Rismanto Serap Aspirasi Warga Tanjung Harapan, Pembangunan Masjid dan Jembatan Ditargetkan Juni 2026

NUNUKAN – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Rismanto kembali turun menyapa warga dalam kegiatan reses di Jalan Yos Sudarso RT 11 dan RT 12, Kelurahan Tanjung Harapan, Minggu (22/2/2026).

Dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka, berbagai aspirasi mencuat, mulai dari pembangunan sarana ibadah, perbaikan jembatan, hingga kebutuhan fasilitas pendidikan keagamaan bagi anak-anak.

Kegiatan reses tersebut menjadi ruang interaksi langsung antara wakil rakyat dan masyarakat. Warga memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan kebutuhan prioritas di lingkungan mereka.

Tokoh masyarakat setempat, Habir, mengapresiasi konsistensi Rismanto yang dinilai rutin turun langsung ke lapangan.

“Kami berterima kasih karena Pak Rismanto tidak pernah bosan berkunjung ke wilayah kami dan mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat di sini,” ujar Habir.

Menanggapi aspirasi yang disampaikan, Rismanto menegaskan bahwa reses merupakan sarana penting bagi anggota legislatif untuk mengetahui secara langsung persoalan riil yang dihadapi masyarakat.

“Tanpa kegiatan reses, kami di DPRD tidak akan mengetahui secara rinci kebutuhan masyarakat. Karena itu saya terus berupaya hadir dan mendengarkan apa yang menjadi aspirasi warga,” kata Rismanto.

Ia mengungkapkan, bantuan untuk pembangunan masjid dan perbaikan jembatan di wilayah tersebut telah diupayakan dan direncanakan dapat direalisasikan tahun ini.

“Insyaallah bulan Juni ini bisa direalisasikan,” ujarnya optimistis.

Dalam kesempatan itu, salah satu warga, Evi Haslinda, juga menyampaikan terima kasih atas program Beasiswa Kaltara yang telah diterimanya. Ia berharap program tersebut terus berlanjut agar semakin banyak pelajar yang terbantu dalam melanjutkan pendidikan.

Selain infrastruktur, warga juga mengusulkan pembangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Mereka menyebutkan antusiasme anak-anak untuk belajar mengaji cukup tinggi, namun kapasitas tempat yang ada saat ini belum memadai.

Menanggapi usulan tersebut, Rismanto menjelaskan bahwa pembangunan TPA bukan merupakan kewenangan strategis pemerintah provinsi. Meski demikian, pihaknya tetap berkomitmen mencarikan solusi.

“Untuk pembangunan TPA memang bukan kewenangan strategis provinsi, tetapi tetap kami inisiasi melalui bantuan dana hibah masjid. Kami juga akan berkoordinasi dengan bagian kesejahteraan rakyat (kesra) untuk mencari solusi terbaik,” jelasnya.

Rismanto menegaskan komitmennya untuk terus mengawal setiap aspirasi masyarakat agar dapat direalisasikan sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan warga. (adv)




Harga Rumput Laut Anjlok, DPRD Kaltara Siapkan Perda Tata Niaga untuk Lindungi Petani Nunukan

NUNUKAN – Harga rumput laut di Kalimantan Utara kembali anjlok dan memicu keluhan para pembudidaya di Kabupaten Nunukan.

Ketergantungan pada pasar ekspor, mutu produksi yang belum seragam, serta panjangnya rantai distribusi membuat harga komoditas andalan pesisir itu terus berfluktuasi dan sulit diprediksi.

Persoalan tersebut mengemuka saat Anggota DPRD Kalimantan Utara, H. Ladullah, S.Hi, menggelar penjaringan aspirasi di Sekretariat PKS Nunukan, Minggu (22/2/2026).

Kegiatan itu dihadiri para pembudi daya rumput laut, pemuda, pelajar, hingga pengurus partai yang menyampaikan langsung dampak turunnya harga terhadap ekonomi keluarga pesisir.

Ketua Fraksi PKS DPRD Kaltara itu mengakui, merosotnya harga rumput laut tidak terlepas dari standar kualitas dan permintaan produsen di pasar luar negeri. Menurutnya, kualitas produksi yang belum seragam turut melemahkan posisi tawar petani di hadapan pengepul dan eksportir.

