Pawai Budaya HUT ke-27 Nunukan Hadirkan Kontingen dari Sabah

NUNUKAN – Pawai Budaya dan Karnaval Mobil Hias pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Sabtu (10/10/2026), menghadirkan kontingen Pagun Tidung Kalabakan dari Sabah, Malaysia. Kehadiran mereka memperlihatkan kedekatan budaya masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Pawai yang mengusung tema “Kreatif Berkarya, Nunukan Maju” itu diikuti sekitar 84 peserta dari berbagai kategori, mulai dari SD/MI, SMP, SMA hingga umum. Selain itu, terdapat 12 peserta karnaval mobil hias yang turut memeriahkan perayaan.

Rangkaian pawai diawali dengan penampilan drumband Bahana Suara Berbatasan PDBI Kabupaten Nunukan, kemudian disusul kontingen Pagun Tidung Kalabakan dari Sabah yang hadir sebagai tamu kehormatan dalam rangkaian kegiatan Iraw Tidung Borneo Bersatu di Nunukan.

Pawai dilepas oleh Wakil Bupati Nunukan Hermanus dengan kibaran bendera start, didampingi Bupati Nunukan H. Irwan Sabri dan sejumlah tamu kehormatan.

Dalam sambutannya, Irwan Sabri mengatakan, keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, kesenian, dan tradisi merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Menurut dia, budaya tidak cukup hanya ditampilkan dalam perayaan, tetapi harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus dihidupkan, dilestarikan, dan diwariskan. Kalau kita tidak mengenal budaya sendiri, kita bisa kehilangan jati diri,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar mengambil peran aktif dalam menjaga kebudayaan daerah. Anak muda, kata dia, tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku yang memastikan adat dan tradisi tetap hidup.

“Saya berharap generasi muda Nunukan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku dan penerus budaya daerah. Kenali adat dan tradisi kita, bangga dengan karya daerah, dan jangan malu menunjukkan identitas budaya Nunukan,” ujarnya.

Melalui peringatan HUT ke-27 ini, Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap keberagaman budaya dapat memperkuat persatuan, kebersamaan, dan keharmonisan masyarakat.

Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Ketua TP PKK Kabupaten Nunukan Hj. Andi Annisa Muthia Irwan, Susanti Hermanus, Wakil Ketua I DPRD Nunukan Hj. Arpiah, anggota DPRD, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan instansi vertikal. (adv)




Bupati Nunukan Dorong Magang Mahasiswa PNN di OPD

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan mendorong penguatan kerja sama dengan Politeknik Negeri Nunukan (PNN), termasuk membuka peluang magang mahasiswa di organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mendukung peningkatan kompetensi dan kesiapan kerja lulusan.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menyampaikan dukungan tersebut dalam peringatan Dies Natalis ke-6 PNN yang dirangkaikan dengan peluncuran maskot resmi kampus, Kamis (8/10/2026).

Menurut Irwan, PNN memiliki peran strategis dalam menyediakan pendidikan vokasi berkualitas bagi generasi muda Nunukan. Keberadaan perguruan tinggi ini juga menjadi wujud kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah perbatasan.

Karena itu, pengembangan PNN perlu didukung melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan mitra industri. Salah satunya dengan mengembangkan kurikulum berbasis potensi daerah serta memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja melalui program magang.

“Pemerintah Kabupaten Nunukan berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan PNN, termasuk dalam pengembangan kurikulum berbasis potensi daerah, program magang di OPD, serta peningkatan peluang penyerapan lulusan,” demikian komitmen yang disampaikan H. Irwan dalam momentum tersebut.

Kerja sama itu diharapkan dapat mempertemukan pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja.

