Gara-Gara Kunci, Mekanik Baku Pukul

NUNUKAN – Sebuah insiden mengejutkan mengguncang sebuah bengkel di Nunukan, Kalimantan Utara, pada Selasa (23/9/2025).

Perselisihan antara dua mekanik di salah satu dealer roda dua berujung pada aksi kekerasan, di mana seorang pelaku menggunakan kunci impact untuk melukai korbannya.

Korban, yang diketahui bernama DL (27), mengalami luka di bagian kepala akibat pukulan kunci impact yang dilayangkan oleh rekannya, SAM alias BN (31). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 11.30 WITA di tempat kerja mereka.

Menurut keterangan kepolisian, insiden ini bermula dari teguran terkait penggunaan kunci. DL, yang baru selesai melakukan perbaikan motor, mendengar SAM menyindirnya soal pengembalian kunci. Merasa tidak terima, DL membalas teguran tersebut, yang kemudian memicu adu mulut.

“Jangan ngomong begitu,” ujar DL kepada SAM, seperti yang tertulis dalam laporan kepolisian.

Namun, situasi justru semakin memanas. SAM, dalam keadaan emosi, mencekik DL dan melontarkan tantangan. Tanpa diduga, SAM mengambil kunci impact dan memukulkannya ke kepala bagian belakang DL. Akibatnya, DL mengalami luka sepanjang 2 cm.

Motif di balik aksi kekerasan ini diduga kuat karena adanya permasalahan internal yang sudah lama terpendam antara DL dan SAM. Keduanya diketahui sering terlibat perselisihan dan jarang bertegur sapa. Teguran soal kunci tersebut menjadi puncak dari akumulasi emosi yang selama ini dipendam.

“Korban merasa keberatan dan melaporkan kejadian ini ke Polsek Nunukan untuk ditindaklanjuti,” kata Kasi Humas Polres Nunukann Ipda Sunarwan kepada media ini.

Unit Reskrim Polsek Nunukan bergerak cepat setelah menerima laporan. SAM berhasil diamankan di tempat kerjanya beserta barang bukti berupa baju berlumuran darah dan kunci impact yang digunakan untuk memukul korban.

“Tersangka akan dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan,” tegas Sunarwan.

Kasus ini menjadi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya menjaga komunikasi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan biarkan emosi menguasai diri hingga berujung pada tindakan kekerasan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. (bed)




RKPDes Aji Kuning Disahkan, Prioritaskan Kesehatan hingga Ekonomi Lokal

NUNUKAN – Pemerintah Desa Aji Kuning bersama Badan Permusyawaratan Desa  (BPD) resmi mengesahkan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) 2026 melalui musyawarah yang digelar di Aula Kantor Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Utara, Nunukan, Selasa (30/9/2025).

Kepala Desa Aji Kuning, Syarifuddin, menegaskan, RKPDes ini adalah komitmen untuk pembangunan yang partisipatif dan transparan. “RKPDes 2026 jadi pedoman pembangunan desa setahun ke depan. Semua program disusun berdasarkan musyawarah, usulan masyarakat, dan sinkronisasi dengan prioritas pembangunan daerah maupun nasional,” ujarnya.

Wakil Ketua BPD, Asdar, juga menyampaikan apresiasi kepada tim penyusun RKPDes yang telah bekerja keras. “Dengan pengesahan Perdes RKPDes Aji Kuning Tahun 2026, seluruh program dan kegiatan yang telah direncanakan dapat segera menjadi dasar pelaksanaan pembangunan desa,” tegasnya.

RKPDes 2026 Desa Aji Kuning memuat beberapa prioritas pembangunan, diantaranya, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi lokal, peningkatan infrastruktur, penguatan ketahanan pangan, program peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pemberdayaan kelompok.

Acara diakhiri dengan penandatanganan RKPDes oleh Pimpinan BPD Aji Kuning Asdar dan Kepala Desa Aji Kuning. (bed)




Sebatik Tengah Perdana Salurkan Paket MBG Pelajar, Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui

NUNUKAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program nasional, kini diperluas ke Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Setelah sukses dilaksanakan di Kecamatan Sebatik Timur dan Sebatik Utara sejak Juli lalu, program ini secara resmi menyasar pelajar tingkat PAUD/TK, SD, SMP, serta balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini.