“Anjloknya harga bertumpu pada kualitas dan permintaan produsen. Jika kualitas tidak seragam, posisi tawar petani ikut melemah,” kata H. Ladullah.

Ia mengungkapkan, DPRD Kaltara saat ini tengah membahas Peraturan Daerah (Perda) inisiatif terkait tata niaga rumput laut. Regulasi tersebut masih dalam tahap kajian akademis dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga pelaku usaha.

“Ini masih dalam kajian akademis, bukan berarti diabaikan. Kami ingin perda nanti benar-benar menjadi pedoman dalam menjaga mutu, tata kelola perdagangan, serta penetapan standar harga,” ujarnya.

Penguatan tata niaga dan perlindungan petani hulu dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga. Melalui perda tersebut, DPRD Kaltara mendorong adanya pengawasan kualitas sejak proses budidaya, penjemuran, hingga pengiriman, dengan standar yang jelas dan terukur. Dengan demikian, petani diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai distribusi.

Selain persoalan ekonomi, reses tersebut juga mengangkat isu sosial yang berkembang di Nunukan. Sejumlah orang tua meminta perhatian Dinas Sosial terhadap anak-anak dengan ketergantungan fisik dan mental, termasuk anak dengan kondisi seperti Cerebral Palsy yang membutuhkan terapi rutin, alat bantu, serta pendampingan dalam aktivitas harian.

Menanggapi hal itu, H. Ladullah menyatakan akan menyampaikan aspirasi warga kepada instansi terkait di tingkat provinsi maupun kabupaten.

“Aspirasi ini kami catat dan akan terus kami sampaikan kepada dinas terkait. Anak-anak dengan keterbatasan fisik dan psikis perlu pendampingan serta bantuan yang layak agar keluarga tidak menanggung beban sendiri,” ucapnya.

Reses di Nunukan tersebut menampilkan dua persoalan mendesak di Kalimantan Utara, yakni stabilitas harga rumput laut dan perlindungan kelompok rentan. Keduanya menjadi pekerjaan rumah bersama untuk menghadirkan regulasi yang berpihak pada petani pesisir sekaligus memperkuat kepedulian sosial di Kabupaten Nunukan. (adv)




Sampah Plastik Kepung Pesisir Budidaya Rumput Laut, Warga Nunukan Curhat ke DPRD Kaltara

NUNUKAN – Tumpukan sampah plastik yang mengendap di sepanjang pesisir area budidaya rumput laut di Nunukan menjadi sorotan dalam reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, H. Ladullah, S.Hi, Sabtu (21/2/2026).

Di hadapan legislator Fraksi PKS itu, warga mengeluhkan kondisi pantai yang kian tercemar limbah kiriman, merusak estetika kawasan dan mengancam kesehatan masyarakat.

Reses yang digelar di Jalan Pattimura, Kelurahan Selisun, Nunukan Selatan itu diwarnai berbagai aspirasi terkait persoalan lingkungan. Pesisir pantai yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pembudidaya rumput laut, kini dipenuhi sampah plastik yang terbawa arus dan menumpuk di garis pantai.

“Sejumlah warga menyampaikan berbagai pertanyaan dan aspirasi terkait permasalahan lingkungan, terutama mengenai penanganan sampah di kawasan organisasi padat penduduk,” ujar H. Ladullah.

Ia menyebut, volume sampah terus meningkat sementara sistem penanganannya dinilai belum berjalan optimal. Kondisi tersebut tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas budidaya rumput laut yang menjadi sumber penghasilan warga.

Persoalan serupa juga ditemukan di aliran Sungai Bolong yang melintasi kawasan permukiman. Sampah rumah tangga terlihat menyumbat aliran air, memicu bau tak sedap dan meningkatkan risiko penyakit. Warga menilai kondisi itu mencerminkan tata kelola kebersihan yang belum maksimal, termasuk di kawasan lingkar jalan yang menjadi wajah Kota Nunukan.

Menanggapi aspirasi tersebut, H. Ladullah mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan sekitar dua hingga tiga bulan lalu. Dari pertemuan itu muncul gagasan inovatif, yakni mengolah sampah plastik menjadi material penahan ombak.

