Masyarakat Nunukan Resah dengan Makelar Emas ? Ini Solusi Jitu dari Pegadaian

NUNUKAN – Masyarakat Kabupaten Nunukan kini dihantui keresahan akibat maraknya praktik makelar emas “nakal”. Para makelar ini diduga memanfaatkan ketidaktahuan warga untuk meraup keuntungan pribadi dengan menekan harga jual emas jauh di bawah pasar.

Banyak warga yang mengaku merugi karena tergiur iming-iming harga tinggi dari makelar emas yang ternyata bodong. Mereka baru menyadari telah ditipu setelah membandingkan harga jual emas mereka dengan harga pasar yang sebenarnya.

Menanggapi keresahan ini, Pemimpin Cabang PT Pegadaian Kantor Cabang Nunukan, Haslinda, mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada makelar emas tanpa identitas dan izin resmi.

“Kami mengimbau masyarakat Nunukan untuk tidak terburu-buru menjual emas kepada pihak yang tak berizin atau tanpa identitas yang jelas. Pastikan terlebih dahulu nilai emas tersebut melalui lembaga yang kredibel dan memiliki keahlian dalam menaksir harga emas,” tegas Haslinda saat ditemui di Kantor PT Pegadaian Cabang Nunukan, Kamis (13/11/2025).

Haslinda menegaskan, PT Pegadaian merupakan lembaga keuangan non-bank yang kompeten dan terpercaya dalam melakukan penaksiran nilai emas. Masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut secara mudah tanpa harus melakukan transaksi di Pegadaian.

“Pegadaian Cabang Nunukan siap membantu masyarakat untuk mengetahui nilai sebenarnya dari emas yang mereka miliki. Layanan ini terbuka bagi siapa pun, dan hasil penaksirannya dapat dijadikan acuan sebelum memutuskan untuk menjual emas atau melakukan transaksi lainnya,” tambahnya.

Dengan adanya imbauan ini, diharapkan masyarakat Nunukan semakin sadar akan pentingnya memahami harga pasar emas sebelum melakukan transaksi.

“Langkah sederhana seperti memeriksa harga emas di Pegadaian dapat mencegah kerugian akibat praktik makelar emas yang tidak bertanggung jawab,” pungkasnya. (bed)




Kurir Narkoba ‘Berkacamata’ Diciduk BNNK, Ada Apa di Balik Badiknya ?

NUNUKAN – Aksi Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Nunukan kembali membuat para pengedar narkoba ketar-ketir. Seorang kurir berinisial H, yang dikenal dengan ciri khas kacamatanya, berhasil ditangkap di Pelabuhan Tunon Taka, Rabu (12/11/2025).

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 250 gram sabu dan sebuah badik yang menimbulkan tanda tanya besar.

Kepala BNNK Nunukan, Anton Suriyadi Siagian SH MH menegaskan,  penangkapan ini adalah bukti bahwa BNNK tidak akan pernah lengah dalam memberantas narkoba di Nunukan.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat yang memberikan informasi kepada kami. Kami sangat berterima kasih atas partisipasi masyarakat dalam memerangi narkoba,” ujar Anton dalam konferensi pers, Kamis (13/11/2025).

Tersangka H mencoba mengelabui petugas dengan menyembunyikan sabu dalam lima bungkus yang dimasukkan ke dalam kotak ponsel. Namun, berkat insting tajam petugas, upaya tersebut berhasil digagalkan. Selain sabu, petugas juga menemukan satu bungkus kecil sabu di dalam kotak rokok, alat isap sabu, uang tunai senilai Rp 1 juta yang diduga sebagai upah, dan sebilah badii yang memicu spekulasi.

“Tersangka mengaku membawa badik untuk melindungi diri. Namun, kami tidak percaya begitu saja. Kami akan menggali lebih dalam, apakah badik ini hanya untuk bela diri atau ada motif lain yang lebih mengerikan,” tegas Anton dengan nada serius.

BNNK Nunukan menyatakan perang terhadap narkoba dan tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi para pengedar. Pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu dan melawan narkoba.

“Narkoba adalah ancaman nyata bagi masa depan Nunukan. Mari kita bergandeng tangan untuk memberantas narkoba sampai ke akarnya,” seru Anton.

Tersangka H dan seluruh barang bukti kini mendekam di sel tahanan BNNK Nunukan. Kasus ini terus dikembangkan untuk membongkar jaringan narkoba yang lebih besar dan mengungkap misteri di balik badik yang dibawa tersangka. (bed)




Drainase Sebatik Timur Dipertanyakan, Saatnya Pemerintah Menegaskan Arah Kebijakan Penanganan Banjir

Oleh:
Andi Yakub, S.Kep., Ns.
Anggota DPRD Kabupaten Nunukan – Dapil Sebatik.

Banjir yang kembali melanda lima kecamatan di Pulau Sebatik pada 11–12 November 2025 menyisakan pertanyaan penting tentang kualitas arah pembangunan di wilayah perbatasan.

Genangan yang merendam sekolah, puskesmas, rumah ibadah, kantor desa, hingga permukiman warga tidak hanya menunjukkan dampak cuaca ekstrem, tetapi juga menyingkap persoalan mendasar. Sistem drainase Sebatik belum dirancang dalam kerangka perencanaan yang benar-benar terpadu.