Penyaluran perdana dilaksanakan pada hari Senin, (29/9/2025), dengan menu MBG yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Pendidikan Yatim Sebatik. Dapur SPPG yang berlokasi di Jalan Asnur Dg. Pasau, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, didirikan khusus untuk mengakomodir pelaksanaan MBG di wilayah ini.

Program MBG ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak dan ibu hamil, serta membangun sumber daya manusia yang unggul. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat menurunkan angka stunting dan kemiskinan, serta menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

SPPG di Kecamatan Sebatik Tengah mengakomodir 13 sekolah mulai dari PAUD/TK, SD/MI, hingga SMP. Selain siswa, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui juga menjadi sasaran program ini di empat desa yang meliputi Desa Aji Kuning, Desa Bukit Harapan, Desa Maspul, dan Desa Sungai Limau.

“Tentunya saya selaku orang tua bersyukur ada makan gratis seperti ini. Jadi, jajan anak-anak bisa berkurang juga” aku Asdar, orang tua pelajar kepada media ini.

Ia mengatakan, selain bersyukur apresiasi terhadap program ini wajib dilakukan agar terus berjalan dan memberikan manfaat ke warga. “Bukan hanya pelajar, sebab ibu hamil dan ibu menyusui juga diberikan,” ungkapnya.

Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, dalam pernyataannya saat peluncuran program MBG di Pulau Sebatik, menekankan pentingnya program ini untuk menciptakan generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berkarakter. Beliau juga mengimbau agar anak-anak mengurangi jajan di luar dan menabung uang jajan mereka untuk keperluan yang lebih bermanfaat.

Program MBG diharapkan dapat memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya dalam peningkatan gizi dan penurunan angka stunting, tetapi juga dalam menekan angka kemiskinan serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama melalui partisipasi pelaku usaha makanan di daerah tersebut.

“Program ini sangat penting agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berkarakter. Saya juga mengingatkan agar anak-anak mengurangi jajan di luar supaya uang jajannya bisa ditabung dan digunakan untuk hal-hal lain yang lebih berguna,” ujar H. Irwan Sabri saat itu. (bed)




Warga Nunukan Selatan Terciduk Bawa Sabu di Pelabuhan Feri

NUNUKAN – Geger nih, seorang warga Selisun, Nunukan Selatan, inisial Z (41), ketangkap polisi pas lagi santai keluar dari Pelabuhan Feri Sei Jepun. Tau gak kenapa? Ternyata dia bawa sabu seberat 14,92 gram! Gokil!

Menurut penjelasan dari Kasi Humas Polres Nunukan, Ipda Sunarwan, awalnya tim Satresnarkoba lagi patroli rutin di sekitar pelabuhan. Pas si Z lewat naik motor Scoopy merahnya, langsung di stop buat diperiksa.

“Pas digeledah, eh, nemu empat bungkus plastik kecil isinya sabu, disembunyiin di kotak rokok Sampoerna. Kotaknya ditaruh di saku jaket item yang lagi dipake pelaku,” jelas Ipda Sunarwan dalam rilisnya, hari Sabtu (27/9).

Selain sabu, polisi juga nyita HP Redmi, jaket item merek Diadora, dan motor yang dipake si Z buat beraksi.

Dari hasil pemeriksaan singkat, si Z ngaku kalo sabu itu dia dapet dari seorang kenalan inisial S di daerah Sebatik. Sekarang, polisi lagi ngejar si S buat diinterogasi lebih lanjut.

“Kasus ini lagi kita dalami terus buat ngebongkar jaringan narkoba yang mungkin aja lebih gede dari yang kita kira,” imbuh Ipda Sunarwan.