“Pengolahan sampah menjadi penahan gelombang bisa memberi dua manfaat sekaligus, mengurangi timbunan limbah dan melindungi pesisir dari abrasi,” jelas Ketua Fraksi PKS tersebut.

Konsepnya, limbah plastik yang terkumpul akan diolah menjadi balok padat berbentuk modular dan diperkuat dengan rangka baja tahan karat. Material tersebut kemudian disusun di titik-titik rawan abrasi, khususnya di pesisir Kelurahan Selisun hingga Seimenggaris—kawasan yang kerap terdampak hempasan ombak dan tumpukan sampah kiriman.

Selain solusi pengolahan limbah, warga juga mengusulkan penambahan armada pengangkut sampah serta perubahan jadwal operasional ke malam hari agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat di siang hari.

H. Ladullah menegaskan, kewenangan pengelolaan sampah memang berada di tingkat kabupaten. Namun, pihaknya akan tetap mendorong Pemerintah Kabupaten Nunukan agar meningkatkan pelayanan kebersihan demi mengembalikan wajah pesisir yang bersih dan sehat.

Kegiatan reses tersebut dirangkai dengan Buka Puasa Bersama yang dihadiri tokoh masyarakat, pemuda, serta pengurus Kerukunan Keluarga Bugis Sidrap (Kebugis) Nunukan. Selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan aspirasi terkait perbaikan infrastruktur lingkungan, seperti normalisasi parit dan pembukaan akses jalan yang menghubungkan kawasan organisasi dengan wilayah pantai.

Tahun sebelumnya, anggaran pembangunan infrastruktur tersebut sempat direncanakan. Namun karena terdapat program serupa yang akan dilaksanakan oleh Dewan Kabupaten, alokasi anggaran dialihkan ke kebutuhan lain.

“Aspirasi ini akan kita kembali masukkan dalam APBD Perubahan Provinsi Kaltara, terutama untuk perbaikan infrastruktur yang menjadi harapan masyarakat di Kabupaten Nunukan,” tutup Ketua Kebugis Provinsi Kaltara itu. (adv)




Rismanto Santuni Anak Panti Aisyiyah Ruhama, Wujud Nyata Kepedulian Wakil Rakyat di Nunukan

NUNUKAN – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Rismanto, ST, MT, MPSDA.

Politisi tersebut mengunjungi Panti Asuhan Aisyiyah Ruhama yang berlokasi di Jalan Pangeran Antasari, RT 14, Kelurahan Nunukan Timur, Kabupaten Nunukan, Kamis (26/2/2026).

Dalam kunjungan itu, Rismanto menyerahkan bantuan uang tunai sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan operasional dan kesejahteraan anak-anak asuh di panti tersebut.

Kunjungan berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Rismanto tampak berbincang akrab dengan para pengurus yayasan dan anak-anak panti, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.

Rismanto mengatakan, bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu meringankan beban operasional panti serta mendukung kebutuhan pendidikan dan keseharian anak-anak.

“Kehadiran kami di sini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat dan meringankan kebutuhan panti,” ujarnya saat ditemui media.

Menurutnya, perhatian terhadap panti asuhan dan lembaga sosial merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Sementara itu, Koordinator Pengurus Yayasan Panti Asuhan Aisyiyah Ruhama, Bunda Wasamu, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan bantuan yang diberikan.

“Alhamdulillah kami sangat berterima kasih atas bantuan dari Pak Rismanto. Apalagi beliau datang langsung menyerahkan bantuan ini, kami merasa sangat bersyukur sekali,” ungkapnya.

Ia berharap dukungan dari berbagai pihak terus mengalir demi keberlangsungan pembinaan, pendidikan, serta pemenuhan kebutuhan anak-anak di panti asuhan tersebut.

Kegiatan tersebut menjadi momentum silaturahmi antara wakil rakyat dan masyarakat, sekaligus mempererat hubungan emosional di tengah kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Nunukan. (adv)




Reses di Binusan, Rismanto Diserbu Aspirasi Petani: Pupuk, Bibit hingga Mesin Penggilingan Padi Jadi Harapan

NUNUKAN – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) daerah pemilihan Nunukan, Rismanto, memanfaatkan masa reses dengan turun langsung menyerap aspirasi masyarakat di RT 14, Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, kelompok tani setempat menyuarakan berbagai kebutuhan mendesak demi meningkatkan produktivitas pertanian, mulai dari pupuk, bibit, hingga mesin penggilingan padi.