Selain itu, PNN diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil, kompeten, dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah. Dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu faktor penting agar pendidikan vokasi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pada usia keenam, PNN diharapkan terus berkembang menjadi pusat unggulan pendidikan vokasi di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda Nunukan untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing tanpa harus meninggalkan daerah. (adv)




Hujan Deras Tak Bubarkan Warga Nunukan, Tabola Bale Tetap Bikin Massa Bergoyang

NUNUKAN – Hujan deras dan angin kencang tidak cukup kuat membubarkan warga Nunukan dari Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras Perbatasan, Rabu (7/10/2026) malam. Begitu Silet Open Up membawakan Tabola Bale, massa justru bergoyang dan bernyanyi bersama di bawah guyuran hujan.

Penampilan Silet Open Up menjadi salah satu rangkaian hiburan dalam perayaan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan. Lagu Tabola Bale yang tengah populer membuat suasana semakin meriah meski penonton harus menikmati pertunjukan dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Vokalis Silet Open Up, Siprianus Bhuka, tetap melanjutkan penampilannya. Warga yang memenuhi kawasan RTP Paras Perbatasan ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan dari atas panggung.

Hujan bahkan tidak membuat massa beranjak. Antusiasme warga menjadi perhatian Bupati Nunukan H. Irwan Sabri yang turut hadir bersama Wakil Bupati Nunukan Hermanus dan sejumlah pejabat daerah.

Irwan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena kondisi cuaca yang tidak mendukung pelaksanaan acara. “Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Nunukan memohon maaf kepada seluruh masyarakat Nunukan yang hadir di Ruang Terbuka Publik Paras Perbatasan ini dikarenakan cuaca yang sangat kurang mendukung,” ujar Irwan.

Meski begitu, ia mengaku bangga melihat masyarakat tetap bertahan untuk mengikuti rangkaian perayaan HUT Nunukan. “Walaupun di bawah guyuran hujan deras, antusias masyarakat Nunukan tidak surut dan begitu besar untuk ikut memeriahkan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan. Saya sangat berterima kasih dan sangat mengapresiasi,” katanya.

Selain Silet Open Up, malam hiburan tersebut juga menghadirkan Syafiq, jebolan Dangdut Academy 8. Ia membawakan sejumlah lagu yang sebelumnya dinyanyikan saat mengikuti ajang kompetisi tersebut.

Sejumlah pejabat turut menyaksikan pertunjukan, di antaranya Wakil Bupati Nunukan Hermanus, unsur Forkopimda, Pj Sekretaris Daerah Nunukan, para asisten, staf ahli, kepala OPD, pimpinan instansi vertikal, BUMN/BUMD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, serta Konsul Konsulat RI Tawau, Malaysia.

Rangkaian kegiatan malam itu juga diisi pemberian bantuan kepada kelompok UP2K PKK dan kelompok UMKM oleh Ketua TP PKK Nunukan Hj. Andi Annisa Muthia Irwan bersama Wakil Ketua TP PKK Nunukan Susanti Hermanus.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pelaku UMKM agar mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan aktivitas ekonominya. (adv)




Malaria Tak Kenal Batas Negara, Nunukan-Sabah Didorong Bangun Sistem Deteksi Bersama

NUNUKAN — Malaria tak mengenal garis batas negara. Mobilitas warga antara Nunukan dan Sabah, Malaysia, membuat pengendalian penyakit ini membutuhkan sistem deteksi dan respons yang tidak berhenti di masing-masing wilayah.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan kerja Jabatan Kesihatan Negeri Sabah, Malaysia, ke Kabupaten Nunukan, Rabu (7/10). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat VIP Lantai IV Kantor Bupati Nunukan itu membahas penguatan kerja sama kesehatan, khususnya pencegahan dan pengendalian malaria di kawasan perbatasan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan Raden Iwan Kurniawan mengatakan, kedekatan geografis dan tingginya mobilitas masyarakat antara Kalimantan Utara dan Sabah menjadi tantangan tersendiri dalam eliminasi malaria.

“Malaria merupakan penyakit yang tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara,” kata Iwan.