Sekarang, si Z lagi mendekam di Polres Nunukan buat menjalani proses hukum. Semoga aja kejadian ini bisa jadi pelajaran buat kita semua, dan polisi bisa makin gencar berantas narkoba di Nunukan. (bed)




Lansia Ditemukan Meninggal di Rumahnya Setelah 3 Hari

NUNUKAN – Andi Ismail Amal (75), seorang lansia, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Jalan Patimura, Nunukan Timur, Sabtu (27/9/2025).

Jenazah ditemukan oleh anaknya, Andi Kurniawan Adil (41), yang curiga karena tidak ada jawaban saat berkunjung.

Kasi Humas Polres Nunukan, Ipda Sunarwan, menjelaskan, anak korban mencium bau tak sedap dari dalam rumah dan menemukan ayahnya sudah meninggal dalam kondisi membusuk. Korban diperkirakan telah meninggal sekitar tiga hari.

“Keluarga menolak visum karena korban memiliki riwayat penyakit jantung dan menganggap kematiannya wajar. Jenazah telah dimakamkan di TPU Selisun, Nunukan Selatan,” pungkas Sunarwan saat dihubungi media ini.




Rupiah Melemah, Harga Kebutuhan Pokok di Nunukan Meroket

NUNUKAN – Pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini mendekati level psikologis Rp4.000 per Ringgit Malaysia menghantam keras masyarakat Kabupaten Nunukan. Kondisi ini menyebabkan harga barang kebutuhan pokok, yang mayoritas dipasok dari Tawau, Malaysia, melonjak tajam, menggerus daya beli warga secara signifikan.

Pengamat Ekonomi dari Bersama Institute, Mega, menilai situasi ini sebagai ujian nyata bagi kedaulatan ekonomi bangsa. Menurutnya, pelemahan Rupiah di perbatasan bukan sekadar isu moneter, melainkan barometer yang mengukur kerapuhan struktur ekonomi lokal yang sangat bergantung pada produk impor untuk kebutuhan sehari-hari.

“Ketika harga bahan pokok di wilayah NKRI lebih ditentukan oleh kurs Ringgit ketimbang kebijakan domestik, di situlah kedaulatan ekonomi kita sedang dipertaruhkan,” ujar Mega, Sabtu (27/9/2025).

Ketergantungan ini, lanjutnya, adalah akibat dari efisiensi logistik lintas batas yang membuat produk Malaysia lebih murah dan mudah diakses.

Mega menambahkan, kondisi ini menciptakan paradoks yang merugikan. Nelayan lokal tergiur menjual hasil tangkapan ke Malaysia untuk mendapatkan Ringgit yang lebih kuat. Namun, hal ini justru menyebabkan kelangkaan pasokan dan naiknya harga ikan di pasar Nunukan, sehingga menyulitkan warga setempat.

Sebagai solusi, Mega menekankan bahwa intervensi pemerintah tidak bisa lagi bersifat sementara seperti operasi pasar. “Sudah saatnya mengubah paradigma dari konsumtif menjadi produktif. Pemerintah harus mendorong lahirnya industri pengolahan atau hilirisasi mini berbasis sumber daya lokal seperti perikanan dan perkebunan di Nunukan,” tegasnya.

Menurutnya, hanya dengan membangun kapasitas produksi internal, Nunukan dapat mengurangi ketergantungan dan bahkan membalikkan arus perdagangan. “Tujuannya jelas, mengubah Nunukan dari pasar bagi produk Malaysia menjadi basis produksi yang mampu mengekspor kembali ke negara tetangga,” tutup Mega.




Aji Kuning Gelar Musrenbangdes, Bahas Prioritas Pembangunan Desa 2026

NUNUKAN – Pemerintah Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Aula Gedung Kelembagaan Desa, Jumat (26/9/3025).

Kegiatan yang membahas dan menetapkan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) 2026 serta Daftar Usulan (DU) RKP 2027 tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan seperti, Kasi PMD Kecamatan Sebatik Tengah, perwakilan Kepala Desa (Sekdes), BPD, Pendamping Desa, Bhabinkamtibmas, PPL, Kepala Puskesmas, Kepala Sekolah, Karang Taruna, Kepala Dusun, Ketua RT, Forum Anak, perwakilan kelembagaan desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat.