Kegiatan reses tersebut menjadi wadah dialog terbuka antara wakil rakyat dan masyarakat, khususnya para petani yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana.

Liter Solena, perwakilan kelompok tani, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Rismanto di tengah masyarakat. Menurutnya, momen reses menjadi kesempatan penting bagi petani untuk menyampaikan langsung kebutuhan di lapangan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak yang sudah hadir di tempat kami. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menyampaikan langsung kebutuhan petani,” ujar Liter Solena.

Ia mengungkapkan, para petani di wilayah tersebut masih menghadapi kendala pada lahan kering. Ketersediaan pupuk dan bibit dinilai masih sangat kurang, terutama untuk komoditas sayuran seperti sawi, bayam, kangkung, tomat, lombok (cabai), dan timun.

Selain itu, pada lahan basah, petani juga membutuhkan dukungan berupa pompa racun (hand sprayer), pupuk, serta sarana pendukung pertanian lainnya guna menunjang produktivitas hasil panen.

Aspirasi serupa disampaikan Basri, anggota Kelompok Tani Sinar Binusan. Ia berharap adanya bantuan mesin penggilingan padi agar hasil panen petani dapat dikelola secara mandiri dan memiliki nilai tambah.

“Kami sangat berharap bisa mendapatkan bantuan penggilingan padi agar hasil panen bisa dikelola sendiri dan memberi nilai tambah bagi petani,” kata Basri.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Rismanto menegaskan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan akan dicatat dan diperjuangkan melalui mekanisme di DPRD Provinsi Kaltara.

Ia menyebut sektor pertanian sebagai salah satu fokus penting, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Nunukan.

“Kegiatan reses ini memang untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Semua aspirasi akan kami catat dan perjuangkan sesuai kewenangan yang ada,” ujar Rismanto.

Reses tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan anggota kelompok tani setempat yang berharap adanya perhatian nyata dari pemerintah provinsi terhadap penguatan sarana dan prasarana pertanian di Desa Binusan. (adv)




Reses di Desa Rahayu, Rismanto Dibanjiri Keluhan Air Bersih hingga Listrik dan Internet

NUNUKAN – Persoalan air bersih, listrik, hingga akses internet mewarnai kegiatan penyerapan aspirasi (Reses) Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Daerah Pemilihan (Dapil) IV Nunukan, Rismanto, di Desa Rahayu (Sebakis), Kelurahan Nunukan Barat, Kecamatan Nunukan.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, warga menyuarakan kebutuhan dasar yang hingga kini belum sepenuhnya terpenuhi.

Politisi Partai NasDem yang juga Anggota Komisi III DPRD Kaltara itu menyambangi langsung masyarakat pada Reses masa persidangan II tahun 2026. Sejumlah persoalan mendasar disampaikan warga secara terbuka.

Salah satu keluhan utama adalah keterbatasan akses air bersih. Selama ini, masyarakat masih mengandalkan sumur gali manual untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, distribusi air ke rumah-rumah dinilai menyulitkan.

“Kami ini gali sumur sendiri secara manual. Tapi untuk distribusi ke rumah-rumah susah. Harapan kami ada bantuan pipa atau dibuatkan penampungan air bersih secara massal supaya lebih mudah,” ujar Abu, salah seorang warga, Senin (16/02/2026).

Selain air bersih, warga juga berharap adanya solusi transportasi bagi pelajar. Mereka mengusulkan bantuan truk angkutan sekolah atau kerja sama dengan perusahaan PT SIL-SIP untuk membantu antar-jemput siswa.

“Anak-anak sekolah kadang kesulitan kendaraan. Kalau bisa ada bantuan truk untuk antar jemput atau kerja sama dengan perusahaan supaya lebih terjamin,” ungkap warga lainnya.

Di sektor infrastruktur, kondisi jalan tani turut menjadi perhatian. Jalan tersebut merupakan akses vital bagi kelompok tani dalam mengangkut hasil pertanian, namun kondisinya rusak dan becek saat musim hujan.

