Ledakan di SMA 72 : Sebuah Peringatan untuk Pendidikan

Oleh : Muhammad Ghazali Idrus
Guru SMP Negeri 1 Nunukan Selatan

Di balik ledakan bom rakitan di sekolah, ada persoalan yang lebih senyap: perundungan, radikalisme, dan keharusan memahami remaja di era post-truth.

Jumat siang itu, 7 November 2025, suasana di SMA Negeri 72 Kelapa Gading tampak biasa saja. Siswa bersiap untuk salat Jumat di masjid sekolah. Siapa sangka, beberapa menit berikutnya terjadi ledakan keras memecah udara.

Beritanya menyebar dalam hitungan menit. Video amatir bermunculan, Suasana panik, takut, marah dan beragam reaksi mewarnai televisi dan linimasa media sosial. Di antara riuh kerumunan dan serpihan, muncul kabar bahwa pelaku diduga seorang siswa dengan bom yang dirakit sendiri. Polisi menyebut, anak itu adalah korban perundungan.

Seketika pernyataan  ini mengubah wajah tragedi. Ledakan di sekolah bukan hanya soal bahan peledak, tapi juga tentang persoalan kasat mata yang sering kali terabaikan. Ironipun bermula. Di atas kertas, sekolah adalah institusi Pendidikan yang menjanjikan kenyamanan. Di lapangan, ia kadangkala menjelma menjadi ruang persaingan sosial. Guru sibuk dengan administrasi, pelatihan, target kurikulum, dan angka rapor.

Sementara siswa sibuk bertahan dari tekanan agar diterima, agar dianggap cukup, agar tidak menjadi bahan ejekan, oleh orang di sekitarnya. Setiap hari, mereka belajar“menjadi kuat”, seolah menyembunyikan penyakit kronis. Di sela tawa, foto ekskul dan video angkat piala, ada anak-anak yang menahan diri untuk tidak menangis di hingar bingar sekolah. Anak-anak yang perlahan berasumsi bahwa tidak ada tempat yang aman, bahkan di ruang yang seharusnya mendidik mereka menjadi manusia seutuhnya.

Riset UMSIDA (2023) mencatat bahwa korban bullying mengalami dampak psikologis berat: rendah diri, trauma sosial, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan. Namun sistem sekolah di Indonesia jarang menganggap ini sebagai krisis. Bullying dianggap urusan pribadi, atau “konflik antar teman sebaya”. Padahal di balik setiap ejekan dan dorongan di koridor, ada pesan sosial yang menakutkan: “Kamu tidak cukup baik untuk diterima.”

Sistem pendidikan telah mengukur kemampuan afektif, akan tetapi lupa memeliharanya. Kita tahu siapa yang berdoa sebelum belajar, siapa yang mengirim pesan dengan kalimat santun, tapi tak tahu siapa yang menangis diam-diam di belakang gedung, kantin dan kamar-kamar sunyi. Kita tahu siapa yang aktif di OSIS dan ekstrakurikuler lain, tapi tak banyak tahu siapa yang diam karena merasa tak punya teman bercerita. Ketika seorang anak merasa benar-benar sendirian, itu pertanda bahwa sekolah kehilangan fungsi sosialnya.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuh, berubah menjadi ruang asing yang dingin meski penuh dengan suara. Di titik itu, kesepian menjadi lahan subur bagi ide-ide ekstrem. Lahan bagi narasi kebencian, ideologi balas dendam, atau bahkan keinginan untuk “membuktikan diri”. Ruang digital memperparah situasi, ia menawarkan komunitas semu yang menerima tanpa bertanya, memeluk tanpa memahami. Bagi sebagian anak yang tak pernah merasa didengar, dunia maya itu terasa lebih manusiawi daripada ruang kelasnya sendiri.

Sekolah mungkin mengajarkan nilai-nilai moral di atas papan tulis, tapi tidak fokus menciptakan ruang di mana nilai itu hidup. Guru menasihati agar jangan membenci, tapi kadang tidak sadar bahwa tatapan atau candaan bisa memperkuat rasa terasing. Kita membicarakan karakter, tapi jarang membicarakan bagaimana karakter tumbuh dari rasa diterima dan dihargai. Maka ketika korban perundungan mulai kehilangan kepercayaan pada manusia, bukan karena ia lemah, tapi karena lingkungannya lebih sibuk menilai daripada memahami, ledakan emosional dan literalpun tinggal menunggu waktu saja.