Forum ini menjadi wadah penting dalam perencanaan pembangunan desa yang partisipatif. Peserta diharapkan aktif membahas dan menyepakati usulan program serta kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang.

Fokus utama meliputi peningkatan infrastruktur desa, penguatan sektor ekonomi lokal, serta pengembangan kapasitas masyarakat. Pembiayaan program-program ini akan diupayakan dari berbagai sumber yang sah dan sesuai ketentuan.

“Melalui pencermatan program-program yang ada di RPJMDes dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, kami menyepakati program-program prioritas yang akan masuk ke dalam RKPDes Tahun Anggaran 2026,” ujar Wakil Ketua Badan Permusyawaran Desa (BPD) Aji Kuning saat dikonfirmasi usai kegiatan tersebut.

Selain membahas RKPDes Tahun 2026, lanjut pria yang akrab disapa Along ini,  dalam forum itu juga membahas DU RKP Desa 2027 yang akan diajukan ke Musrenbang tingkat kecamatan.

“Beberapa usulan prioritas untuk RKP Desa Aji Kuning Tahun 2026 antara lain, rehabilitasi Kantor Desa Aji Kuning, pembangunan dan normalisasi drainase dan peningkatan Jalan Usaha Tani (JUT) serta rehabilitasi Gedung Kelembagaan Desa Aji Kuning,” beber Along.

Sesuai dengan Pasal 1 Permendagri Nomor 114 Tahun 2014, daftar usulan RKP desa merupakan penjabaran dari RPJM desa yang menjadi bagian dari RKP Desa untuk jangka waktu satu tahun. “Usulan ini akan diajukan pemerintah desa kepada pemerintah kabupaten melalui mekanisme perencanaan pembangunan daerah,” jelasnya.

Dikatakan, Musrenbangdes RKP Desa dan DU-RKP Desa di Desa Aji Kuning ini merupakan tahapan krusial dalam siklus perencanaan pembangunan desa. Dengan melibatkan berbagai pihak dan menjunjung tinggi transparansi serta akuntabilitas, diharapkan perencanaan yang dihasilkan akan efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.

“Kami berharap hasil Musrenbangdes ini dapat menjadi acuan dalam mewujudkan pembangunan desa yang lebih maju dan sejahtera,” pungkas ayah 4 anak ini. (***)




Dilema Kewarganegaraan Ganda di Wilayah Perbatasan

DISKUSI : Terlihat narasumber dan peserta yang hadir dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Persatuan Warta Indonesia (PWI) Nunukan di Balai Pertemuan Umum (BPU) Sungai Nyamuk, SebatiknTimur, Kamis (25/9/2025).

NUNUKAN – Pulau Sebatik, yang membentang di perbatasan Indonesia dan Malaysia, kini menjadi sorotan utama terkait isu kewarganegaraan ganda. Fenomena ini menciptakan dilema kompleks yang melibatkan kebutuhan ekonomi mendesak, identitas sosial yang terpecah, serta potensi ancaman terhadap kedaulatan negara.

Bagi sebagian warga Sebatik, kepemilikan kewarganegaraan ganda sering kali dianggap sebagai solusi untuk bertahan hidup. Akses yang lebih mudah ke lapangan kerja dan peluang bisnis di Malaysia menjadi daya tarik utama. Upah yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi di negeri jiran menawarkan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Namun, pilihan ini tentu saja bukannya tanpa risiko hukum dan sosial.

Warga Sebatik yang juga seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan, Andi Mulyono, menegaskan, undang-undang di Indonesia secara jelas melarang kepemilikan dua identitas kewarganegaraan. Ia menyoroti bahwa bahkan kesalahan kecil pada paspor, seperti saat ibadah haji atau umroh, dapat menimbulkan masalah besar di imigrasi.

“Tidak dapat dipungkiri, banyak warga yang secara diam-diam mungkin lebih memilih menjadi warga negara Malaysia karena faktor kesejahteraan hidup. Kebutuhan pokok seperti minyak, beras, dan gula sulit didapatkan di sini. Jadi, sulit menyalahkan pilihan tersebut karena memang tidak ada pilihan lain,” ungkap Andi Mulyono dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nunukan di Sebatik belum lama ini.