Menurut dia, aktivitas ekonomi, perdagangan, perjalanan, dan hubungan sosial masyarakat perbatasan dapat menjadi jalur perpindahan kasus dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Karena itu, pengendalian malaria tidak cukup dilakukan secara terpisah oleh masing-masing daerah.

Kerja sama lintas batas diperlukan terutama dalam surveilans, penemuan dan pengobatan kasus, pertukaran informasi, pengendalian vektor, serta pencegahan penularan di wilayah yang memiliki risiko tinggi.

“Kalimantan Utara memiliki wilayah perbatasan darat dan laut yang berhubungan langsung dengan Malaysia, khususnya Negeri Sabah. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri dalam pengendalian malaria, namun sekaligus menjadi peluang untuk membangun model kerja sama lintas negara yang lebih baik,” ujarnya.

Iwan berharap, pertemuan tersebut tidak berhenti pada komunikasi antarlembaga, tetapi menghasilkan mekanisme koordinasi yang lebih efektif antara jajaran kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dan Sabah.

Hal ini penting mengingat kasus yang ditemukan di satu wilayah berpotensi berkaitan dengan mobilitas penduduk dari wilayah lain. Pertukaran informasi yang cepat menjadi salah satu kunci agar penanganan dapat dilakukan sebelum penularan meluas.

Kunjungan tersebut dihadiri Dr. Abdul Marsudi Bin Manah bersama rombongan Jabatan Kesihatan Negeri Sabah, Konsul RI Tawau Dino Nurwahyudin, serta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Dr. H. Usman.

Abdul Marsudi mengapresiasi sambutan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi awal untuk memperkuat kembali hubungan dan kerja sama kesehatan antara kedua wilayah.

“Kami amat berbesar hati atas pelayanan yang cukup baik. Saya dan tim mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan dan pelayanan yang diberikan. Kalau ada kesilapan, kami mohon maaf,” tuturnya.

Pertemuan ini selanjutnya diharapkan menghasilkan kesepahaman dan rekomendasi konkret. Terutama terkait bagaimana Nunukan dan Sabah dapat membangun komunikasi serta koordinasi yang lebih cepat dalam mendeteksi, menangani, dan mencegah penyebaran malaria di kawasan perbatasan.

Sebab, bagi wilayah yang masyarakatnya terus bergerak melintasi batas negara, pengendalian penyakit juga membutuhkan respons yang bergerak melampaui batas tersebut. (adv)




Krayan–Malinau Ditarget Tuntas 2028, Jalan Keluar dari Keterisolasian Kembali Dijanjikan

NUNUKAN – Setelah bertahun-tahun menjadi persoalan akses, jalan penghubung Krayan–Malinau kembali mendapat target penyelesaian. Pemerintah menargetkan konektivitas darat yang menghubungkan kawasan perbatasan tersebut dapat dituntaskan pada 2028.

Target itu mengemuka setelah rapat koordinasi di Malinau dan kunjungan Kementerian Pekerjaan Umum ke kawasan Krayan. Tindak lanjut tersebut mencakup pembangunan dua ruas jalan yang membuka konektivitas Krayan dengan Malinau.

Ruas pertama direncanakan dari kawasan Bandara Yuvai Semaring melalui Pa’ Bawan dan Krayan Tengah menuju Malinau. Sementara ruas lainnya dibangun dari arah Malinau menuju Krayan.

Bagi masyarakat Krayan, jalan darat tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur. Selama akses terbatas, mobilitas masyarakat, distribusi kebutuhan pokok, dan pemasaran hasil pertanian serta perkebunan ikut menghadapi kendala biaya dan jarak.

Jika terealisasi, konektivitas darat diharapkan memperpendek jalur menuju pusat pemerintahan dan ekonomi sekaligus menekan biaya logistik. Hasil produksi masyarakat Krayan juga memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar di luar wilayah.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan kawasan perbatasan, khususnya dukungan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan.

“Alhamdulillah, apa yang selama ini kita perjuangkan untuk masyarakat Krayan mulai mendapat tindak lanjut. Dua ruas jalan ini menjadi bagian penting untuk membuka akses Krayan menuju Malinau,” ujar Irwan.