Di Sebatik Timur, sejumlah drainase dan parit yang baru saja dibangun melalui proyek pusat semestinya memberikan efek pengurangan risiko banjir. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa banjir tetap terjadi dengan intensitas yang signifikan. Ini bukan berarti proyek tersebut salah, melainkan menegaskan bahwa pembangunan fisik tanpa kerangka master plan tidak akan menghasilkan dampak menyeluruh.

Banjir Ini Menunjukkan Perlunya Kebijakan Drainase yang Berbasis Sistem, Bukan Lokasi

Sebatik memiliki dinamika hidrologis yang khas. Air yang turun dari daratan—terutama dari wilayah dengan elevasi lebih tinggi akan bergerak menuju pesisir. Ketika hujan deras bertemu dengan pasang laut, air memerlukan jalur yang benar-benar terencana untuk mengalir keluar. Drainase menjadi instrumen utama, namun hanya efektif apabila:
• kapasitasnya memadai,
• terhubung antar-saluran,
• memiliki titik muara yang jelas,
• dan dirancang dengan memperhitungkan pasang-surut laut.
Tanpa itu semua, banjir akan selalu menjadi tamu tahunan.

Fakta bahwa parit dan saluran baru di Sebatik Timur tidak memberikan perubahan signifikan kepada pola banjir memperlihatkan satu hal: kita membutuhkan penataan kebijakan, bukan sekadar penambahan proyek.

Inilah Saatnya Pemerintah Daerah Menyusun Master Plan Drainase Sebatik

Sebagai wakil rakyat, saya melihat banjir ini bukan sekadar bencana, tetapi momentum politik yang penting. Momentum untuk mengarahkan pembuat kebijakan pada keputusan besar: menyusun Master Plan Drainase Pulau Sebatik. Dokumen ini akan:
• Menyatukan seluruh aliran air daratan dalam satu peta besar,
• Mengatur saluran primer–sekunder–tersier secara terintegrasi,
• Menentukan titik pembuangan yang sesuai dengan karakter pesisir Sebatik,
• Menjadi acuan utama bagi semua proyek pusat dan daerah ke depan.

Dengan master plan, pembangunan drainase tidak lagi bersifat tambal-sulam. Semua proyek akan berjalan dalam satu garis kebijakan yang sama, sehingga setiap rupiah anggaran menjadi lebih efektif dan berdampak.

Sebatik Terlalu Penting Untuk Dibiarkan Dengan Pola Lama

Sebatik adalah beranda NKRI. Wilayah strategis seperti ini memerlukan pembangunan yang terarah dan berpihak kepada kebutuhan warga. Banjir berulang bukan hanya kerugian materil; ia adalah indikator bahwa prioritas kebijakan harus diperbaiki.

Karena itu, saya mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah politik yang berani: beranjak dari pola proyek parsial menuju pembangunan berbasis dokumen perencanaan menyeluruh. Ketika drainase dirancang sebagai sistem, bukan sekadar fisik, maka solusi jangka panjang akan terwujud.

Kebijakan yang Baik Dimulai dari Keberanian Menyusun Arah Baru

Banjir ini tidak boleh dilihat sebagai kejadian biasa. Ia harus menjadi titik balik.
<span;>Drainase Sebatik Timur yang baru dibangun menunjukkan bahwa tanpa kerangka besar, setiap proyek kehilangan daya ungkitnya.

Sebagai wakil rakyat dari Sebatik, saya mendorong pemerintah daerah untuk menegaskan arah kebijakan baru yang lebih sistemik dan berjangka panjang. Karena pembangunan sejati bukan tentang berapa banyak proyek yang kita hadirkan, tetapi seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. (***)

 




Lepas Kontingen Relawan PMI Nunukan ke Temu Karya Tingkat Provinsi, Bupati : “Jaga Nama Baik Daerah dan Tingkatkan Kesiapsiagaan”

NUNUKAN – Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri secara resmi melepas keberangkatan Kontingen Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nunukan untuk mengikuti Temu Karya Relawan PMI Tingkat Provinsi Kalimantan Utara ke-II di Kabupaten Bulungan.

Acara pelepasan berlangsung penuh semangat di ruang kerja Bupati Nunukan, Selasa (11/11/2025).

Sebanyak 35 relawan terbaik dari Kabupaten Nunukan akan berpartisipasi dalam kegiatan yang  diselenggarakan di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan.

Ketua PMI Kabupaten Nunukan, Saddam Husen, S.Sos melaporkan, kegiatan ini akan diisi dengan berbagai pelatihan intensif dan kegiatan peningkatan kapasitas, yang dirancang untuk mengasah keterampilan, mempererat solidaritas, dan meningkatkan kesiapsiagaan para relawan dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan yang mulia.

Sementara Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menyampaikan rasa syukur dan bangga atas semangat juang para relawan PMI Nunukan. Ia menekankan bahwa partisipasi mereka dalam ajang tingkat provinsi ini adalah kesempatan emas untuk mengharumkan nama baik daerah.