Lebih lanjut, Andi Mulyono menjelaskan, pembuktian kepemilikan identitas kewarganegaraan ganda tidaklah mudah. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam menyinkronkan data antara Indonesia dan Malaysia.

Dari sisi administrasi, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Nunukan, Agustinus Palantek, menyatakan, pihaknya tidak memiliki data spesifik terkait warga Sebatik yang teridentifikasi memiliki identitas Malaysia (IC) dan KTP Indonesia.

“Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, kami memproses permohonan masyarakat sesuai dengan berkas yang masuk. Kami tidak turun ke lapangan untuk mengidentifikasi apakah seseorang memiliki IC atau tidak,” jelas Agustinus.

Ia menambahkan, Disdukcapil memproses permohonan jika persyaratan yang diajukan sudah lengkap, berdasarkan kepercayaan terhadap aparat di bawahnya.
“Kami tidak boleh mengintervensi kewenangan mereka. Ketika berkas sampai ke Dukcapil, wajib kami proses,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubsi Lalu Lintas Keimigrasian Kantor Imigrasi Nunukan, Zulfan Adrian Pratama, menegaskan, penentuan status kewarganegaraan adalah isu krusial yang secara tegas diatur oleh undang-undang. Oleh karena itu, Imigrasi memiliki peran vital, terutama dalam kasus deportasi atau penemuan individu yang diduga memiliki kewarganegaraan ganda.

“Jika terbukti seseorang memiliki dua kewarganegaraan, maka salah satu status harus gugur. Apabila individu tersebut ditentukan sebagai warga negara asing, Imigrasi akan melakukan tindakan administrasi keimigrasian berupa deportasi,” tegas Adrian. Ia menambahkan bahwa Imigrasi melakukan verifikasi teliti, termasuk berkoordinasi dengan Konsulat Malaysia jika ada dugaan kepemilikan kewarganegaraan ganda. (***)




Mengukur Kedaulatan Ekonomi di Nunukan Saat Ringgit Menggila

Mega Oktaviany, Ph.D
Ekonom Universitas Gunadarma/Sekretaris Eksekutif Bersama Institute

Nilai tukar mata uang seringkali dilihat sebatas angka di layar monitor para pialang. Namun di Nunukan, beranda terdepan Indonesia, angka tersebut adalah denyut nadi kehidupan. Ketika kurs Ringgit Malaysia (MYR) kembali “menggila” dan menembus level psikologis baru, katakanlah Rp 4.000 per MYR, ini bukan lagi sekadar isu moneter. Ini adalah sebuah barometer brutal yang mengukur seberapa nyata kedaulatan ekonomi kita di perbatasan. Fenomena ini secara telanjang mempertontonkan kerapuhan fondasi ekonomi lokal yang terlalu lama bersandar pada negara tetangga.

Ketergantungan Nunukan pada Malaysia, khususnya kota Tawau, adalah sebuah ironi geografis dan ekonomi. Secara logistik, mengarungi laut selama beberapa jam ke Tawau jauh lebih efisien dan murah daripada menunggu kapal dari Surabaya atau Makassar yang memakan waktu berhari-hari. Akibatnya, etalase toko dan dapur warga Nunukan didominasi oleh produk Malaysia. Mulai dari gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, hingga tabung gas LPG merek Petronas menjadi pemandangan lumrah.

Data dari berbagai laporan lapangan secara konsisten menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen barang kebutuhan pokok dan barang manufaktur di Nunukan berasal dari seberang. Saat Ringgit menguat, efek dominonya terasa instan. Harga satu tabung gas 14 kg yang dibeli seharga 80 MYR, misalnya, ongkosnya melonjak dari Rp304.000 (kurs Rp3.800) menjadi Rp336.000 (kurs Rp4.000). Ini adalah inflasi impor murni yang langsung menggerogoti daya beli masyarakat yang mayoritas berpenghasilan dalam Rupiah. Kedaulatan dipertanyakan ketika mata uang negara tetangga secara langsung mendikte harga sepiring nasi di wilayah kita sendiri.