Ia berharap pembangunan berjalan sesuai tahapan sehingga konektivitas Krayan–Malinau dapat benar-benar terwujud pada 2028.

Menurut Irwan, pembangunan jalan akan memberi dampak lebih luas dibanding sekadar menghubungkan dua wilayah. Infrastruktur tersebut dinilai dapat membuka akses ekonomi sekaligus memudahkan masyarakat memperoleh pelayanan pemerintah.

“Kita ingin masyarakat Krayan semakin mudah bergerak, hasil pertanian dan perkebunan semakin mudah dipasarkan, biaya logistik semakin rendah, dan pelayanan pemerintah semakin mudah dijangkau,” katanya.

Pemkab Nunukan selanjutnya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Kementerian Pertahanan, serta kementerian dan lembaga terkait.

Target 2028 kini menjadi tenggat penting bagi Krayan. Sebab, bagi masyarakat di kawasan perbatasan tersebut, jalan tembus menuju Malinau bukan hanya soal mempercepat perjalanan, tetapi juga membuka akses ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap jalur transportasi yang selama ini terbatas.

“Krayan tidak boleh terus berada dalam keterbatasan akses. Kita ingin jalan ini benar-benar hadir dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Irwan. (adv)




SPBUN Pertama Nunukan Beroperasi, Nelayan Dijanjikan BBM Subsidi Lebih Dekat dan Tepat Sasaran

NUNUKAN – Akses bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan di Kabupaten Nunukan mulai dipangkas. Pemerintah Kabupaten Nunukan meresmikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) pertama di wilayah tersebut yang dioperasikan PT Sembakung Harapan Jaya di Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Selasa (6/10/2026).

Kehadiran SPBUN ini diharapkan membuat nelayan lebih mudah memperoleh solar dan Pertalite subsidi tanpa harus menempuh rantai distribusi yang panjang. Selain mendekatkan lokasi pengisian dengan tempat kapal bersandar, fasilitas tersebut ditargetkan memastikan harga, kuota, dan penyaluran BBM subsidi lebih terukur.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri mengatakan, BBM merupakan kebutuhan utama bagi nelayan untuk menjalankan aktivitas melaut.

“SPBU ini bukan sekadar tempat mengisi BBM bagi para nelayan. BBM adalah bagian penting dari kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Mau melaut perlu BBM, mau mencari ikan lebih jauh juga perlu BBM,” ujar bupati pada sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Nunukan R. Iwan Kurniawan saat meresmikan SPBU tersebut.

Menurut dia, akses BBM yang lebih mudah diharapkan dapat membantu nelayan menekan beban operasional sekaligus meningkatkan produktivitas. Hal itu dinilai penting mengingat sebagian masyarakat Nunukan menggantungkan penghasilan pada sektor kelautan dan perikanan.

Namun, pemerintah mengingatkan kemudahan akses tersebut harus dibarengi dengan tata kelola penyaluran subsidi yang ketat. Pengelola diminta memberikan pelayanan secara transparan dan sesuai ketentuan.

“Saya minta agar pelayanan kepada nelayan benar-benar menjadi perhatian dan prioritas yang paling utama. Layani para nelayan dengan baik, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegas Iwan.

Menurut Sekda, keberadaan SPBUN menjadi upaya memutus rantai distribusi BBM yang selama ini menjadi salah satu kendala nelayan.
Dengan fasilitas tersebut, nelayan dapat memperoleh solar dan Pertalite subsidi dengan harga resmi, kuota yang lebih pasti, serta lokasi pengisian yang lebih dekat dengan tempat kapal bersandar.

“Dengan berdirinya SPBUN perdana ini, rantai distribusi BBM yang sebelumnya panjang kini berhasil dipotong,” ungkapnya.