Kita terbiasa menganggap radikalisme sebagai hasil dari indoktrinasi ceramah keras, forum rahasia, atau situs propaganda. Hingga tidak menyadari bahwa sebelum itu ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu rasa kehilangan arah dan makna. Seseorang yang merasa hidupnya tak punya tempat, akan mencari makna di tempat lain, dan ideologi ekstrem selalu menawarkan makna terebut melalui kepastian.

Di tengah dunia yang terasa tidak adil, narasi ekstrem menjanjikan peran heroik. Bagi anak yang sehari-hari diabaikan, diremehkan, atau diejek, ideologi itu datang seperti tangan yang mengangkat: “Kau penting. Kau istimewa. Kau pejuang.” Itulah jebakan paling kuat dari paham radikal. Ia bukan sekadar ajaran kebencian, tapi terapi palsu bagi luka sosial yang tak diobati.

Riset dari Pusat Kajian Terorisme BNPT (2022) menunjukkan bahwa mayoritas individu muda yang terpapar paham ekstrem mengalami krisis identitas dan penolakan sosial di masa remajanya. Sebagian bukan datang dari lingkungan religius yang ketat, tapi justru dari latar yang sepi perhatian.

Mereka bukan korban doktrin semata, tapi korban kehilangan rasa memiliki. Dalam konteks sekolah, kesepian yang berlarut-larut bisa berubah menjadi kemarahan. Kemarahan tak lagi tinggal diam di era digital. Media sosial memberi wadah bagi ekspresi ekstrem dari forum anonim, video propaganda, hingga grup tertutup yang menawarkan “kebenaran alternatif.”

Di sinilah dunia post-truth bekerja. Batas antara fakta dan opini kabur, antara kritik dan kebencian meleleh. Satu menit unggahan emosional bisa lebih berpengaruh daripada satu jam pelajaran Pendidikan Pancasila. Kebenaran tak lagi diuji melalui logika, tapi melalui like, share, dan komentar. Di dalam pusaran ini, anak-anak yang terluka mudah tersedot.

Algoritma menjadi cermin yang memperkuat rasa sakit bagi mereka. Semakin sering mereka mencari hal-hal tentang “balas dendam” atau “ketidakadilan”, semakin banyak konten ekstrem yang muncul di linimasa. Sadar atau tidak, internet menciptakan ruang gema (echo chamber) bagi frustrasi yang tak tersalurkan.

Fenomena ini bukan lagi fenomena lokal. Remaja di Jakarta dengan mudah menyerap narasi ekstrem yang sama dengan remaja di Eropa atau Timur Tengah. Mereka mungkin tidak memahami seluruh ideologi di baliknya, tapi mereka memahami tentang kemarahan terhadap dunia yang tidak ingin mendengarnya. Itulah titik berbahaya dalam pendidikan kita. Ketika anak-anak kehilangan kepercayaan pada dunia nyata, dan mulai mencari rumah di dunia virtual yang penuh kebencian.

Dunia tempat anak-anak kita tumbuh hari ini bukan lagi dunia yang sama seperti dua dekade lalu. Mereka hidup di tengah ledakan informasi, di mana setiap orang bisa menjadi penyiar, setiap emosi bisa menjadi berita, dan setiap kebohongan bisa terasa seperti kebenaran asal dikatakan dengan cukup sering. Dunia yang disebut para peneliti sebagai era post-truth. Era ketika kebenaran objektif kalah oleh kekuatan emosi dan opini pribadi. Era dimana fakta harus bersaing dengan narasi yang lebih dramatis, dan logika kalah oleh viralitas.

Banyak remaja yang menganggap algoritma media sosial sebagai penentu realitas. Mereka mengenal dunia melalui potongan video berdurasi 15 detik, potongan opini, dan emosi yang dinarasikan dengan logika mesin. Video yang memancing keterlibatan berupa kemarahan, ketakutan, ataupun kebencian.

Di layar gawai inilah panggung global radikalisme meneriakkan idenya. Narasi ekstrem tidak lagi memerlukan ruang bawah tanah atau kamp pelatihan tertutup. Ia beredar melalui meme, thread, dan shorts yang dikemas dengan visual menarik dan retorika emosional.