Tentu, ada narasi lain yang menyebut penguatan Ringgit sebagai berkah. Bagi puluhan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sabah, kiriman uang (remitansi) mereka memang menjadi lebih bernilai. Seorang pekerja yang mengirim 1.500 MYR untuk keluarganya kini memberikan sekitar Rp 6,3 juta, naik signifikan dari sekitar Rp 5,7 juta sebelumnya. Demikian pula bagi para nelayan yang memilih menjual hasil tangkapannya ke Tawau. Mereka menerima pembayaran dalam Ringgit yang lebih kuat, memberikan keuntungan sesaat yang menggiurkan.

Namun, “berkah” ini adalah pedang bermata dua yang justru mengikis kedaulatan ekonomi secara perlahan. Ketika nelayan lebih memilih mengekspor tangkapannya, pasar lokal di Nunukan mengalami kelangkaan pasokan. Akibatnya, harga ikan untuk konsumsi masyarakat setempat justru melambung tinggi. Terjadi sebuah anomali, yaitu wilayah penghasil ikan justru menjual ikan dengan harga mahal kepada warganya sendiri. Ini adalah cerminan dari struktur ekonomi yang berorientasi ke luar, bukan untuk membangun kekuatan internal. Sumber daya alam lokal diekstraksi bukan untuk memperkuat pasar domestik, melainkan untuk mengejar keuntungan dari selisih kurs, yang pada akhirnya membuat ekonomi lokal semakin rentan.

Pemerintah bukannya diam. Berbagai program telah diluncurkan untuk mengatasi anomali ini. Program Tol Laut digagas untuk menekan disparitas harga dengan mengirimkan logistik dari barat Indonesia. Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik dibangun megah sebagai simbol kehadiran negara. Program kemandirian pangan lokal juga terus didorong untuk mengurangi impor.

Namun, implementasinya di lapangan seringkali belum mampu menandingi efisiensi pasar yang sudah terbentuk puluhan tahun dengan Malaysia. Kapal Tol Laut jadwalnya belum konsisten, dan biaya last-mile delivery dari pusat distribusi ke konsumen seringkali masih membuat harga akhir tidak kompetitif dibandingkan barang Malaysia. PLBN yang megah lebih banyak berfungsi sebagai gerbang administratif, belum sepenuhnya menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu membalikkan arah aliran barang. Selama produk lokal lebih mahal dan lebih sulit didapat daripada produk impor dari seberang, maka orientasi pasar akan tetap sama. Kebijakan ini, meski niatnya baik, baru sebatas perisai yang bocor, belum menjadi benteng pertahanan ekonomi yang kokoh.

Pada akhirnya, mengukur kedaulatan ekonomi di Nunukan saat Ringgit menggila bukanlah soal sentimen anti-asing. Ini adalah tentang refleksi diri yang jujur. Kedaulatan sejati tidak hanya diukur dari patok perbatasan atau kehadiran aparat, melainkan dari kemampuan sebuah komunitas untuk mengendalikan nasib dapurnya sendiri. Selama denyut ekonomi Nunukan masih diatur oleh fluktuasi kurs Ringgit, kedaulatan itu masih bersifat semu. Diperlukan sebuah strategi komprehensif yang tidak hanya berfokus pada logistik, tetapi juga pada industrialisasi hilir produk lokal, penguatan akses permodalan, dan penciptaan pasar domestik yang vibrant. Hanya dengan cara itu, ketika Ringgit kembali menggila di masa depan, ekonomi Nunukan tidak lagi ikut terhuyung-huyung.

Penutup ;
Transformasi ekonomi Nunukan secara bertahap dari posisi rentan sebagai pasar konsumen menjadi benteng ekonomi yang berdaulat. Strategi ini dieksekusi dalam tiga fase: (1) Jangka Pendek: Stabilisasi harga dan penguatan nilai Rupiah melalui intervensi logistik (gudang penyangga) dan moneter (QRIS). (2) Jangka Menengah: Pembangunan industri pengolahan lokal berbasis potensi perikanan dan perkebunan untuk substitusi impor. (3) Jangka Panjang: Transformasi total menjadi hub ekspor produk jadi Indonesia ke Malaysia Timur, didukung oleh SDM yang kompeten.