“Kalau musim hujan, jalan becek dan sulit dilewati. Kami mohon diperhatikan karena itu akses utama petani,” kata perwakilan kelompok tani.

Tak hanya itu, jaringan internet yang tidak stabil juga menjadi keluhan. Di tengah kebutuhan digital untuk pendidikan dan usaha, akses internet dinilai sangat mendesak.

Persoalan listrik pun belum sepenuhnya teratasi. Warga mengaku masih iuran membeli bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan genset secara swadaya.

“Untuk listrik, kami masih patungan beli BBM. Listrik sulit masuk ke sini. Kami berharap ada bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) supaya lebih mandiri,” ujar warga Desa Rahayu.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Rismanto menyatakan akan menindaklanjuti usulan masyarakat sesuai kewenangan dan mekanisme di DPRD Kaltara.

“Semua aspirasi ini sudah saya catat. Air bersih, jalan tani, listrik, internet, hingga transportasi pelajar akan kita komunikasikan dengan dinas terkait. Kita akan perjuangkan sesuai skala prioritas dan kemampuan anggaran,” tegas Rismanto.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, legislatif, dan pihak swasta dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

“Untuk bantuan transportasi pelajar misalnya, tentu perlu komunikasi dengan pihak perusahaan. Kita akan coba fasilitasi agar ada solusi bersama,” ucapnya.

Rismanto menjelaskan, kegiatan Reses merupakan momentum penting bagi anggota legislatif untuk mendengar langsung kebutuhan riil masyarakat.

“Reses ini bukan sekadar agenda formal, tapi kesempatan kami menyerap aspirasi secara langsung. Apa yang disampaikan warga menjadi bahan perjuangan kami di DPRD,” pungkasnya. (adv)




Pelajar Nunukan Keluhkan Internet “Timbul Tenggelam”, H. Ladullah Siap Perjuangkan Infrastruktur Digital Perbatasan

NUNUKAN – Keterbatasan jaringan internet dan minimnya fasilitas laboratorium di sekolah menjadi sorotan utama dalam kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, H. Ladullah, di Sweetnes Cafe, Kabupaten Nunukan, Rabu (17/2/2026) sore.

Dalam agenda penjaringan aspirasi tersebut, para pelajar dan masyarakat menyuarakan langsung berbagai persoalan pembangunan, terutama ketertinggalan infrastruktur teknologi komunikasi di wilayah perbatasan.

Mewakili pelajar SMK Negeri 1 Nunukan, Muhammad Risal mengungkapkan kondisi jaringan internet yang kerap “timbul tenggelam” menjadi hambatan serius dalam proses pembelajaran berbasis digital.

Menurutnya, akses internet yang tidak stabil mengganggu pencarian referensi, pengerjaan tugas daring, hingga pelaksanaan ujian atau praktik berbasis teknologi.

“Nunukan masih mengalami ketertinggalan infrastruktur komunikasi dan informasi. Kami sering kesulitan karena jaringan tidak stabil. Ini memperlihatkan kesenjangan digital yang masih dirasakan pelajar di perbatasan dibandingkan daerah lain,” ujar Risal.

Tak hanya soal jaringan, ia juga menyoroti keterbatasan sarana praktik di sekolah. Rasio perangkat yang belum memadai membuat siswa harus bergantian menggunakan alat praktik. Bahkan, laboratorium belum tersedia secara lengkap sehingga pembelajaran vokasi dinilai kurang maksimal.

“Kami masih bergantian menggunakan peralatan praktik karena jumlahnya terbatas, dan laboratorium belum lengkap. Ini tentu berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan,” tambahnya.

Kondisi tersebut, lanjut Risal, memperlihatkan belum meratanya sarana penunjang pendidikan kejuruan di wilayah perbatasan. Sistem penggunaan ruang praktik secara bergantian antar kelas dinilai mengurangi intensitas pembelajaran yang menjadi inti pendidikan vokasi.

Menanggapi aspirasi itu, H. Ladullah mengapresiasi keberanian para pelajar menyampaikan kondisi riil di sekolah. Ia menilai suara generasi muda sangat penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.