Sebuah laporan dari Institute for Strategic Dialogue (2023) menyebutkan bahwa kelompok ekstrem di seluruh dunia kini menggunakan strategi digital berbasis “emosi kolektif”. Mereka menargetkan anak muda yang merasa terasing, kecewa, atau kehilangan arah. Dalam jaringan itu, seorang remaja di Jakarta bisa dengan mudah tersambung dengan akun propaganda di luar negeri yang berbicara dengan nada universal: “Dunia telah rusak, dan hanya kita yang bisa memperbaikinya.”

Ironinya, sistem pendidikan kita lebih banyak mengajarkan siswa cara mencari informasi, tapi belum memberi porsi besar pada cara memverifikasi kebenaran. Kita masih memperlakukan literasi digital seolah itu sekadar kemampuan membuka laptop, bukan kemampuan membaca pola manipulasi emosi. Padahal, seperti ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century, bahwa pertarungan terbesar abad ini bukan antara ideologi, tapi antara kebenaran dan ilusi.

Sekolah yang gagal membekali murid dengan kemampuan berpikir kritis sama saja membiarkan mereka hanyut di lautan ilusi itu. Mereka tahu cara mengunduh aplikasi, tapi tidak tahu cara mengunduh makna. Mereka pandai mengetik opini, tapi tak tahu bagaimana menimbangnya. Dua wajah globalisasipun menampakkan diri. Di satu sisi, ia membuka akses terhadap ilmu dan budaya dunia.

Sementara di sisi lain, ia juga mempercepat penyebaran kemarahan kolektif lintas batas. Sebuah ejekan di forum luar negeri bisa memicu emosi remaja di Indonesia. Sebuah video teori konspirasi yang diunggah di Eropa bisa menyalakan perasaan curiga pada lembaga pendidikan di Asia Tenggara. Sekolah kita berdiri di tengah arus deras informasi yang nyaris tak bisa dikendalikan.

Sementara papan tulis masih berisi rumus dan definisi, dunia di luar sana sudah berganti halaman sepuluh kali sehari. Guru, yang seharusnya menjadi pemandu pengetahuan, kini sering tertinggal oleh arus digital. Bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi karena sistem terlambat menyiapkan mereka untuk menghadapi generasi yang tumbuh dengan algoritma.

Riset UIN Sunan Kalijaga (2022) menunjukkan bahwa sebagian besar guru di Indonesia belum memiliki kemampuan literasi digital yang memadai untuk mendeteksi atau menangkal narasi ekstrem di ruang daring. Sementara itu, siswa justru menghabiskan rata-rata 7–9 jam per hari di dunia maya. Sebuah paradoks yang membuat sekolah kehilangan fungsi kontrol sosialnya. Di ruang-ruang kelas, kita masih memberi porsi banyak pada nilai ujian untuk masa depan, bukan nilai kemanusiaan. Kita masih lebih cepat menegur anak yang tidak mengerjakan PR daripada mendengarkan anak yang mulai kehilangan semangat hidup. Tantangan terbesar pendidikan bukan lagi sekadar transfer of knowledge, melainkan filter of knowledge.

Pendidikan mengajarkan siswa untuk tidak hanya tahu, tapi juga bijak dalam memilih apa yang ia yakini. Pendidikan karakter sering terjebak menjadi ceramah moral yang datar, bukan dialog kemanusiaan yang menggugah. Kita lupa bahwa anak-anak tidak belajar empati dari pemanfaatan digital dan Artificial Intelegent, tapi dari pengalaman diperlakukan sebagai manusia. Mereka tidak akan memahami keberagaman dari lembar kerja peserta didik, tetapi dari ruang aman yang membiarkan mereka berbeda tanpa menerima cemoohan.

Ledakan di SMA 72 Kelapa Gading kelak akan usai diselidiki. Polisi akan menemukan motif, media akan menulis kronologi, dan masyarakat akan berpindah ke isu berikutnya. Namun kita tidak boeh berhenti sampai disitu, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. Sebuah peristiwa harus dipahami  dari ekosistem yang melahirkannya. Di balik setiap tindakan ekstrem ada rangkaian kegagalan kecil yang diabaikan. Guru yang terlalu sibuk mengajar nilai tapi lupa menanyakan kabar, teman yang ikut tertawa saat seseorang dipermalukan, orang tua yang berpikir anaknya baik-baik saja karena nilainya stabil, dan masyarakat yang lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Kita terlalu sering menuduh anak muda “mudah terprovokasi”, padahal mereka hanya mudah kehilangan pegangan di dunia yang tidak memberi ruang untuk salah dan belajar. Pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan siswa pandai, tapi juga manusia yang utuh, yang tahu bagaimana menghadapi rasa sakit tanpa membalas dengan kebencian. Sekolah dkondisikan menjadi ruang yang benar-benar aman, tempat di mana setiap anak merasa diakui, bukan diukur. Ledakan di sekolah itu memang keras. Tapi yang lebih berbahaya adalah ledakan senyap di dalam jiwa anak-anak yang merasa tidak terlihat. Ledakan yang tak terekam kamera, tak viral di media sosial, tapi pelan-pelan menggerogoti masa depan.