“Temu Karya Relawan PMI ini adalah wadah yang sangat berharga untuk belajar, bertukar pengalaman, dan mempererat tali silaturahmi antar relawan dari berbagai daerah. Saya berharap, melalui kegiatan ini, para relawan dapat meningkatkan kemampuan dan memupuk semangat kemanusiaan yang lebih tinggi,” ujar Irwan Sabri dengan penuh harap.

Bupati juga menegaskan bahwa peran PMI sangatlah vital, tidak hanya dalam kegiatan donor darah yang rutin dilaksanakan, tetapi juga dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana, pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat luas, serta berbagai misi kemanusiaan lainnya yang sangat dibutuhkan.

“Bencana alam maupun musibah lainnya bisa datang kapan saja, tanpa bisa kita prediksi. Oleh karena itu, saya berpesan kepada seluruh relawan PMI agar selalu siap siaga, tangguh dalam menghadapi tantangan, dan ikhlas dalam membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan kita,” tegasnya dengan nada penuh semangat.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Nunukan, Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran PMI yang telah bekerja dengan dedikasi dan profesionalisme tinggi. Ia juga berpesan kepada para relawan agar senantiasa menjaga nama baik daerah, menjunjung tinggi disiplin, serta menunjukkan sikap tangguh dan pantang menyerah selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Manfaatkanlah kegiatan ini sebaik mungkin untuk belajar hal-hal baru, memperluas jaringan pertemanan, dan membawa nama baik Kabupaten Nunukan di kancah provinsi. Tunjukkan kepada semua orang bahwa relawan PMI Nunukan adalah relawan yang berdedikasi tinggi, memiliki semangat juang yang membara, dan siap memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” pesan kepala daerah termuda di Kaltara inindengan penuh keyakinan.

Menutup sambutannya, Irwan menyampaikan harapan agar seluruh kegiatan berjalan lancar dan sukses, serta memberikan manfaat yang besar bagi para relawan dan masyarakat Nunukan pada umumnya.

“Semoga para relawan kembali ke Nunukan dengan membawa pengalaman berharga dan prestasi yang membanggakan bagi Kabupaten Nunukan. Kami semua menantikan kabar baik dari kalian!” tutupnya dengan senyum optimis.

Di akhir acara yang penuh kehangatan, Bupati Nunukan menyematkan tanda peserta secara simbolis kepada perwakilan relawan sebagai bentuk dukungan dan semangat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang mengabadikan momen bersejarah ini. (adv)




Ratusan PPPK Tahap 2 Terima SK, Bupati Nunukan Lantik di Tengah Semangat Pembangunan

NUNUKAN –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan akhirnya melantik 251 orang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap 2 di Gedung Olahraga (Gor) Dwikora, Senin (10/11/2025).

Pelantikan ini menjadi momen penting dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) di berbagai sektor pembangunan di wilayah perbatasan.

Pelantikan dilakukan langsung oleh Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, yang didampingi oleh sejumlah pejabat penting Pemkab Nunukan. Suasana haru dan bahagia terpancar dari wajah para PPPK yang resmi menyandang status baru sebagai bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dari total 251 PPPK yang dilantik, komposisinya terdiri dari 64 orang laki-laki dan 167 orang perempuan. Mereka terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu, Tenaga Teknis sebanyk 11 orang, Tenaga Pendidik (Guru) sebanyak 111 orang dan Tenaga Kesehatan (Nakes) sebanyak 129 orang.

Surat BKN Nomor 2933/B-MP. 01. 01/K/SD/2025 tanggal 18 Maret 2025, perihal penetapan nomor induk ASN kebutuhan 2024, serta persetujuan teknis penetapan nomor induk PPPK tahap II formasi 2024 di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nunukan menjadi dasar penyerahan Surat Keputusan (SK) tersebut.

“Atas nama pribadi dan pimpinan daerah, saya ucapkan selamat kepada seluruh PPPK tahap 2 yang akan menerima SK pada hari ini,” ujar Bupati Nunukan H. Irwan Sabri di hadapan ratusan PPPK yang dilantik.

“Kebijakan afirmasi ini lahir sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap keberadaan tenaga perangkat daerah serta meminimalisir kekosongan formasi,” lanjutnya.

Momentum ini diharapkan menjadi langkah awal bagi para PPPK untuk bergabung sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Melalui peraturan ini, diharapkan ada kepastian atas peningkatan kesejahteraan dan status kepegawaian.

“Saya mengajak pada semua pihak untuk bersyukur dan kami tegaskan bahwa pengembangan pendidikan merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan tata kelola sumber daya manusia, pendidikan yang lebih profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik,” lanjut H. Irwan Sabri.

H. Irwan juga menekankan bahwa tidak ada perbedaan antara PNS dan PPPK, semua memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama sesuai dengan penugasannya masing-masing. Peningkatan status ini diharapkan menjadi motivasi untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

PPPK merupakan pegawai ASN yang diberikan tugas untuk melaksanakan pelayanan publik, tugas pemerintahan, dan tugas pembangunan tertentu. Masa hubungan perjanjian kerja ini selama 5 tahun dan akan dievaluasi kinerjanya sebagai bahan pertimbangan untuk perpanjangan masa kerja.

