Nunukan Siapkan Aturan Tata Niaga Rumput Laut, Harga dan Mutu Jadi Taruhan

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tengah menyusun aturan tata niaga rumput laut untuk menjaga mutu komoditas sekaligus memperkuat sektor ekonomi masyarakat pesisir. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam mempertahankan rumput laut sebagai komoditas unggulan yang memiliki potensi ekspor.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPRD dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Senin (12/10/2026).

Menurut Irwan, rumput laut memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat pesisir dan meningkatkan ekspor daerah. Karena itu, upaya menjaga kualitas komoditas tersebut perlu disertai kebijakan yang mampu mendukung keberlanjutan usaha para pembudidaya.

“Pemerintah daerah bekerja sama dengan Politeknik Negeri Nunukan melakukan kajian untuk menjaga mutu dan kualitas rumput laut. Pemerintah daerah saat ini menyusun peraturan kepala daerah Kabupaten Nunukan tentang tata niaga rumput laut,” ujarnya.

Penyusunan aturan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat pengelolaan salah satu komoditas andalan Nunukan. Mutu rumput laut menjadi aspek penting karena berkaitan dengan nilai jual dan daya saing produk di pasar.

Selain menyiapkan regulasi, pemerintah daerah juga melanjutkan dukungan sarana dan prasarana bagi masyarakat pembudidaya. Bantuan yang disiapkan antara lain bibit rumput laut, mesin tempel, tali budidaya, terpal, dan waring.

Dukungan tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan produksi sekaligus meningkatkan kualitas hasil budidaya. Pemerintah daerah juga berupaya memperkuat sektor perikanan melalui penyerahan sarana penangkapan ikan ramah lingkungan, mesin ketinting, dan mesin tempel kepada masyarakat.

Meski demikian, efektivitas aturan tata niaga yang sedang disusun nantinya akan bergantung pada substansi kebijakan dan penerapannya di lapangan. Pengaturan yang mampu menjaga mutu sekaligus memperhatikan kepentingan pembudidaya menjadi penting agar peningkatan kualitas produk dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bagi Nunukan, penguatan tata niaga rumput laut bukan sekadar persoalan produksi, melainkan juga upaya menjaga keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir. Regulasi tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing komoditas lokal dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (adv)




Nidji Tutup Paras Fest 2026, Perputaran Ekonomi Nunukan Tembus Rp12,6 Miliar

NUNUKAN – Ribuan masyarakat memadati Ruang Terbuka Paras (RTP), Rabu malam (14/10/2026), untuk menyaksikan penampilan grup band Nidji dalam penutupan Pekan Kebudayaan Daerah dan Paras Fest 2026.

Festival yang digelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan itu tak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

Kemeriahan malam penutupan menjadi puncak rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 2 Oktober 2026. Beragam pertunjukan seni dan budaya, hiburan, serta aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut mewarnai festival tersebut.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara, perangkat daerah, petugas keamanan, sponsor, pelaku UMKM, serta masyarakat yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan.

Menurut dia, semangat gotong royong dan kebersamaan menjadi faktor penting yang membuat rangkaian kegiatan berlangsung meriah, aman, dan lancar.

Di balik kemeriahan tersebut, Paras Fest 2026 juga mencatat perputaran ekonomi hingga Rp12,604 miliar. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, angka tersebut mencakup omzet UMKM di luar kawasan Paras Perbatasan dan belanja melalui APBD yang kembali ke masyarakat.

Sementara itu, Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Nunukan mencatat omzet UMKM di dalam kawasan Paras Perbatasan mencapai Rp1,667 miliar selama festival berlangsung.

Bupati mengatakan, data BPS juga menunjukkan adanya peningkatan omzet usaha masyarakat selama Paras Fest. Pada kondisi normal, omzet agregat usaha yang menjadi sampel tercatat sekitar Rp3,108 miliar. Selama festival, angka tersebut meningkat menjadi Rp4,157 miliar.