Mencegah radikalisme di sekolah tidak cukup dengan menambah jam pelajaran agama atau menempelkan poster toleransi di dinding. Kita perlu menata ulang cara kita mendidik, dari sekadar menanamkan pengetahuan menjadi menumbuhkan kesadaran yang benar kesadaran. Kita harus berani mengakui bahwa literasi digital, empati sosial, dan keadilan emosional adalah bagian dari kurikulum yang tak kalah penting dari matematika atau sains. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang mencetak juara olimpiade, tapi tentang menyelamatkan manusia dari kehancuran dirinya sendiri.




Jembatan Darurat Dibangun, Akses Masyarakat dan Pelajar Sekolah Tapal Batas Kembali Pulih

NUNUKAN – Warga Sebatik Tengah kini bisa lega. Jembatan di RT 14, Desa Sungai Limau, yang putus akibat cuaca buruk, langsung ditangani Badan Penanggulangan Becana Daerah (BPBD) Nunukan.

Jembatan darurat segera dibangun agar warga khusus pelajar dan guru di Sekolah Tapal Batas, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon tetap bisa beraktivitas.

Kepala BPBD Nunukan, Arief Budiman, mengatakan timnya sudah turun ke lokasi dan menyiapkan bahan untuk jembatan darurat. “Saya baru pulang dari lokasi,” ujar Arief saat dihubungi, Sabtu  (8/11/2025).

Jembatan darurat ini akan dibangun dekat jembatan yang rusak. Tujuannya agar warga dan kendaraan bisa lewat.

“Sungainya dangkal, jadi anak sekolah dan warga masih bisa lewat,” jelasnya.

Jembatan darurat ini bisa dilalui motor dan mobil. Selain itu, disiapkan juga jalan alternatif untuk mobil. Lokasinya sekitar 10 meter dari jembatan yang putus. Dengan begini, aktivitas warga diharapkan bisa kembali normal.

“Untuk mobil lewat sungai jalan alternatifnya. Sebab, sungai agak dangkal  jadi mobil masih bisa lewat. kecuali kalau  habis hujan deras,” tutupnya.

Sebelumnya, banjir dan longsor di Sebatik putuskan akses ke MI Darul Furqon. Jembatan runtuh, sekolah libur.

Kepala Sekolah, Adnan Lolo, khawatirkan 57 murid (mayoritas anak TKI Malaysia) dan guru jadi korban. “Sekolah libur sampai jembatan beres,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

23 Kartu Keluarga (KK) sekitar sekolah terisolasi. Warga dan Pamtas Bukit Keramat tunggu alat berat untuk buat jembatan darurat.

Satu rumah warga juga tertimpa longsor. Bantuan dari kecamatan sudah diberikan.
Kepsek harap Pemda segera bangun jembatan permanen. Laporan sudah masuk, warga tunggu aksi cepat. (bed)




Viral di Medsos, Imigrasi Nunukan Bantah Pungli Pemulangan WN Malaysia

NUNUKAN – Viral di Facebook tudingan pungli oleh Imigrasi Nunukan terkait pemulangan 8 WN Malaysia yang masuk ilegal ke Sebatik.

Kepala Seksi (Kasi) Teknologi Informasi Keimigrasian (Tikim) Imigrasi Nunukan, Iwan SE, tegas membantah. “Tidak ada pungli. Jika ada petugas terlibat, akan ditindak tegas,” ujar Iwan dalam jumpa pers yang digelar di Kantor Imigrasi Nunukan, Jumat (7/11/2025).

Bantahan ini sekaligus mengklarifikasi unggahan di medsos yang menyebut adanya tarif hingga Rp 11 juta per orang.