Ia menegaskan, subsidi harus diberikan kepada nelayan yang benar-benar berhak. Nelayan yang kapalnya telah terdata diminta mengurus atau memperbarui surat rekomendasi melalui penyuluh perikanan atau Dinas Perikanan. “Sebab, proses pengurusan surat rekomendasi dilakukan secara cepat, transparan, dan gratis,” tegasnya.

Di sisi lain, pengelola SPBUN diminta memastikan distribusi BBM berjalan akuntabel dan bebas dari praktik penyelewengan. Pengawasan dan pembinaan akan terus dilakukan Dinas Perikanan di lapangan.
Nelayan juga diminta menggunakan BBM subsidi sesuai peruntukannya, yakni untuk mendukung aktivitas penangkapan ikan dan usaha perikanan, bukan untuk kepentingan di luar ketentuan.

Perwakilan PT Sembakung Harapan Jaya Heriyanto mengatakan, SPBUN tersebut dibangun sebagai respons terhadap persoalan yang selama ini dihadapi nelayan, terutama keterbatasan pasokan dan jauhnya akses BBM.
“Bahan bakar adalah urat nadi kehidupan para nelayan untuk turun melaut,” katanya.

Ia memastikan SPBUN akan menyediakan BBM dengan kualitas terjamin, harga resmi, dan pasokan yang stabil. Dengan akses yang lebih mudah, nelayan diharapkan dapat melaut lebih efisien dan meningkatkan hasil tangkapan maupun budidaya rumput laut.
Heriyanto juga meminta manajemen dan petugas SPBUN mengutamakan pelayanan yang ramah, transparan, serta memenuhi standar keselamatan kerja.

Perwakilan PT Pertamina, Ka. SBM Kaltim Kaltara V (4) Fuell Nabila Iman Barika, turut mengapresiasi pengoperasian SPBUN tersebut. Menurutnya, fasilitas ini dapat membantu mengakomodasi kebutuhan BBM para nelayan di Nunukan.

Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap keberadaan SPBUN pertama ini menjadi awal pembangunan fasilitas serupa di wilayah lain. Dengan akses BBM yang lebih mudah dan penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran, sektor perikanan diharapkan mampu tumbuh dan memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian masyarakat pesisir. (adv)




Olahraga Tradisional Buka Sport Festival KORMI Nunukan, Karakter Generasi Muda Jadi Sorotan

NUNUKAN – Permainan tradisional bakiak dan gobak sodor menjadi pembuka Sport Festival Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Nunukan dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan 2026.

Di tengah perkembangan zaman, olahraga tradisional kembali dihadirkan sebagai sarana rekreasi sekaligus upaya membentuk karakter generasi muda.

Lomba olahraga tradisional yang digelar di Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras Perbatasan pada 3–4 Oktober 2026 ini dibuka Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) H. Zainal Arifin Paliwang, didampingi Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, Sabtu (3/10/2026).

Ketua Pelestari Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA) Kabupaten Nunukan Aiyub mengatakan, olahraga tradisional memiliki nilai lebih dari sekadar permainan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan kembali permainan yang tumbuh di tengah masyarakat sekaligus menanamkan nilai kebersamaan kepada generasi muda.

Menurut dia, PORTINA sebagai salah satu induk organisasi olahraga (Inorga) di bawah naungan KORMI Nunukan berkomitmen menjaga keberlangsungan olahraga tradisional sebagai bagian dari olahraga rekreasi masyarakat.

“Olahraga tradisional ini bukan hanya permainan, tetapi juga bisa menjadi media rekreasi yang turut membentuk karakter generasi muda di era saat ini,” ujarnya.

Dua jenis permainan yang diperlombakan dalam kegiatan tersebut adalah bakiak beregu dan asin atau gobak sodor. Keduanya mengandalkan kerja sama, kekompakan, serta strategi antarpemain untuk mencapai kemenangan.

Peserta yang mendaftar berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), organisasi kemasyarakatan hingga perwakilan instansi di Kabupaten Nunukan.