“Oleh karena itu, kami harapkan saudara saudari dapat melaksanakan tugas dengan baik di tempat tugas yang telah ditentukan sesuai dengan surat keputusan bupati yang akan diterima,” ungkapnya. (adv)




Bupati Nunukan Rombak Kabinet, 17 Pejabat Eselon II Dilantik untuk Pacu Pembangunan Perbatasan

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan baru saja melantik 17 ASN eselon II, Senin (10/11/2025). Bupati H. Irwan Sabri tekankan jabatan adalah amanah, bukan hadiah.

“Jalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab,” tegasnya usai pelantikan di kantor Bupati.

Nunukan sebagai garda depan NKRI butuh kerja keras dan inovasi. Pejabat eselon II punya peran sentral dalam memastikan program pembangunan berjalan efektif.

“Saudara harus jadi motor birokrasi yang bersih, melayani, dan berprestasi,” imbuh Bupati.

Pemkab Nunukan dukung penuh program strategis nasional dan implementasi 17 arah perubahan RPJMD. Pejabat diminta fokus tingkatkan pelayanan publik dan berani terobosan.

“Jangan takut berinovasi selama sesuai aturan,” pesan Bupati.

Jabatan adalah tanggung jawab moral dan sosial. Setiap keputusan harus cerminkan kejujuran dan keberpihakan pada masyarakat Nunukan. Pelantikan ini diharapkan membawa perubahan positif bagi pelayanan publik dan pembangunan daerah. (bed)

Daftar Pejabat yang Dimutasi

1. Abdul Halid, ST, MAP
Jabatan Baru: Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman serta Pertanahan (Eselon II.b)

2. Abdul Munir, ST, MAP
​Jabatan Baru: Kepala Dinas Perhubungan (Eselon II.b)

3. Alimuddin, ST, MT
​Jabatan Baru: Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Eselon II.b)

4. Arif Budiman, S.STP, M.Si
Jabatan Baru: Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Eselon II.b)

5. H. Asmar, SE, MAP
​Jabatan Baru: Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Eselon II.b)

6. Drs Safarudin
​Jabatan Baru: Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Eselon II.b)

7. Fitria Irnawati, S.Sos
Jabatan Baru: Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan (Eselon II.b)

8. Juni Mardiansah, AP
Jabatan Baru: Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Eselon II.b)

9. Kaharudin, S.Sos
Jabatan Baru: Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Eselon II.b)

10. Masniadi, S.Hut, M.Si
​Jabatan Baru: Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Eselon II.b)

11. Muhammad Amin, SH
​Jabatan Baru: Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Eselon II.b)

12. Muhtar, SH, M.Si
​Jabatan Baru: Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Eselon II.b)

13. Robby Nahak, S.Sos
<span;>​ Jabatan Baru: Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah

14. Sabri, ST, M.Si
​Jabatan Baru: Kepala Badan Pendapatan Daerah (Eselon II.b)

15. Sirajuddin, S.Sos
​Jabatan Baru: Asisten Administrasi Umum (Eselon II.b)

16. Suhadi, S.Hut, M.Sc
​Jabatan Baru: Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Eselon II.b)

17. H. Surai, S.Sos, M.AP
Jabatan Baru: Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Eselon II.b)

Sumber BKPSDM Nunukan.




Semangat Kebersamaan Warnai Pembukaan MTQ ke-XX di Sebatik Barat, Nunukan

NUNUKAN – Dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan, Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.AP., secara resmi membuka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XX tingkat Kecamatan Sebatik Barat.

Acara pembukaan yang berlangsung di halaman Sekolah SDN 006 Desa Persimpangan Tembaring pada Jumat (07/11) ini, menjadi momentum penting dalam meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di kalangan masyarakat.

MTQ kali ini mengusung tema “Kita Tingkatkan SDM yang Cerdas, Sehat, Berkarakter, untuk Menciptakan Tata Kehidupan yang Harmonis Dengan Menjaga Budaya dan Kearifan Lokal”.

Tema ini diharapkan dapat menjadi semangat bagi seluruh peserta dan masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan keagamaan tahunan ini diikuti oleh kafilah dari seluruh desa di Kecamatan Sebatik Barat. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya pawai taaruf serta lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menyejukkan suasana.

Dalam sambutannya, Iwan Kurniawan menyampaikan bahwa MTQ adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Ia berharap melalui MTQ, Al-Qur’an bisa semakin membumi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Muslim.

“MTQ jangan hanya dijadikan ajang untuk mencari qori-qoriah dan hafid-hafidzah terbaik, namun lebih dari itu, MTQ harus menjadi sarana bagi umat, terutama bagi generasi muda untuk kembali membaca, menghafal, dan memahami isi kandungan Al-Qur’an, serta yang paling penting mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Iwan.

Iwan juga menambahkan bahwa Al-Qur’an telah mengungkap berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari kedokteran, geologi, perdagangan, hingga antariksa. Hal ini membuktikan bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini selaras dengan apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Di akhir sambutannya, Iwan meminta kepada 46 dewan hakim yang telah dilantik untuk memberikan penilaian yang adil dan jujur kepada seluruh peserta.

