NUNUKAN – Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Utara, Ruman Tumbo, melontarkan kritik keras terhadap pola penanganan kasus narkoba yang dinilai masih fokus pada pengguna, sementara jaringan besar peredaran narkotika belum tersentuh maksimal.
Dalam kegiatan edukasi masyarakat di wilayah perbatasan, ia menegaskan bahwa perang terhadap narkoba harus diarahkan pada pemutusan rantai distribusi hingga ke aktor utama.
Ruman Tumbo, meminta aparat penegak hukum lebih serius memburu bandar besar narkoba yang mengendalikan peredaran di wilayah perbatasan, khususnya Nunukan.
Menurutnya, penanganan kasus narkoba selama ini masih cenderung menyasar pengguna, sementara pengendali utama jaringan distribusi belum ditindak secara maksimal.
“Jangan hanya pengguna yang ditangkap. Bandar besarnya harus dikejar,” tegas Ruman Tumbo saat ditemui media belum lama ini.
Ia menilai bisnis narkoba memiliki perputaran uang yang sangat besar sehingga terus menarik banyak pihak untuk terlibat. Karena itu, penegakan hukum tidak cukup hanya dilakukan di tingkat pengguna, tetapi harus memutus jaringan distribusi dari hulu.
Ruman juga menepis anggapan bahwa bandar sulit disentuh karena berada di luar negeri, seperti Malaysia. Menurutnya, pihak yang mengendalikan peredaran di wilayah Nunukan tetap harus dianggap sebagai aktor utama. “Yang mengatur peredaran di sini itulah yang harus diberangus,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondisi peredaran narkoba di wilayah perbatasan kini sudah sangat mengkhawatirkan karena barang haram tersebut telah masuk hingga ke lingkungan permukiman warga. Situasi ini dinilai menjadi ancaman serius bagi generasi muda dan ketahanan keluarga. “Narkoba bukan hanya merusak kesehatan, tapi juga menghancurkan masa depan generasi,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, penyuluh BNNK Nunukan juga mengingatkan adanya tren baru peredaran narkoba melalui liquid rokok elektrik atau vape. Zat jenis New Psychoactive Substances (NPS) disebut telah disamarkan dalam cairan vape dan mulai menyasar kalangan pelajar.
Kondisi itu membuat pengawasan orang tua dan lingkungan menjadi semakin penting karena modus peredaran narkoba kini lebih terselubung dan sulit dikenali.
Meski mendorong penindakan tegas terhadap bandar, Ruman tetap menekankan pentingnya pendekatan humanis bagi pengguna narkoba, termasuk melalui rehabilitasi agar mereka memiliki kesempatan untuk pulih.
Ia menegaskan, perang melawan narkoba tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Tanpa keberanian menindak jaringan besar, peredaran narkoba di wilayah perbatasan akan terus berkembang dan mengancam masa depan daerah.
“Ini bukan lagi persoalan biasa, tapi ancaman serius bagi generasi kita,” pungkasnya. (adv)
