Di balik deru mesin traktor yang kelak membelah sawah-sawah Krayan, ada kisah panjang tentang perjalanan, pengorbanan, dan tekad menghadirkan negara hingga ke tapal batas.
Syamsul Bahri
KRAYAN bukan sekadar wilayah di peta Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Ia adalah daerah perbatasan yang terisolasi, dikelilingi hutan lebat dan medan berat, dengan akses terbatas yang kerap menguji kesabaran siapa pun yang ingin mencapainya.
Namun keterbatasan itu tak menyurutkan langkah pemerintah untuk mendukung denyut pertanian masyarakat setempat.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendistribusikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk Krayan, berupa 28 unit traktor roda empat (jonder/rotavator), 14 unit traktor roda dua, serta 10 unit rice planter.
Bantuan ini diharapkan mampu mendorong produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia tersebut.
Masalahnya, Krayan hampir sepenuhnya hanya bisa dijangkau melalui jalur udara. Jalur darat yang menghubungkan wilayah ini masih dalam proses pembangunan. Kondisi inilah yang memaksa Pemerintah Kabupaten Nunukan mengambil jalur alternatif yang penuh tantangan.
Perjalanan alsintan dimulai dengan menyeberang menggunakan kapal LCT melalui jalur Sungai Ular, Kecamatan Seimanggaris. Dari sana, alat-alat pertanian itu dilansir sedikit demi sedikit menggunakan truk menuju wilayah Kabupaten Malinau, sebelum akhirnya menembus jalur darat ekstrem menuju Krayan.
“Kita tugaskan pegawai kami yang siap mental dan fisiknya kuat untuk mengawal pengiriman alsintan ke Krayan. Kita tahu pengiriman ini butuh waktu belasan hari, sehingga kami bersiap untuk berkemah dan siap tidur di tengah hutan,” ujar Masniadi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Nunukan.
Demi menghemat anggaran, seluruh operator alat berat, tenaga pendamping, hingga pengawas diambil dari internal DKPP Nunukan. Mereka bukan sekadar mengawal logistik, tetapi juga berhadapan langsung dengan lumpur, hujan, dan medan yang bisa berubah ekstrem dalam hitungan jam.
Masniadi menyebut tantangan terberat justru muncul saat alsintan tiba di ujung jalan beraspal perbatasan Malinau. Dari titik itu, perjalanan menuju Desa Long Semamu hingga Desa Binuang, Krayan, ibarat memasuki jalur tak bertuan. Jalan tanah akan menjelma lumpur licin, terutama saat hujan mengguyur.
“Biasanya ban mobil tertanam, dan harus ditarik menggunakan alat berat untuk bisa keluar dari lumpur,” ungkapnya.
Mengantisipasi kondisi tersebut, DKPP Nunukan telah berkoordinasi dengan perusahaan pemilik alat berat untuk siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tantangan lain tak kalah serius adalah penyeberangan sungai sebelum memasuki wilayah Krayan.
“Kita akan melewati sungai sebelum masuk Krayan. Jadi dastikan apakah arus air memungkinkan dilewati atau tidak. Kalau tidak, tunggu sampai aman baru diseberangkan alat-alat berat yang dikirim,” jelas Masniadi.
Distribusi alsintan dilakukan melalui dua jalur. Jalur darat membawa 28 unit traktor roda empat yang terdiri dari 14 unit jonder dan 14 unit rotavator. Sementara jalur udara diperuntukkan bagi 14 unit traktor roda dua dan 10 unit rice planter.
Namun jalur udara pun bukan tanpa kendala. Pesawat komersial rute Nunukan–Krayan merupakan pesawat perintis yang tak memungkinkan pengangkutan alsintan berukuran besar. Karena itu, Pemkab Nunukan tengah melobi TNI Angkatan Udara agar dapat meminjamkan pesawat angkut.
“Pesawat komersil tidak memungkinkan. Karena itu kami sedang berupaya meminta dukungan TNI AU,” tambahnya.
Masniadi memastikan dirinya ikut langsung dalam regu pengawalan DKPP hingga alsintan tiba di Krayan. Baginya, kehadiran langsung di lapangan adalah bentuk tanggung jawab sekaligus komitmen pemerintah kepada masyarakat perbatasan.
“Kita tahu bagaimana sulitnya menembus Krayan lewat darat. Semoga usaha ini dipandang sebagai salah satu bukti kehadiran pemerintah bagi masyarakat perbatasan,” katanya.
Pemkab Nunukan menargetkan alsintan dapat tiba di Krayan dalam waktu 9 hingga 12 hari. Namun faktor cuaca yang tak menentu berpotensi membuat perjalanan molor hingga dua kali lipat dari rencana awal.
Meski demikian, harapan tetap disematkan. “Semoga alsintan yang diberikan Pemerintah Pusat benar-benar menjadi pendukung kemajuan pertanian masyarakat Krayan,” tutup Masniadi.
Di tengah hutan, lumpur, dan sungai yang menghadang, perjalanan alsintan ini menjadi lebih dari sekadar distribusi alat. Ia adalah cerita tentang dedikasi, tentang negara yang berusaha hadir hingga ke ujung negeri, demi sawah-sawah Krayan tetap hidup dan berproduksi. (***)









