Senam Lukiwol Masuk MURI, Ingin Budaya Tidung Tak Hilang Ditelan Zaman

NUNUKAN – Legenda Suku Tidung tentang Yaki Bentawol diangkat melalui gerakan senam dan dibawa ke panggung nasional. Kabupaten Nunukan menjadikan pemecahan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Senam Lukiwol sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Kegiatan yang digelar di Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras Perbatasan, Minggu (11/10/2026), menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan. Bupati Nunukan H. Irwan Sabri membuka kegiatan tersebut, didampingi Direktur Operasional MURI Yusuf Ngadri serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

banner 728x90

Irwan mengatakan, Senam Lukiwol tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga sarana memperkenalkan identitas budaya masyarakat Nunukan kepada khalayak yang lebih luas.

Menurut dia, gerakan dalam Senam Lukiwol mengandung cerita dan filosofi yang bersumber dari legenda Iluk Yaki Bentawol. Kisah tersebut menggambarkan kehidupan Yaki Bentawol, mulai dari mengarungi sungai, menebang pohon, berburu, hingga kegembiraan sang istri ketika ia pulang membawa hasil buruan.

Cerita yang diwariskan melalui legenda itu kemudian diterjemahkan menjadi rangkaian gerakan senam. Dengan cara tersebut, nilai budaya tidak hanya disampaikan melalui cerita lisan, tetapi juga diperkenalkan melalui aktivitas yang dapat dilakukan bersama oleh berbagai kelompok masyarakat.

“Hari ini, di tempat yang sangat istimewa ini, di Ruang Terbuka Publik Paras Perbatasan, kita tidak hanya berolahraga. Hari ini kita mencatat sejarah,” kata Irwan.

Ia menilai, pengenalan budaya lokal menjadi penting di tengah derasnya pengaruh budaya dari luar. Nunukan, sebagai wilayah perbatasan, memiliki kekayaan budaya yang dapat diperkenalkan sebagai identitas daerah sekaligus kebanggaan masyarakat.

“Di saat banyak daerah berlomba mengimpor budaya luar, hari ini kita di perbatasan justru menunjukkan kepada Indonesia bahwa kita punya karya budaya asli yang sehat, kreatif, dan membanggakan. Dan hari ini kita bawa ke pentas nasional melalui MURI,” ujarnya.

Namun, bagi Irwan, upaya mengangkat Senam Lukiwol tidak cukup berhenti pada pemecahan rekor. Ia meminta Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Nunukan segera mengurus perlindungan hukum terhadap karya tersebut agar dapat dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Saya harap Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Nunukan untuk segera hak patenkan Senam Lukiwol ini. Ini milik Nunukan. Kita harus jaga, kita harus ajarkan ke anak cucu kita,” tegasnya.

Selain pelestarian budaya, Irwan berharap Senam Lukiwol menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehat masyarakat. Ia mendorong agar senam tersebut diterapkan secara rutin di sekolah, perkantoran, puskesmas, hingga menjadi kegiatan setiap Jumat pagi.

Menurut dia, momentum HUT ke-27 Kabupaten Nunukan seharusnya tidak hanya diisi dengan perayaan, tetapi juga menghasilkan kebiasaan positif yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Pada usia Kabupaten Nunukan yang ke-27 tahun, tidak ada kado yang lebih berharga selain rakyat yang sehat dan bugar,” katanya.

Pemecahan rekor Senam Lukiwol juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata Nunukan. Irwan menyebut, RTP Paras Perbatasan dipilih karena menjadi salah satu ruang publik yang dibanggakan masyarakat.

Ia mengatakan, kawasan tersebut kini menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas masyarakat. Dari lokasi itu, pemerintah daerah ingin menunjukkan bahwa wilayah perbatasan tidak hanya memiliki posisi strategis secara geografis, tetapi juga kekayaan budaya yang layak dikenal lebih luas.

“Dari Paras inilah kita ingin menyampaikan pesan kepada negara tetangga dan kepada seluruh Indonesia: dari perbatasan, kita jaga budaya, kita jaga kesehatan, kita torehkan prestasi,” ujarnya.

Promosi tersebut turut didukung kehadiran peserta dari luar negeri. Dalam kegiatan itu, peserta disebut berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Kehadiran mereka menjadi peluang untuk memperkenalkan Senam Lukiwol sekaligus memperluas jangkauan promosi budaya dan wisata Nunukan.

Kegiatan tersebut juga diikuti berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, ibu-ibu PKK, aparatur sipil negara (ASN), TNI-Polri, hingga komunitas senam.

Irwan mengapresiasi keterlibatan para peserta yang dinilainya menjadi bagian penting dalam memperkenalkan budaya lokal secara bersama-sama.

“Kepada seluruh peserta, dari anak sekolah, ibu-ibu PKK, ASN, TNI-Polri, pelajar, komunitas senam, yang hari ini datang dengan kostum seragam dan semangat yang luar biasa, Anda semua adalah pemecah rekor! Anda semua adalah pahlawan budaya!” ungkapnya.

Suasana di RTP Paras Perbatasan semakin meriah dengan penampilan Liza Natalia, artis dangdut sekaligus instruktur senam, yang mengajak peserta mengikuti gerakan Zumba.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap Senam Lukiwol tidak hanya dikenal saat peringatan hari jadi atau kegiatan pemecahan rekor. Lebih dari itu, senam yang berakar dari legenda Suku Tidung tersebut diharapkan terus dipraktikkan, diperkenalkan kepada generasi muda, dan menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Nunukan. (adv)

banner 728x90