“Pada kondisi normal, omzet agregat sampel berada pada angka Rp3,108 miliar. Selama Paras Fest, naik menjadi Rp4,157 miliar. Ada tambahan sekitar Rp1,054 miliar uang yang berputar di warung-warung selama pelaksanaan Paras Fest,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS dan Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian, sebanyak 73,8 persen pelaku usaha tercatat mengalami kenaikan omzet. Data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan berskala daerah seperti Paras Fest berpotensi memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, terutama pelaku usaha lokal.

Irwan berharap, dampak tersebut tidak berhenti setelah festival berakhir. Ia mengajak masyarakat mempertahankan semangat kebersamaan sekaligus meningkatkan kebanggaan terhadap budaya daerah melalui dukungan terhadap produk lokal dan usaha masyarakat.

Dalam laporan panitia yang disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat mewakili Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan, Paras Fest disebut bukan sekadar ruang hiburan, melainkan juga sarana memperkuat kebersamaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kita telah melihat betapa antusiasnya masyarakat Nunukan dalam memeriahkan acara ini. Di balik kemeriahan tersebut, ada peluang ekonomi yang harus kita jaga dan lanjutkan agar roda perekonomian terus berputar di daerah sendiri,” ujarnya.

Masyarakat juga diajak mencintai dan menggunakan produk lokal, mendukung pelaku UMKM, serta meningkatkan kebanggaan terhadap kuliner dan potensi wisata Kabupaten Nunukan. (adv)




Lestarikan Seni Rebana, PELNI Dukung Kegiatan Keagamaan di Nunukan

NUNUKAN – Syair-syair bernuansa Islami melalui tabuhan rebana menjadi salah satu cara menjaga tradisi keagamaan tetap hidup di tengah masyarakat. Upaya itu dilakukan Majelis Taklim Arnisya melalui Lomba Rebana Se-Kabupaten Nunukan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Kamis (15/10/2026).

Mengusung tema “Melalui Syair Rebana Kita Lestarikan Budaya Islam”, kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengenal sekaligus mempertahankan seni rebana yang telah lama menjadi bagian dari tradisi keagamaan umat Islam.

Lomba tersebut tidak hanya menghadirkan ruang bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan memainkan rebana dan melantunkan syair Islami, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarkelompok majelis taklim di Kabupaten Nunukan.

Pelaksanaan kegiatan ini turut mendapat dukungan finansial dari PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Dukungan tersebut merupakan bentuk partisipasi perusahaan dalam kegiatan sosial dan pelestarian budaya keagamaan di wilayah operasionalnya.

Kepala Cabang PT Pelni Nunukan Sudjito megatakan, melalui dukungan itu, PELNI turut membantu terselenggaranya kegiatan yang memberi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan.

Seni rebana sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan keagamaan masyarakat Muslim, termasuk dalam melantunkan selawat dan syair-syair pujian. Keberadaan kegiatan seperti ini menjadi salah satu sarana untuk menjaga agar tradisi tersebut tetap dikenal dan diminati lintas generasi.

“PELNI berharap Lomba Rebana Se-Kabupaten Nunukan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga seni rebana tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan hari jadi daerah, tetapi juga tetap hidup dalam kegiatan masyarakat,” kata Sudjito.

Menurutnya, dukungan terhadap kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa keterlibatan perusahaan tidak terbatas pada layanan transportasi laut, tetapi juga dapat diwujudkan melalui partisipasi dalam kegiatan sosial dan budaya masyarakat.

“Di tengah perayaan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan, lomba rebana menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi Islam melalui seni, kebersamaan, dan lantunan syair keagamaan,” pungkasnya. (adv)




Pengangguran Turun, Tantangan Pekerjaan Produktif Belum Selesai

NUNUKAN – Tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Nunukan menurun dari 2,71 persen pada 2024 menjadi 2,61 persen pada 2025. Meski menunjukkan perbaikan, penurunan tersebut belum cukup untuk menggambarkan apakah masyarakat telah memperoleh pekerjaan yang produktif dan mampu meningkatkan kesejahteraan.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menyampaikan capaian itu dalam pidatonya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Senin (12/10/2026). Selain pengangguran, pemerintah daerah juga mencatat penurunan angka kemiskinan dari 5,73 persen pada 2024 menjadi 5,27 persen pada 2025.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Nunukan pada 2025 tercatat sebesar 3,98 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga meningkat dari 69,27 menjadi 69,87.