Acara pembukaan MTQ ke-XX ini ditandai dengan pemukulan drum oleh Plt Sekda yang didampingi oleh Forkopimcam, Camat Sebatik Barat, Anggota DPRD Kabupaten Nunukan, Ketua PLTQ Sebatik Barat, serta para kepala desa se-Kecamatan Sebatik Barat.

Ketua panitia penyelenggara melaporkan bahwa MTQ ke-XX ini akan berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 7 November hingga 9 November 2025. Sebanyak 154 peserta yang terdiri dari 68 laki-laki dan 86 perempuan dari 5 desa akan berkompetisi dalam berbagai cabang lomba.

Tujuan pelaksanaan MTQ ini adalah sebagai wahana pengembangan syariat Islam di tengah masyarakat, serta sebagai sarana silaturahim dan persatuan umat Islam khususnya di wilayah Kecamatan Sebatik Barat.

Semoga pelaksanaan MTQ ke-XX ini dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi seluruh masyarakat Sebatik Barat. (adv)




Bupati Nunukan Hadiri Pembukaan Turnamen Sepakbola Mini U-50 di Tanjung Selor, Kaltara

TANJUNG SELOR – Bupati Nunukan turut hadir dalam acara pembukaan Turnamen Sepakbola Mini U-50 Tahun 2025 yang berlangsung meriah di Lapangan Sepakbola Mini Aryaguna Km. 8 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, pada Jumat (07/11/2025).

Turnamen ini menjadi ajang silaturahmi dan peningkatan semangat olahraga di kalangan masyarakat Kalimantan Utara.

Acara yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 9 November 2025 ini, dibuka secara resmi oleh Ketua Umum KSMI Pusat, Dr. Ir. Yan Mulia Abidin, yang diwakili oleh Wakil Ketua II Pusat, Brigjen (Purn) Purwadi.

Pertandingan pembuka turnamen menyajikan laga sengit antara tuan rumah Kaltara melawan Sultra, yang berakhir dengan skor 4-0 untuk kemenangan Kaltara.

Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat meningkatkan semangat olahraga dan mempererat tali silaturahmi antar masyarakat di Provinsi Kalimantan Utara.

“Kami siap membantu setiap langkah strategis KSMI agar olahraga ini semakin dikenal dan digemari masyarakat luas,” tegasnya saat ditemui di lokasi acara.

Brigjen (Purn) Purwadi, dalam sambutannya mewakili Ketua Umum KSMI Pusat, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya turnamen ini, yang diawali dengan pelantikan pengurus KSMI Provinsi Kalimantan Utara.

“Ini juga yang baru pertama dari jajaran Pemprov seluruh Indonesia ada 26, Kaltara dilantik yang pertama,” ungkap Purwadi.

Purwadi juga mengumumkan bahwa dalam waktu dekat, tepatnya pada tanggal 22 hingga 28 November, akan dilaksanakan Liga Nusantara di Kota Surabaya. Selain itu, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah Piala Asia dan Piala Dunia Mini Football pada bulan September mendatang.

“Meskipun kita baru dilantik, baru bulan Oktober kemarin kita bergerak cepat karena memang komunitas mini football itu sudah cukup banyak, dan diharapkan ada atlet-atlet mewakili Indonesia nanti pada saat liga Nusantara yang diadakan di Surabaya kita akan cari atlet-atlet untuk persiapan Piala Asia,” tambahnya.

Purwadi berharap atlet-atlet Kaltara dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya dan berkesempatan mewakili Indonesia di ajang internasional.

Di akhir pidatonya, Purwadi mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kalimantan Utara atas dukungan dan fasilitas yang diberikan sehingga turnamen ini dapat terselenggara dengan baik.

“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Kalimantan Utara yang kebetulan sebagai Ketua KSMI Provinsi Kalimantan Utara yang telah memfasilitasi Turnamen pada malam hari ini, semoga acara ini berjalan dengan baik dan lancar, dan menjadi hiburan bagi masyarakat Kalimantan Utara,” ujarnya. (adv)




Ledakan di SMA 72 : Sebuah Peringatan untuk Pendidikan

Oleh : Muhammad Ghazali Idrus
Guru SMP Negeri 1 Nunukan Selatan

Di balik ledakan bom rakitan di sekolah, ada persoalan yang lebih senyap: perundungan, radikalisme, dan keharusan memahami remaja di era post-truth.

Jumat siang itu, 7 November 2025, suasana di SMA Negeri 72 Kelapa Gading tampak biasa saja. Siswa bersiap untuk salat Jumat di masjid sekolah. Siapa sangka, beberapa menit berikutnya terjadi ledakan keras memecah udara.

Beritanya menyebar dalam hitungan menit. Video amatir bermunculan, Suasana panik, takut, marah dan beragam reaksi mewarnai televisi dan linimasa media sosial. Di antara riuh kerumunan dan serpihan, muncul kabar bahwa pelaku diduga seorang siswa dengan bom yang dirakit sendiri. Polisi menyebut, anak itu adalah korban perundungan.