“Saya sangat mengapresiasi pertanyaan dari adik-adik. Apa yang disampaikan tadi menggambarkan adanya kesenjangan yang dihadapi pelajar di daerah kita. Jika tidak diutarakan, kami mungkin tidak mengetahui secara rinci persoalan yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengakui, keterbatasan jaringan internet di wilayah perbatasan memang menjadi tantangan besar dalam pengembangan pendidikan berbasis teknologi. Perbedaan fasilitas semakin terasa ketika pelajar Nunukan harus berkompetisi dengan pelajar dari luar daerah yang memiliki sarana lebih lengkap.

“Ketika pelajar kita berkompetisi dengan pelajar dari luar daerah, khususnya Jawa, tentu terlihat perbedaan fasilitas. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan jaringan di sejumlah titik masih sulit dijangkau. Bahkan dalam kondisi tertentu, pelajar harus berpindah lokasi hanya untuk mendapatkan sinyal yang stabil.

“Masalah jaringan memang masih sulit didapat di beberapa titik. Ini fakta di lapangan yang perlu mendapat perhatian serius,” tegasnya.

Seluruh aspirasi terkait peningkatan kualitas jaringan internet dan kelengkapan laboratorium, lanjut Ladullah, akan dibawa dalam pembahasan di tingkat provinsi.

Ia memastikan suara pelajar Nunukan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan, agar pembangunan infrastruktur teknologi komunikasi di wilayah perbatasan mampu menjawab kebutuhan pendidikan digital yang terus berkembang. (bed)




Reses di Nunukan Barat, Ustania Serap Aspirasi Warga Soal Infrastruktur dan Pendidikan

NUNUKAN – Persoalan jalan lingkungan rusak hingga keterbatasan ruang kelas menjadi keluhan utama warga Kelurahan Nunukan Barat, Kecamatan Nunukan saat Anggota DPRD Nunukan, Ustania, SE menggelar reses, Minggu (15/2/2026).

Dalam pertemuan tatap muka tersebut, masyarakat berharap kebutuhan dasar di lingkungan mereka segera mendapat perhatian serius pemerintah daerah.
Pertemuan yang menghadirkan warga dari sejumlah RT di Kelurahan Nunukan Barat itu berlangsung interaktif. Warga secara bergantian menyampaikan berbagai aspirasi, mulai dari infrastruktur lingkungan hingga layanan pendidikan.

Beberapa keluhan yang mencuat di antaranya kondisi jalan lingkungan yang rusak, drainase tersumbat yang kerap memicu genangan saat hujan, serta minimnya penerangan jalan umum. Selain itu, kebutuhan ruang kelas baru dan fasilitas belajar yang layak di sekolah dasar setempat juga menjadi perhatian utama warga.

Anggota DPRD Nunukan dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tersebut mendengarkan setiap masukan warga secara langsung. Ustania menegaskan bahwa kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas dalam pembahasan di lembaga legislatif.

“Kebutuhan dasar seperti infrastruktur lingkungan dan pendidikan tidak boleh diabaikan. Semua aspirasi ini akan kami perjuangkan dalam pembahasan di DPRD,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dominannya aspirasi di sektor pendidikan. Warga meminta adanya penambahan ruang kelas serta perbaikan sarana sekolah dasar agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih optimal.

“Usulan pendidikan akan diselaraskan dengan program pemerintah daerah, karena pendidikan tidak boleh terabaikan. Fasilitas belajar yang memadai tentunya akan kami sampaikan dalam pembahasan rapat-rapat dewan,” tegasnya.

Peserta reses didominasi kalangan ibu rumah tangga yang berharap wakil rakyat dapat memperjuangkan kebutuhan lingkungan tempat tinggal mereka. Dalam sesi tanya jawab, Ustania turut menjelaskan mekanisme pengajuan usulan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) dewan.

“Setiap aspirasi yang dihimpun akan dibahas bersama anggota DPRD lain sesuai daerah pemilihan, kemudian diselaraskan dengan rencana kerja pemerintah daerah,” jelasnya.