 




Sepuluh Pekan Terima Program MBG, Jajan Pelajar MIS Alkhairaat Sebatik Timur Berkurang

MENIKMATI : Tampak para guru sedang membagikan paket makanan kepada para siswa dalam program MBG untuk dinikmati.

NUNUKAN – Kabar gembira datang dari Nunukan, tepatnya di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Alkhairaat Sebatik Timur. Sejak Juli 2025 lalu, MIS Alkhairaat Sebatik Timur resmi menjadi salah satu penerima program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.

Program ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kesehatan dan gizi peserta didik, khususnya di lingkungan madrasah.

Program MBG yang dicanangkan pemerintah ini telah berjalan selama sepuluh pekan di MIS Alkhairaat Sebatik Timur.

Asdar, salah seorang guru di madrasah tersebut, mengungkapkan rasa syukurnya atas manfaat yang dirasakan oleh para siswa. “Alhamdulillah secara umum berjalan baik dan sangat membantu siswa kami,” ujar pria yang karib disapa Along ini.

Asdar menjelaskan, program MBG sangat bermanfaat bagi siswa di MIS Alkhairaat Sebatik Timur. Dari total 139 siswa, sebagian besar berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Dengan adanya program ini, siswa tidak lagi terbebani biaya bekal maupun uang jajan harian. “Ini sangat membantu, apalagi banyak siswa yang terbentur masalah perbekalan ke sekolah,” jelasnya.

Para siswa dan guru di MIS Alkhairaat Sebatik Timur merasa sangat bersyukur atas pelaksanaan program MBG ini. Mereka menilai bahwa program ini dapat mengurangi pengeluaran siswa yang biasanya membeli makanan di kantin. “Makanannya layak, sehat, ada nasi, lauk, dan buah, jadi sangat seimbang untuk kebutuhan gizi siswa kami,” kata Asdar.

Asdar menambahkan, menu MBG lebih baik dari menu makan siang yang dinikmati siswa selama ini. Menu MBG lengkap dengan nasi, lauk, sayur, dan buah, serta bervariasi dan diawasi oleh ahli gizi dengan terpenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Program MBG ini dilaksanakan setiap hari sekolah, dengan pembagian makanan bergizi berupa menu yang telah disesuaikan oleh ahli gizi. Makanan dibagikan langsung di lingkungan madrasah dengan tetap menjaga kebersihan dan keamanan pangan.

Sebagai Seksi Urusan Kesiswaan di MIS Alkhairaat Sebatik Timur, Asdar menyatakan dukungan penuh terhadap program MBG ini. Menurutnya, program ini menjawab kebutuhan anak dan keluarga untuk memberikan asupan makan yang sesuai dengan standar gizi.

Dengan pelaksanaan yang berjalan baik hingga minggu kesepuluh, program MBG di MIS Alkhairaat Sebatik Timur dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi siswa. Selain menekan beban ekonomi keluarga, program ini juga mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan gizi anak sekolah demi mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Program ini juga menjadi bentuk sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia, khususnya bagi siswa di madrasah.

Selain manfaat bagi siswa dan sekolah, program MBG ini juga memiliki dampak positif terhadap ekonomi kerakyatan. Program ini dapat memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

“Selaku tenaga pendidik dan sekaligus juga sebagai orang tua siswa, saya mengapresiasi program MBG ini. Dan saya merasa bangga dan bersyukur melihat semangat para guru dan peserta didik dalam mengimplementasikan program yang sangat strategis ini,” ujar Asdar.

Dengan adanya program MBG ini, para guru MIS Alkhairaat Sebatik Timur berharap dapat semakin meningkatkan kualitas kesehatan peserta didik serta semangat mereka dalam mengikuti proses pembelajaran. (***)