Seketika pernyataan  ini mengubah wajah tragedi. Ledakan di sekolah bukan hanya soal bahan peledak, tapi juga tentang persoalan kasat mata yang sering kali terabaikan. Ironipun bermula. Di atas kertas, sekolah adalah institusi Pendidikan yang menjanjikan kenyamanan. Di lapangan, ia kadangkala menjelma menjadi ruang persaingan sosial. Guru sibuk dengan administrasi, pelatihan, target kurikulum, dan angka rapor.

Sementara siswa sibuk bertahan dari tekanan agar diterima, agar dianggap cukup, agar tidak menjadi bahan ejekan, oleh orang di sekitarnya. Setiap hari, mereka belajar“menjadi kuat”, seolah menyembunyikan penyakit kronis. Di sela tawa, foto ekskul dan video angkat piala, ada anak-anak yang menahan diri untuk tidak menangis di hingar bingar sekolah. Anak-anak yang perlahan berasumsi bahwa tidak ada tempat yang aman, bahkan di ruang yang seharusnya mendidik mereka menjadi manusia seutuhnya.

Riset UMSIDA (2023) mencatat bahwa korban bullying mengalami dampak psikologis berat: rendah diri, trauma sosial, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan. Namun sistem sekolah di Indonesia jarang menganggap ini sebagai krisis. Bullying dianggap urusan pribadi, atau “konflik antar teman sebaya”. Padahal di balik setiap ejekan dan dorongan di koridor, ada pesan sosial yang menakutkan: “Kamu tidak cukup baik untuk diterima.”

Sistem pendidikan telah mengukur kemampuan afektif, akan tetapi lupa memeliharanya. Kita tahu siapa yang berdoa sebelum belajar, siapa yang mengirim pesan dengan kalimat santun, tapi tak tahu siapa yang menangis diam-diam di belakang gedung, kantin dan kamar-kamar sunyi. Kita tahu siapa yang aktif di OSIS dan ekstrakurikuler lain, tapi tak banyak tahu siapa yang diam karena merasa tak punya teman bercerita. Ketika seorang anak merasa benar-benar sendirian, itu pertanda bahwa sekolah kehilangan fungsi sosialnya.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuh, berubah menjadi ruang asing yang dingin meski penuh dengan suara. Di titik itu, kesepian menjadi lahan subur bagi ide-ide ekstrem. Lahan bagi narasi kebencian, ideologi balas dendam, atau bahkan keinginan untuk “membuktikan diri”. Ruang digital memperparah situasi, ia menawarkan komunitas semu yang menerima tanpa bertanya, memeluk tanpa memahami. Bagi sebagian anak yang tak pernah merasa didengar, dunia maya itu terasa lebih manusiawi daripada ruang kelasnya sendiri.

Sekolah mungkin mengajarkan nilai-nilai moral di atas papan tulis, tapi tidak fokus menciptakan ruang di mana nilai itu hidup. Guru menasihati agar jangan membenci, tapi kadang tidak sadar bahwa tatapan atau candaan bisa memperkuat rasa terasing. Kita membicarakan karakter, tapi jarang membicarakan bagaimana karakter tumbuh dari rasa diterima dan dihargai. Maka ketika korban perundungan mulai kehilangan kepercayaan pada manusia, bukan karena ia lemah, tapi karena lingkungannya lebih sibuk menilai daripada memahami, ledakan emosional dan literalpun tinggal menunggu waktu saja.

Kita terbiasa menganggap radikalisme sebagai hasil dari indoktrinasi ceramah keras, forum rahasia, atau situs propaganda. Hingga tidak menyadari bahwa sebelum itu ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu rasa kehilangan arah dan makna. Seseorang yang merasa hidupnya tak punya tempat, akan mencari makna di tempat lain, dan ideologi ekstrem selalu menawarkan makna terebut melalui kepastian.

Di tengah dunia yang terasa tidak adil, narasi ekstrem menjanjikan peran heroik. Bagi anak yang sehari-hari diabaikan, diremehkan, atau diejek, ideologi itu datang seperti tangan yang mengangkat: “Kau penting. Kau istimewa. Kau pejuang.” Itulah jebakan paling kuat dari paham radikal. Ia bukan sekadar ajaran kebencian, tapi terapi palsu bagi luka sosial yang tak diobati.

Riset dari Pusat Kajian Terorisme BNPT (2022) menunjukkan bahwa mayoritas individu muda yang terpapar paham ekstrem mengalami krisis identitas dan penolakan sosial di masa remajanya. Sebagian bukan datang dari lingkungan religius yang ketat, tapi justru dari latar yang sepi perhatian.

Mereka bukan korban doktrin semata, tapi korban kehilangan rasa memiliki. Dalam konteks sekolah, kesepian yang berlarut-larut bisa berubah menjadi kemarahan. Kemarahan tak lagi tinggal diam di era digital. Media sosial memberi wadah bagi ekspresi ekstrem dari forum anonim, video propaganda, hingga grup tertutup yang menawarkan “kebenaran alternatif.”

Di sinilah dunia post-truth bekerja. Batas antara fakta dan opini kabur, antara kritik dan kebencian meleleh. Satu menit unggahan emosional bisa lebih berpengaruh daripada satu jam pelajaran Pendidikan Pancasila. Kebenaran tak lagi diuji melalui logika, tapi melalui like, share, dan komentar. Di dalam pusaran ini, anak-anak yang terluka mudah tersedot.