Reses DPRD merupakan kegiatan rutin anggota dewan pada masa sidang. Untuk pekan ini, agenda reses berlangsung pada 15 hingga 20 Februari 2026. Seluruh anggota DPRD kembali ke daerah pemilihan masing-masing guna menjaring aspirasi konstituen dan menyerap kebutuhan riil masyarakat di wilayah Kabupaten Nunukan. (bed)




TNI AL dan Bea Cukai Nunukan Gagalkan Penyelundupan Tas dan Sepatu Branded Asal Malaysia

NUNUKAN – Sinergitas TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui Lanal Nunukan bersama Bea Cukai Nunukan kembali membuahkan hasil.

Tim gabungan berhasil menggagalkan upaya penyelundupan tas, sepatu, dan berbagai barang branded asal Tawau, Malaysia, yang hendak masuk ke wilayah Nunukan melalui jalur laut, Sabtu (14/02/2026) di Dermaga Tradisional Yamaker.

Danlanal Nunukan, Kolonel Laut (P) Primayantha Maulana Malik mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari informasi intelijen yang diterima Tim Quick Response (TQR) Lanal Nunukan terkait rencana pengiriman barang-barang bermerek dari wilayah Simpang Tiga, Malaysia, menuju Nunukan.

Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan koordinasi intensif bersama Bea Cukai Nunukan.

Berkat langkah cepat dan terukur, tim gabungan melakukan pemeriksaan terhadap KM Cahaya Jamaker (GT 28) yang sandar di Pangkalan Tradisional Yamaker.

“Dari hasil pemeriksaan fisik, petugas kami menemukan 4 kardus besar dan 2 koper berisi berbagai barang branded tanpa dokumen kepabeanan yang sah,” kata Primayantha.

Barang-barang tersebut terdiri atas tas, sepatu, dompet, jam tangan, hijab, parfum, serta berbagai produk fashion dan aksesoris dari merek internasional maupun regional seperti Adidas, Nike, Puma, Dior, hingga Bonia.

Seluruh barang yang diduga hasil penyelundupan langsung diamankan dan dibawa ke Kantor Bea Cukai Nunukan untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan, pendataan, serta proses penindakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tindakan tegas ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

“Dalam aturan tersebut ditegaskan, setiap orang yang memasukkan barang dari luar negeri ke dalam daerah pabean tanpa memenuhi kewajiban kepabeanan, termasuk tanpa pembayaran bea masuk dan pajak, dapat dikenakan sanksi pidana maupun administrasi,” ungkapnya.

Keberhasilan ini tidak hanya menjadi wujud penegakan hukum, tetapi juga langkah konkret dalam melindungi penerimaan negara dari potensi kerugian akibat praktik penyelundupan.

“Jika dikalkulasikan, total nilai barang selundupan tersebut, sekitar Rp 88.230.903. Adapun nilai potensi kerugian negara akibat kasus ini, sekitar Rp 41.509.779,” sebutnya.

Sinergitas antara Lanal Nunukan dan Bea Cukai Nunukan pun dinilai semakin solid dalam menjaga perairan perbatasan dari berbagai aktivitas ilegal.

“Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu memberikan efek jera bagi para pelaku serta memperkuat pengawasan maritim di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan yang rawan menjadi jalur masuk barang ilegal,” pungkasnya. (bed)




Menembus Hutan dan Lumpur Demi Sawah Krayan

Di balik deru mesin traktor yang kelak membelah sawah-sawah Krayan, ada kisah panjang tentang perjalanan, pengorbanan, dan tekad menghadirkan negara hingga ke tapal batas.

Syamsul Bahri

KRAYAN bukan sekadar wilayah di peta Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Ia adalah daerah perbatasan yang terisolasi, dikelilingi hutan lebat dan medan berat, dengan akses terbatas yang kerap menguji kesabaran siapa pun yang ingin mencapainya.

Namun keterbatasan itu tak menyurutkan langkah pemerintah untuk mendukung denyut pertanian masyarakat setempat.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendistribusikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk Krayan, berupa 28 unit traktor roda empat (jonder/rotavator), 14 unit traktor roda dua, serta 10 unit rice planter.

Bantuan ini diharapkan mampu mendorong produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia tersebut.

Masalahnya, Krayan hampir sepenuhnya hanya bisa dijangkau melalui jalur udara. Jalur darat yang menghubungkan wilayah ini masih dalam proses pembangunan. Kondisi inilah yang memaksa Pemerintah Kabupaten Nunukan mengambil jalur alternatif yang penuh tantangan.