Keterlibatan peserta dari beragam latar belakang tersebut menjadi ruang bagi olahraga tradisional untuk menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, terutama kalangan pelajar.

Namun, upaya pelestarian olahraga tradisional tidak cukup hanya melalui perlombaan dalam momentum perayaan hari jadi daerah.

Keberlanjutan kegiatan dan pengenalan permainan tradisional di lingkungan sekolah maupun komunitas menjadi bagian penting agar permainan tersebut tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi berikutnya.

Sport Festival KORMI Nunukan sendiri melibatkan sembilan Inorga dengan beragam kegiatan olahraga rekreasi yang dijadwalkan mengisi rangkaian perayaan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan.

Selain PORTINA melalui lomba permainan tradisional pada 3–4 Oktober, festival ini juga menghadirkan kompetisi aerobik oleh ASIAFI dan PORSI, Festival Layang-Layang Hias oleh PELANG, serta Kejuaraan Fitness dan Fisik oleh PERBAFI.

Agenda lainnya meliputi Baveti 3 On 3, Kejuaraan Marching Band Nunukan oleh IDCA, Border Airsoft Tournament 3 On 3 oleh FAI, Crossborder Tactical Showdown 2026 oleh INASSOC, serta International Archery Nunukan oleh PERPATRI.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan upaya KORMI Nunukan memperluas ruang partisipasi masyarakat melalui beragam cabang olahraga rekreasi.

Di sisi lain, pelestarian olahraga tradisional menjadi salah satu tantangan agar permainan yang lekat dengan kehidupan masyarakat itu tidak hanya hadir saat perayaan, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi muda. (adv)




HUT ke-27 Nunukan Dibuka dengan Doa Lintas Agama dan Sholawat

NUNUKAN – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan tidak langsung dimulai dengan pesta. Pemerintah Kabupaten Nunukan membuka rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah dan Paras Fest 2026 dengan doa lintas agama dan Nunukan Bersholawat di Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras, Kamis malam (2/10/2026).

Ribuan masyarakat memadati kawasan RTP Paras untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Enam pemuka agama memimpin doa lintas agama sebelum lantunan sholawat menggema melalui penampilan Ustadz Haddad Alwi Assegaf.

Doa bersama itu ditujukan untuk memohon kesehatan, keamanan, kerukunan dan kesejahteraan bagi masyarakat Nunukan. Pesan tersebut sekaligus dikaitkan dengan posisi Nunukan sebagai daerah yang berada di perbatasan dan menjadi salah satu beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri mengatakan, pembukaan perayaan HUT ke-27 sengaja diawali dengan doa dan sholawat. Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas perjalanan Nunukan selama 27 tahun.

“27 tahun Nunukan dijaga Allah SWT tetap aman, rukun dan damai. Maka malam ini kita awali dengan doa dan sholawat. Jika Paras Fest adalah wujud syukur kita atas budaya, maka Bersholawat ini adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta,” kata Irwan.

Ia juga mengajak masyarakat menggunakan momentum tersebut untuk mendoakan para pejuang pemekaran serta para pemimpin Nunukan terdahulu. Doa juga ditujukan agar daerah tersebut terus berkembang dengan masyarakat yang sejahtera, rukun, toleran dan berbudaya.

Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan Nunukan Bersholawat. Ribuan jamaah mengikuti lantunan sholawat yang dibawakan Haddad Alwi Assegaf hingga akhir kegiatan.

Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang yang hadir membuka Paras Fest 2026 mengapresiasi konsep pembukaan yang menggabungkan unsur budaya dan religius.

Menurut Zainal, kegiatan seperti Paras Fest tidak hanya memiliki fungsi hiburan. Festival juga dinilai dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.

“Acara seperti ini tidak hanya menghibur, tapi juga menguatkan iman, menggerakkan UMKM, dan insyaallah menekan inflasi. Dua minggu lalu Kaltara menjadi provinsi dengan inflasi terendah se-Indonesia,” ujarnya.