Data tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah indikator pembangunan. Namun, angka pengangguran terbuka hanya menggambarkan proporsi angkatan kerja yang belum bekerja dan sedang mencari pekerjaan atau mempersiapkan usaha. Indikator itu belum menjelaskan kualitas pekerjaan, tingkat pendapatan, maupun kepastian kerja yang dimiliki masyarakat.

Karena itu, tantangan pembangunan ketenagakerjaan tidak berhenti pada menekan angka pengangguran. Ketersediaan pekerjaan yang produktif, pendapatan yang memadai, dan kesempatan kerja yang sesuai dengan keterampilan masyarakat tetap menjadi persoalan yang perlu dijawab.

Bagi Nunukan sebagai daerah perbatasan, penguatan sektor ekonomi lokal menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas kesempatan kerja. Potensi pertanian, perikanan, rumput laut, dan perdagangan perlu didukung agar tidak hanya menghasilkan aktivitas ekonomi, tetapi juga membuka peluang penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan pertumbuhan ekonomi memberi manfaat lebih luas, termasuk bagi pekerja informal dan masyarakat di wilayah terpencil. Penurunan pengangguran akan lebih bermakna apabila diikuti peningkatan pendapatan serta berkurangnya kerentanan ekonomi rumah tangga.

Capaian 2025 menjadi modal bagi Kabupaten Nunukan untuk melanjutkan perbaikan. Namun, ukuran keberhasilannya bukan semata-mata seberapa rendah angka pengangguran, melainkan sejauh mana masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak dan mampu menopang kehidupan mereka. (adv)




GIGI Meriahkan HUT Nunukan, Anak Muda Ditantang Jadi Penggerak Pembangunan

NUNUKAN – Generasi muda Nunukan diminta tidak sekadar menjadi penonton dalam pembangunan daerah. Mereka harus berani bermimpi, berinovasi, menciptakan peluang, dan mengambil peran sebagai penggerak kemajuan.
Pesan itu disampaikan Bupati Nunukan H. Irwan Sabri saat puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan di Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras Perbatasan, Senin (12/10/2026) malam.

Di tengah kemeriahan penampilan GIGI Band dan kembang api yang menghiasi langit Nunukan, Irwan mengingatkan, perjalanan daerah selama 27 tahun belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang perlu dibenahi dan diperjuangkan bersama untuk mewujudkan Nunukan yang lebih maju dan sejahtera. “Di usia 27 tahun Nunukan ini,

Mengusung tema “Kreatif Berkarya, Nunukan Maju”, Irwan secara khusus mendorong anak muda agar berani menunjukkan kemampuan dan menghasilkan karya. Menurutnya, kreativitas generasi muda perlu menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan daerah.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga persatuan dan memperkuat semangat gotong royong. Kedua hal tersebut dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, serta membuka jalan bagi masa depan generasi muda.

“Melalui momentum ini, saya mengajak masyarakat Nunukan tetap menjaga persatuan. Karena Nunukan adalah rumah kita semua. Teruslah solid agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat agar generarsi muda dapat merasakannya kelak,” pesan bupati.

Sebelum menyampaikan sambutan, Irwan menyerahkan sejumlah hadiah kepada warga yang berulang tahun pada 12 Oktober, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Nunukan.

Malam puncak HUT kali ini menghadirkan GIGI Band, grup musik asal Bandung yang berdiri sejak 22 Maret 1994. Penampilan band yang telah lama mewarnai industri musik Indonesia itu menjadi hiburan utama bagi masyarakat yang memadati kawasan RTP Paras Perbatasan.

Konser tersebut melengkapi rangkaian perayaan yang berlangsung sejak pagi. Sebelumnya, pemerintah daerah menggelar rapat paripurna dan menyajikan kuliner gratis bagi masyarakat di lokasi yang sama.