Perjalanan alsintan dimulai dengan menyeberang menggunakan kapal LCT melalui jalur Sungai Ular, Kecamatan Seimanggaris. Dari sana, alat-alat pertanian itu dilansir sedikit demi sedikit menggunakan truk menuju wilayah Kabupaten Malinau, sebelum akhirnya menembus jalur darat ekstrem menuju Krayan.

“Kita tugaskan pegawai kami yang siap mental dan fisiknya kuat untuk mengawal pengiriman alsintan ke Krayan. Kita tahu pengiriman ini butuh waktu belasan hari, sehingga kami bersiap untuk berkemah dan siap tidur di tengah hutan,” ujar Masniadi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Nunukan.

Demi menghemat anggaran, seluruh operator alat berat, tenaga pendamping, hingga pengawas diambil dari internal DKPP Nunukan. Mereka bukan sekadar mengawal logistik, tetapi juga berhadapan langsung dengan lumpur, hujan, dan medan yang bisa berubah ekstrem dalam hitungan jam.

Masniadi menyebut tantangan terberat justru muncul saat alsintan tiba di ujung jalan beraspal perbatasan Malinau. Dari titik itu, perjalanan menuju Desa Long Semamu hingga Desa Binuang, Krayan, ibarat memasuki jalur tak bertuan. Jalan tanah akan menjelma lumpur licin, terutama saat hujan mengguyur.

“Biasanya ban mobil tertanam, dan harus ditarik menggunakan alat berat untuk bisa keluar dari lumpur,” ungkapnya.

Mengantisipasi kondisi tersebut, DKPP Nunukan telah berkoordinasi dengan perusahaan pemilik alat berat untuk siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tantangan lain tak kalah serius adalah penyeberangan sungai sebelum memasuki wilayah Krayan.

“Kita akan melewati sungai sebelum masuk Krayan. Jadi dastikan apakah arus air memungkinkan dilewati atau tidak. Kalau tidak, tunggu sampai aman baru diseberangkan alat-alat berat yang dikirim,” jelas Masniadi.

Distribusi alsintan dilakukan melalui dua jalur. Jalur darat membawa 28 unit traktor roda empat yang terdiri dari 14 unit jonder dan 14 unit rotavator. Sementara jalur udara diperuntukkan bagi 14 unit traktor roda dua dan 10 unit rice planter.

Namun jalur udara pun bukan tanpa kendala. Pesawat komersial rute Nunukan–Krayan merupakan pesawat perintis yang tak memungkinkan pengangkutan alsintan berukuran besar. Karena itu, Pemkab Nunukan tengah melobi TNI Angkatan Udara agar dapat meminjamkan pesawat angkut.

“Pesawat komersil tidak memungkinkan. Karena itu kami sedang berupaya meminta dukungan TNI AU,” tambahnya.

Masniadi memastikan dirinya ikut langsung dalam regu pengawalan DKPP hingga alsintan tiba di Krayan. Baginya, kehadiran langsung di lapangan adalah bentuk tanggung jawab sekaligus komitmen pemerintah kepada masyarakat perbatasan.

“Kita tahu bagaimana sulitnya menembus Krayan lewat darat. Semoga usaha ini dipandang sebagai salah satu bukti kehadiran pemerintah bagi masyarakat perbatasan,” katanya.

Pemkab Nunukan menargetkan alsintan dapat tiba di Krayan dalam waktu 9 hingga 12 hari. Namun faktor cuaca yang tak menentu berpotensi membuat perjalanan molor hingga dua kali lipat dari rencana awal.

Meski demikian, harapan tetap disematkan. “Semoga alsintan yang diberikan Pemerintah Pusat benar-benar menjadi pendukung kemajuan pertanian masyarakat Krayan,” tutup Masniadi.

Di tengah hutan, lumpur, dan sungai yang menghadang, perjalanan alsintan ini menjadi lebih dari sekadar distribusi alat. Ia adalah cerita tentang dedikasi, tentang negara yang berusaha hadir hingga ke ujung negeri, demi sawah-sawah Krayan tetap hidup dan berproduksi. (***)