teknologi. Perbedaan fasilitas semakin terasa ketika pelajar Nunukan harus berkompetisi dengan pelajar dari luar daerah yang memiliki sarana lebih lengkap.

“Ketika pelajar kita berkompetisi dengan pelajar dari luar daerah, khususnya Jawa, tentu terlihat perbedaan fasilitas. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan jaringan di sejumlah titik masih sulit dijangkau. Bahkan dalam kondisi tertentu, pelajar harus berpindah lokasi hanya untuk mendapatkan sinyal yang stabil.

“Masalah jaringan memang masih sulit didapat di beberapa titik. Ini fakta di lapangan yang perlu mendapat perhatian serius,” tegasnya.

Seluruh aspirasi terkait peningkatan kualitas jaringan internet dan kelengkapan laboratorium, lanjut Ladullah, akan dibawa dalam pembahasan di tingkat provinsi.

Ia memastikan suara pelajar Nunukan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan, agar pembangunan infrastruktur teknologi komunikasi di wilayah perbatasan mampu menjawab kebutuhan pendidikan digital yang terus berkembang. (bed)

banner 728x90

News Feed