Pembukaan Paras Fest 2026 ditandai dengan pemukulan gong dan pelepasan kembang api oleh Gubernur Kaltara bersama Bupati Nunukan, Wakil Bupati dan sejumlah tamu undangan.

Setelah seremoni pembukaan, masyarakat tetap memadati RTP Paras untuk mengikuti Nunukan Bersholawat. Rangkaian Paras Fest 2026 menjadi bagian dari perayaan HUT ke-27 Nunukan yang menggabungkan agenda kebudayaan, kegiatan masyarakat dan aktivitas ekonomi lokal. (adv)




Enam Persoalan Perbatasan Nunukan Dibawa ke Menhan, dari Ganti Untung hingga Jalan Krayan

NUNUKAN – Persoalan perbatasan di Kabupaten Nunukan tak hanya menyangkut pengamanan wilayah negara. Penyelesaian hak warga terdampak perubahan garis batas, pemanfaatan lahan bekas wilayah Malaysia, hingga keterbatasan akses jalan di pedalaman juga masih membutuhkan dukungan pemerintah pusat.

Sejumlah persoalan tersebut dibawa Bupati Nunukan H. Irwan Sabri kepada Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungan kerja di Satuan Yonif Teritorial Pembangunan (TP) 881/Baratama Dharma, Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Jumat (2/10/2026).

Dalam pertemuan itu, Irwan menyampaikan enam usulan strategis yang mencakup pembangunan infrastruktur perbatasan, penyelesaian persoalan garis batas negara, pengawasan pekerja migran Indonesia, konektivitas wilayah pedalaman, hingga penataan kawasan latihan tempur TNI Angkatan Darat.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah penyelesaian ganti untung bagi warga Desa Seberang, Kecamatan Sebatik Utara, yang terdampak perubahan garis batas Indonesia–Malaysia. Luas lahan yang masuk dalam usulan tersebut mencapai 4,7 hektare sesuai kesepakatan kedua negara.

Selain itu, Pemkab Nunukan mengusulkan pemanfaatan lahan seluas 127 hektare di Sebatik Barat yang merupakan bekas wilayah Malaysia. Persoalan ini menjadi bagian dari agenda penataan kawasan perbatasan yang memerlukan kejelasan tindak lanjut.

Di wilayah eks Outstanding Boundary Problem (OBP) B2700–B3100, kawasan Sungai Sinapad–Sungai Sesai, Kecamatan Lumbis Hulu, pemerintah daerah juga mengusulkan pembangunan sarana dan prasarana pendukung.

Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menunjang pengamanan wilayah sekaligus aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan.
Pemkab Nunukan turut meminta penyelesaian persoalan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan di wilayah eks OBP Sinapad.

Akses resmi ke Tawau dan pengawasan jalur ilegal

Persoalan perlintasan antarnegara juga masuk dalam enam usulan tersebut. Irwan mendorong percepatan pengoperasian Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik serta pembukaan jalur keluar-masuk resmi atau exit-entry point Sebatik–Tawau, Malaysia.

Keberadaan akses resmi diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi lintas negara. Namun, percepatan pengoperasian PLBN dan pembukaan jalur tersebut masih menjadi agenda yang dimintakan dukungannya kepada pemerintah pusat.

Pada saat yang sama, Pemkab Nunukan mengusulkan penguatan pengawasan jalur tidak resmi untuk mencegah keberangkatan pekerja migran Indonesia secara ilegal. Penanganan deportasi, pelanggaran izin tinggal atau overstay, praktik percaloan, serta tindak pidana perdagangan orang (TPPO) juga menjadi perhatian.

Usulan lainnya berkaitan dengan konektivitas wilayah pedalaman. Irwan meminta dukungan pembangunan jalan yang menghubungkan Long Semamu di Kabupaten Malinau dengan Long Midang di Kecamatan Krayan, Nunukan.

Akses tersebut diharapkan memperlancar distribusi barang, meningkatkan pelayanan publik, serta membuka akses pasar bagi komoditas unggulan Krayan, termasuk beras Adan dan garam gunung.