Iwan menjelaskan, ada biaya resmi Rp 194.000 per orang untuk Surat Perakuan Cemas (SPC), atas permintaan Konsulat Malaysia di Pontianak. SPC atau emergency passport  itu serupa dengan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) di Indonesia. “Kita talangi dulu, ada bukti pembayaran,” imbuhnya.

Bahrun, keluarga WN Malaysia yang diamankan, turut membenarkan bahwa Imigrasi tidak meminta bayaran. “Imigrasi tidak ada meminta bayaran. Itu intinya,” singkatnya.

Sebelumnya, 8 WN Malaysia diamankan karena masuk ilegal ke Sebatik pada 20 Oktober 2025. Enam di antaranya dideportasi pada 3 November 2025 sesuai UU Keimigrasian.

Imigrasi Nunukan mengimbau masyarakat cek dan ricek sebelum menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. (bed)




Wabup Nunukan Hermanus Ajak Media ‘Nyalakan Energi Baru’ untuk Nunukan Maju

NUNUKAN – Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, menghadiri acara Media Gathering yang diadakan oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, (Diskominfotik) dan Persandian Nunukan, mempertemukan pemerintah daerah dengan para insan media.

Acara ini berlangsung di ruang serbaguna lantai V Kantor Bupati Nunukan, Kamis (06/11), dan dibuka langsung oleh Wakil Bupati Nunukan Hermanus.

Mewakili pemerintah daerah, Hermanus menekankan peran strategis media massa sebagai mitra pemerintah dalam menyampaikan informasi pembangunan yang aktual, akurat, dan terpercaya kepada masyarakat.

“Melalui kegiatan Media Gathering ini, Pemerintah Kabupaten Nunukan berupaya membangun komunikasi dan kemitraan yang lebih baik dengan media,” ujarnya.

Mengangkat tema “Bersama Media, Menyalakan Energi Baru Menuju Nunukan Maju”, acara ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk membangun semangat kolaborasi antara pemerintah dan media. Tujuannya adalah untuk menyalakan energi positif, membangun optimisme, serta memperkuat komunikasi publik yang transparan dan informatif.

Selain sebagai ajang silaturahmi, media gathering ini juga diharapkan dapat mempererat hubungan emosional antara pemerintah dan media. Ini membuka ruang dialog terbuka, serta menyalakan semangat baru untuk terus berkolaborasi dalam mewujudkan Nunukan yang maju, berdaya saing, dan sejahtera.

Hermanus juga menyampaikan harapannya agar media di Kabupaten Nunukan tidak hanya menyajikan berita yang bombastis, kritis, dan tajam, tetapi juga mengangkat berbagai prestasi dan kemajuan yang telah dicapai oleh pemerintah maupun masyarakat.

“Saya berharap media dapat menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk membangun citra positif Nunukan,” pungkasnya.

Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan media dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Nunukan. (adv)




Dari Lapangan Mako Satgas ke Puncak Juara, Sujau dan Nuri_ga Bersinar di Lembuswana Cup 2025

NUNUKAN – Turnamen Bola Voli Lembuswana Cup 2025 yang digelar di Mako Satgas Pamtas RI–Malaysia Yonkav 13/Satya Lembuswana, resmi ditutup dengan meriah, Rabu (5/11/2025).

Ajang yang berlangsung sejak 26 Oktober ini menjadi saksi bisu persaingan sengit antara puluhan tim dari berbagai penjuru Kabupaten Nunukan, dengan tim Sujau dan Nuri_ga keluar sebagai yang terbaik di kategori putra dan putri.

Komandan Satgas Pamtas RI–Malaysia Yonkav 13/SL, Letkol Kav Ikhsan Maulana Pradana, menyampaikan rasa bangga atas antusiasme peserta dan dukungan penuh dari masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi semangat juang seluruh tim yang telah berpartisipasi. Turnamen ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan HUT TNI ke-80, HUT Kabupaten Nunukan ke-26, serta HUT Satuan Yonkav 13/SL yang ke-11. Semoga ajang ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga wadah yang efektif untuk pembinaan atlet-atlet voli lokal,” ujarnya.

Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, S.E., turut hadir dan memberikan apresiasi atas kesuksesan penyelenggaraan Lembuswana Cup 2025.

“Turnamen ini membuktikan bahwa olahraga memiliki kekuatan untuk mempersatukan masyarakat dan menjadi sarana penting dalam membina bibit-bibit atlet muda. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus digelar setiap tahunnya, sehingga prestasi olahraga di Kabupaten Nunukan dapat terus meningkat,” ungkapnya.