Algoritma menjadi cermin yang memperkuat rasa sakit bagi mereka. Semakin sering mereka mencari hal-hal tentang “balas dendam” atau “ketidakadilan”, semakin banyak konten ekstrem yang muncul di linimasa. Sadar atau tidak, internet menciptakan ruang gema (echo chamber) bagi frustrasi yang tak tersalurkan.

Fenomena ini bukan lagi fenomena lokal. Remaja di Jakarta dengan mudah menyerap narasi ekstrem yang sama dengan remaja di Eropa atau Timur Tengah. Mereka mungkin tidak memahami seluruh ideologi di baliknya, tapi mereka memahami tentang kemarahan terhadap dunia yang tidak ingin mendengarnya. Itulah titik berbahaya dalam pendidikan kita. Ketika anak-anak kehilangan kepercayaan pada dunia nyata, dan mulai mencari rumah di dunia virtual yang penuh kebencian.

Dunia tempat anak-anak kita tumbuh hari ini bukan lagi dunia yang sama seperti dua dekade lalu. Mereka hidup di tengah ledakan informasi, di mana setiap orang bisa menjadi penyiar, setiap emosi bisa menjadi berita, dan setiap kebohongan bisa terasa seperti kebenaran asal dikatakan dengan cukup sering. Dunia yang disebut para peneliti sebagai era post-truth. Era ketika kebenaran objektif kalah oleh kekuatan emosi dan opini pribadi. Era dimana fakta harus bersaing dengan narasi yang lebih dramatis, dan logika kalah oleh viralitas.

Banyak remaja yang menganggap algoritma media sosial sebagai penentu realitas. Mereka mengenal dunia melalui potongan video berdurasi 15 detik, potongan opini, dan emosi yang dinarasikan dengan logika mesin. Video yang memancing keterlibatan berupa kemarahan, ketakutan, ataupun kebencian.

Di layar gawai inilah panggung global radikalisme meneriakkan idenya. Narasi ekstrem tidak lagi memerlukan ruang bawah tanah atau kamp pelatihan tertutup. Ia beredar melalui meme, thread, dan shorts yang dikemas dengan visual menarik dan retorika emosional.

Sebuah laporan dari Institute for Strategic Dialogue (2023) menyebutkan bahwa kelompok ekstrem di seluruh dunia kini menggunakan strategi digital berbasis “emosi kolektif”. Mereka menargetkan anak muda yang merasa terasing, kecewa, atau kehilangan arah. Dalam jaringan itu, seorang remaja di Jakarta bisa dengan mudah tersambung dengan akun propaganda di luar negeri yang berbicara dengan nada universal: “Dunia telah rusak, dan hanya kita yang bisa memperbaikinya.”

Ironinya, sistem pendidikan kita lebih banyak mengajarkan siswa cara mencari informasi, tapi belum memberi porsi besar pada cara memverifikasi kebenaran. Kita masih memperlakukan literasi digital seolah itu sekadar kemampuan membuka laptop, bukan kemampuan membaca pola manipulasi emosi. Padahal, seperti ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century, bahwa pertarungan terbesar abad ini bukan antara ideologi, tapi antara kebenaran dan ilusi.

Sekolah yang gagal membekali murid dengan kemampuan berpikir kritis sama saja membiarkan mereka hanyut di lautan ilusi itu. Mereka tahu cara mengunduh aplikasi, tapi tidak tahu cara mengunduh makna. Mereka pandai mengetik opini, tapi tak tahu bagaimana menimbangnya. Dua wajah globalisasipun menampakkan diri. Di satu sisi, ia membuka akses terhadap ilmu dan budaya dunia.

Sementara di sisi lain, ia juga mempercepat penyebaran kemarahan kolektif lintas batas. Sebuah ejekan di forum luar negeri bisa memicu emosi remaja di Indonesia. Sebuah video teori konspirasi yang diunggah di Eropa bisa menyalakan perasaan curiga pada lembaga pendidikan di Asia Tenggara. Sekolah kita berdiri di tengah arus deras informasi yang nyaris tak bisa dikendalikan.

Sementara papan tulis masih berisi rumus dan definisi, dunia di luar sana sudah berganti halaman sepuluh kali sehari. Guru, yang seharusnya menjadi pemandu pengetahuan, kini sering tertinggal oleh arus digital. Bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi karena sistem terlambat menyiapkan mereka untuk menghadapi generasi yang tumbuh dengan algoritma.

Riset UIN Sunan Kalijaga (2022) menunjukkan bahwa sebagian besar guru di Indonesia belum memiliki kemampuan literasi digital yang memadai untuk mendeteksi atau menangkal narasi ekstrem di ruang daring. Sementara itu, siswa justru menghabiskan rata-rata 7–9 jam per hari di dunia maya. Sebuah paradoks yang membuat sekolah kehilangan fungsi kontrol sosialnya. Di ruang-ruang kelas, kita masih memberi porsi banyak pada nilai ujian untuk masa depan, bukan nilai kemanusiaan. Kita masih lebih cepat menegur anak yang tidak mengerjakan PR daripada mendengarkan anak yang mulai kehilangan semangat hidup. Tantangan terbesar pendidikan bukan lagi sekadar transfer of knowledge, melainkan filter of knowledge.