Dukungan terhadap infrastruktur PLBN Long Midang dan sarana penerbangan di Krayan juga disampaikan sebagai bagian dari kebutuhan konektivitas kawasan perbatasan.

Kawasan latihan tempur mencapai 277.859 hektare

Usulan keenam menyangkut penataan kawasan latihan tempur TNI Angkatan Darat di Kabupaten Nunukan yang direncanakan memiliki luas sekitar 277.859 hektare.

Irwan menekankan pentingnya memperhatikan aspek legalitas lahan, tata ruang, perizinan, status kawasan hutan, serta hak penguasaan lahan masyarakat dan perusahaan dalam penataan kawasan tersebut.

Aspek-aspek itu menjadi penting untuk memastikan rencana penataan kawasan latihan tempur memperhatikan ketentuan hukum dan status penguasaan lahan yang ada.

Secara keseluruhan, enam usulan tersebut memperlihatkan bahwa agenda pembangunan perbatasan Nunukan mencakup persoalan pertahanan sekaligus kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari kepastian hak atas lahan hingga akses transportasi dan kegiatan ekonomi.

Irwan berharap dukungan Kementerian Pertahanan dapat memperkuat pertahanan dan keamanan negara sekaligus mendorong percepatan pembangunan serta penyelesaian persoalan strategis di wilayah perbatasan.

Namun, tindak lanjut atas masing-masing usulan masih menjadi hal penting untuk diperjelas, termasuk tahapan penyelesaian, pembagian kewenangan antarlembaga, dan kepastian waktu pelaksanaannya. (adv)




Hari Kesaktian Pancasila di Nunukan Digelar di Sekolah, Mutu Pendidikan Ikut Disorot

NUNUKAN – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kabupaten Nunukan tahun ini tidak dipusatkan di lingkungan pemerintahan. Pemerintah Kabupaten Nunukan memilih SMP Negeri 1 Nunukan sebagai lokasi upacara, dengan melibatkan 853 siswa dan para guru.

Upacara yang berlangsung di halaman SMPN 1 Nunukan, Jalan Iskandar Muda, Kelurahan Nunukan Tengah, Kamis (1/10/2026), menjadi momentum untuk mengaitkan penguatan nilai Pancasila dengan pembangunan kualitas pendidikan di daerah.

Mewakili Bupati Nunukan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Nunukan Muhammad Amin bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam prosesi tersebut, pembacaan teks Pancasila diikuti seluruh peserta secara serentak.

Usai upacara, Muhammad Amin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Menurut dia, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat kabupaten menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda, terutama melalui lingkungan sekolah.

“Pelaksanaan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat kabupaten ini merupakan wujud komitmen kita bersama dalam menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila, khususnya di satuan pendidikan,” ujarnya.

Ia menyebut, SMPN 1 Nunukan sebagai salah satu sekolah penggerak yang diharapkan mampu mencetak generasi muda berkarakter dan unggul.

Pesan itu kemudian berlanjut pada persoalan yang lebih konkret di sektor pendidikan. Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan Hj. Erlina menegaskan, komitmen pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas mutu dan rapor pendidikan.

Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kolaborasi seluruh tenaga pendidik. Dengan demikian, pendidikan karakter yang digaungkan dalam peringatan Pancasila perlu berjalan beriringan dengan peningkatan capaian pendidikan.

Upacara tersebut turut dihadiri jajaran Pemkab Nunukan, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik, serta pengurus PGRI.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama antara jajaran Pemkab Nunukan, pengurus PGRI, komite sekolah, dan para guru.

Peringatan tahun ini pun tidak berhenti pada pembacaan Pancasila di halaman sekolah. Di tengah momentum tersebut, pemerintah daerah kembali diingatkan pada pekerjaan yang lebih panjang: memastikan nilai karakter yang ditanamkan di sekolah berjalan seiring dengan peningkatan mutu pendidikan. (adv)