Kemeriahan penutupan turnamen semakin terasa dengan penyerahan piala, sertifikat, dan hadiah uang tunai kepada para pemenang.

Selain aksi-aksi memukau di lapangan, suasana semakin semarak dengan hiburan dan bazar UMKM lokal yang memanjakan para pengunjung hingga malam hari. Sorak sorai penonton yang hadir menambah energi positif saat tim-tim juara menerima penghargaan atas kerja keras mereka.

Kapten Kav Yurika Anggoro Putra, S.Tr. (Han), selaku Ketua Panitia Turnamen, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Lembuswana Cup 2025.

“Kami berharap turnamen ini dapat menjadi agenda rutin yang semakin besar dan meriah di tahun-tahun mendatang. Mari kita terus junjung tinggi semangat sportivitas dan kebersamaan,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya Lembuswana Cup 2025, harapan besar tertanam bahwa dari Kabupaten Nunukan akan lahir atlet-atlet voli berprestasi yang mampu mengharumkan nama daerah, bahkan hingga kancah nasional. (nti)

Berikut adalah daftar lengkap pemenang Lembuswana Cup 2025

Kategori Putra:
– Juara 1: Sujau
– Juara 2: BNI Spartan
​- Juara 3: Bank Kaltimtara
​- Juara Harapan: Es Campur

Kategori Putri:
– Juara 1: Nuri_ga
​- Juara 2: Gatra
​- Juara 3: Kaliber
– Juara Harapan: Blue Diamond




Pembentukan 3 Desa Baru Didukung DPRD

NUNUKAN – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pembentukan tiga desa baru yakni, Ujang Fatimah, Binusan Dalam, dan Tembaring mendapat dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan.

Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh fraksi DPRD atas dukungan dan masukan konstruktif terhadap Ranperda ini. Pembentukan desa baru ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan potensi lokal.

“Pandangan umum yang telah disampaikan mencerminkan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Nunukan dalam mewujudkan regulasi yang selaras dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta berpihak pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat,” ujar Bupati Nunukan Irwan Sabri pada Rapat Paripurna dengan agenda Jawaban Pemda Nunukan atas Pandangan Umum 7 Fraksi DPRD Nunukan dari 3 Raperda Inisiatif, Rabu (5/11/2025).

Pemerintah Kabupaten Nunukan berkomitmen untuk menindaklanjuti seluruh masukan yang telah disampaikan untuk penyempurnaan substansi Raperda ini, agar benar-benar mencerminkan asas keadilan, partisipatif, dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan desa.

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan DPRD, Nunukan siap melangkah maju dengan tiga desa baru yang akan membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi masyarakat.

“Dengan sinergi antara Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Nunukan, diharapkan kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat dapat terus ditingkatkan,” tutupnya. (adv)




Gerbong Mutasi Pejabat Nunukan Bergerak, Kepala OPD Siap-Siap

NUNUKAN – Mutasi jabatan eselon II di Pemkab Nunukan kembali mencuat. Hasil job fit sudah di tangan Bupati Irwan Sabri, sinyalemen pergeseran posisi Kepala OPD semakin kuat.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pembinaan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Nunukan, Sura’i, menyatakan 25 dari 29 pejabat eselon II telah mengikuti job fit di Unhas Makassar. Empat Kepala OPD lainnya tidak memenuhi syarat masa jabatan minimal.

Sura’i menambahkan, mutasi bertujuan mengembangkan kompetensi ASN dan mengisi kekosongan jabatan. Saat ini, 4 OPD dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt), yakni, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Pemadam Kebakaran, Inspektorat, dan Badan Pengelola Perbatasan Daerah.

“Kapan mutasi dilakukan, itu ranah Bupati,” pungkas Sura’i. Keputusan Bupati dinantikan, diharapkan membawa perubahan positif bagi kinerja Pemkab Nunukan.(bed)




Pelantikan PPPK Nunukan Diusahakan Sebelum Pertengahan November, Gaji Aman

NUNUKAN – Kabar baik bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Nunukan. Kepala Badan Kepegawaian dan Pembinaan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Nunukam, Sura’i, memastikan pelantikan diupayakan sebelum 15 November 2025 agar gaji November aman.