Pendidikan mengajarkan siswa untuk tidak hanya tahu, tapi juga bijak dalam memilih apa yang ia yakini. Pendidikan karakter sering terjebak menjadi ceramah moral yang datar, bukan dialog kemanusiaan yang menggugah. Kita lupa bahwa anak-anak tidak belajar empati dari pemanfaatan digital dan Artificial Intelegent, tapi dari pengalaman diperlakukan sebagai manusia. Mereka tidak akan memahami keberagaman dari lembar kerja peserta didik, tetapi dari ruang aman yang membiarkan mereka berbeda tanpa menerima cemoohan.

Ledakan di SMA 72 Kelapa Gading kelak akan usai diselidiki. Polisi akan menemukan motif, media akan menulis kronologi, dan masyarakat akan berpindah ke isu berikutnya. Namun kita tidak boeh berhenti sampai disitu, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. Sebuah peristiwa harus dipahami  dari ekosistem yang melahirkannya. Di balik setiap tindakan ekstrem ada rangkaian kegagalan kecil yang diabaikan. Guru yang terlalu sibuk mengajar nilai tapi lupa menanyakan kabar, teman yang ikut tertawa saat seseorang dipermalukan, orang tua yang berpikir anaknya baik-baik saja karena nilainya stabil, dan masyarakat yang lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Kita terlalu sering menuduh anak muda “mudah terprovokasi”, padahal mereka hanya mudah kehilangan pegangan di dunia yang tidak memberi ruang untuk salah dan belajar. Pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan siswa pandai, tapi juga manusia yang utuh, yang tahu bagaimana menghadapi rasa sakit tanpa membalas dengan kebencian. Sekolah dkondisikan menjadi ruang yang benar-benar aman, tempat di mana setiap anak merasa diakui, bukan diukur. Ledakan di sekolah itu memang keras. Tapi yang lebih berbahaya adalah ledakan senyap di dalam jiwa anak-anak yang merasa tidak terlihat. Ledakan yang tak terekam kamera, tak viral di media sosial, tapi pelan-pelan menggerogoti masa depan.

Mencegah radikalisme di sekolah tidak cukup dengan menambah jam pelajaran agama atau menempelkan poster toleransi di dinding. Kita perlu menata ulang cara kita mendidik, dari sekadar menanamkan pengetahuan menjadi menumbuhkan kesadaran yang benar kesadaran. Kita harus berani mengakui bahwa literasi digital, empati sosial, dan keadilan emosional adalah bagian dari kurikulum yang tak kalah penting dari matematika atau sains. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang mencetak juara olimpiade, tapi tentang menyelamatkan manusia dari kehancuran dirinya sendiri.




Jembatan Darurat Dibangun, Akses Masyarakat dan Pelajar Sekolah Tapal Batas Kembali Pulih

NUNUKAN – Warga Sebatik Tengah kini bisa lega. Jembatan di RT 14, Desa Sungai Limau, yang putus akibat cuaca buruk, langsung ditangani Badan Penanggulangan Becana Daerah (BPBD) Nunukan.

Jembatan darurat segera dibangun agar warga khusus pelajar dan guru di Sekolah Tapal Batas, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon tetap bisa beraktivitas.

Kepala BPBD Nunukan, Arief Budiman, mengatakan timnya sudah turun ke lokasi dan menyiapkan bahan untuk jembatan darurat. “Saya baru pulang dari lokasi,” ujar Arief saat dihubungi, Sabtu  (8/11/2025).

Jembatan darurat ini akan dibangun dekat jembatan yang rusak. Tujuannya agar warga dan kendaraan bisa lewat.

“Sungainya dangkal, jadi anak sekolah dan warga masih bisa lewat,” jelasnya.

Jembatan darurat ini bisa dilalui motor dan mobil. Selain itu, disiapkan juga jalan alternatif untuk mobil. Lokasinya sekitar 10 meter dari jembatan yang putus. Dengan begini, aktivitas warga diharapkan bisa kembali normal.

“Untuk mobil lewat sungai jalan alternatifnya. Sebab, sungai agak dangkal  jadi mobil masih bisa lewat. kecuali kalau  habis hujan deras,” tutupnya.

Sebelumnya, banjir dan longsor di Sebatik putuskan akses ke MI Darul Furqon. Jembatan runtuh, sekolah libur.

Kepala Sekolah, Adnan Lolo, khawatirkan 57 murid (mayoritas anak TKI Malaysia) dan guru jadi korban. “Sekolah libur sampai jembatan beres,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

23 Kartu Keluarga (KK) sekitar sekolah terisolasi. Warga dan Pamtas Bukit Keramat tunggu alat berat untuk buat jembatan darurat.

Satu rumah warga juga tertimpa longsor. Bantuan dari kecamatan sudah diberikan.
Kepsek harap Pemda segera bangun jembatan permanen. Laporan sudah masuk, warga tunggu aksi cepat. (bed)