“Kita usahakan sebelum tanggal 15 November 2025, agar tidak lewat dari aturan penggajian,” ujar Sura’i kepada media ini saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/11/2025).

Dijelaskan, keterlambatan sebelumnya akibat perbaikan data, kini diatasi. Soal PPPK Kesehatan yang sempat dirotasi ke pedalaman, Sura’i memastikan mereka dikembalikan. “Sudah dikembalikan, formasi aman,” tegasnya.

Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT) jadi dasar gaji, sementara Tanggal Mulai Tugas (TMT) adalah bukti pengesahan statusnya sebagai PPPK. “Jangan sampai keliru,” pesannya.

Ditegaskan, Pemkab Nunukan tidak merumahkan PPPK paruh waktu di 2026. Bupati instruksikan mereka dipertahankan dengan gaji dari belanja barang atau jasa.
“Mereka tetap dipertahankan, SK segera menyusul,” pungkas Sura’i. (bed)




Nunukan Fokus Benahi Layanan Kesehatan, Kemenkeu Turun Tangan

NUNUKAN – Hari pertama menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Nunukan, Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.AP, langsung menerima kunjungan kerja penting dari Kementerian Keuangan di ruang kerjanya, Senin (3/11/2025).

Pertemuan ini membahas perbaikan kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU) Specific Grant untuk layanan dasar kesehatan 2025 dan efektivitas penggunaan dana Treasury Deposit Facility (TDF).

Plt. Sekda Raden Iwan Kurniawan menyambut baik audiensi tersebut. Ia mengatakan, berdasarkan infomasi dari Tim Direktorat Dana Transfer Umum Kemenkeu, kegiatan monitoring dan evaluasi dilaksanakan mulai 3 hingga 4 November 2025 di Kabupaten Nunukan.

“Tujuannya adalah mengumpulkan data, berdiskusi dengan perangkat daerah, serta mengevaluasi efektivitas kebijakan dan penggunaan dana,” ungkap Iwan.

Kegiatan ini melibatkan Tim Kemenkeu, tenaga ahli Program SKALA, serta perwakilan BPKAD, Bapenda, Bappeda Litbang, Dinas Kesehatan, dan Dinas PUPR Nunukan, dengan dukungan daring dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri.

“Kami berkomitmen untuk terus memperbaiki tata kelola dan efektivitas penggunaan dana pusat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Diharapkan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini akan meningkatkan pelayanan kesehatan serta infrastruktur publik di Kabupaten Nunukan. (adv)




Semarak Karnaval Kendaraan Hias dan Parade Drum Band di HUT ke-26 Nunukan

NUNUKAN – Kemeriahan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Nunukan ke-26 terus berlanjut dengan digelarnya lomba karnaval kendaraan hias dan parade street drum band yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Nunukam Sabtu, (1/11/2025).

Sebanyak 34 peserta turut serta dalam kegiatan ini, terdiri dari 19 peserta kendaraan hias dan 15 peserta parade street drum band.

Tidak hanya dari Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan pun mengirimkan perwakilan drum band terbaiknya, yaitu “Gita Swara Hang Tuah” dari SMA Hang Tuah Tarakan, untuk ikut berkompetisi.

Kepala Disbudporapar Nunukan, Abdul Halid, mewakili Bupati Nunukan menyampaikan, kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan antar warga. Ia juga menekankan pentingnya saling mengapresiasi karya dan penampilan dari setiap peserta.

“Mudah-mudahan melalui kegiatan ini dapat menciptakan inspirasi positif bagi pembangunan di masa mendatang, serta semakin mengukuhkan semangat kinerja kita, yaitu disiplin, bersih, produktif, inovatif dan bersinergi,” ujar Abdul Halid.

Acara pelepasan lomba karnaval kendaraan hias dan parade street drum band dilakukan oleh Kepala Disbudporapar Nunukan didampingi oleh Kepala OPD Nunukan.

Rute yang dilalui dimulai dari depan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan menuju Alun-Alun Nunukan, di mana para peserta disambut kembali oleh Kepala Disbudporapar Kabupaten Nunukan beserta Unsur Forkopimda Kabupaten Nunukan serta Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nunukan.

Abdul Halid menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk memelihara budaya lokal, mendorong inovasi terutama di kalangan generasi muda, serta menumbuhkan semangat sportivitas di antara para peserta. “Partisipasi dan kebersamaan adalah hal yang paling utama,” pungkasnya. (adv)