Peringatan HUT ke-27 menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan Nunukan sekaligus menegaskan tantangan pembangunan ke depan. Tema “Kreatif Berkarya, Nunukan Maju” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan perayaan, tetapi diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, dalam menciptakan peluang dan mendorong kemajuan daerah. (adv)




Nunukan Targetkan 1.036 Rumah Layak Huni pada 2026, Mayoritas dari Program di Luar APBD

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan menargetkan penyediaan 1.036 unit rumah layak huni sepanjang 2026. Namun, sebagian besar target tersebut diharapkan terealisasi melalui program pemerintah pusat dan kerja sama lintas lembaga, bukan hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menyampaikan target tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Senin (12/10/2026). Dari total target, sebanyak 122 unit rumah direncanakan melalui APBD, sementara 200 unit bersumber dari APBN dan 714 unit lainnya melalui kerja sama dengan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) serta kementerian terkait.

Komposisi pendanaan itu menunjukkan bahwa pencapaian target perumahan di Nunukan turut bergantung pada dukungan program di luar anggaran daerah. Karena itu, realisasi 1.036 unit tersebut tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pemerintah kabupaten, tetapi juga pelaksanaan program dari pemerintah pusat dan lembaga terkait.

Penyediaan rumah layak huni menjadi salah satu agenda pembangunan yang disampaikan Irwan di tengah sejumlah pekerjaan rumah daerah, mulai dari pemerataan infrastruktur hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Di wilayah perbatasan seperti Nunukan, kebutuhan hunian layak menjadi bagian penting dari pembangunan. Tantangannya bukan semata menambah jumlah unit rumah, melainkan memastikan bantuan menjangkau warga yang membutuhkan dan memenuhi standar kelayakan,” ujarnya.

Target 1.036 unit pada 2026 itu masih perlu dilihat dari sisi realisasi. Jumlah rumah yang direncanakan belum otomatis menggambarkan jumlah hunian yang selesai dibangun atau telah ditempati masyarakat.

Pemerintah daerah perlu memastikan pembagian program, sumber pendanaan, penerima manfaat, serta jadwal pelaksanaan berjalan sesuai rencana. Transparansi perkembangan pembangunan juga penting agar masyarakat dapat mengetahui sejauh mana target tersebut tercapai hingga akhir tahun.
Dengan mayoritas target bergantung pada program di luar APBD, koordinasi lintas lembaga menjadi kunci. Pemerintah Kabupaten Nunukan diharapkan tidak hanya mengejar angka pembangunan, tetapi juga memastikan rumah yang disediakan benar-benar layak dan tepat sasaran. (adv)




Usai Paripurna, Sajian Kuliner Bawa Perayaan HUT Nunukan ke Tengah Warga

NUNUKAN – Perayaan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan tak berhenti di ruang sidang DPRD. Usai rapat paripurna, pemerintah daerah membawa suasana perayaan ke Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras Perbatasan, Senin (12/10/2026), melalui sajian kuliner yang mengundang antusiasme masyarakat.

Beragam makanan tradisional, kuliner khas daerah, camilan, hingga minuman disajikan untuk masyarakat. Kegiatan ini melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), instansi vertikal, BUMN, BUMD, serta berbagai etnis dan kerukunan yang ada di Kabupaten Nunukan.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat kegiatan kuliner tidak sekadar menjadi pelengkap perayaan hari jadi. Tenda-tenda makanan juga menjadi ruang pertemuan masyarakat dengan beragam latar belakang dalam suasana kebersamaan.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri bersama Ketua TP PKK Nunukan Hj. Andi Annisa Muthia Irwan, Wakil Bupati Hermanus bersama Wakil Ketua TP PKK Nunukan Susanti Hermanus, serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan anggota DPRD Nunukan turut mengunjungi tenda-tenda kuliner.

Sejumlah tokoh adat dari Sabah, Malaysia, juga hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan MOMOGUN National Congress (MNC) dan Pertubuhan Adat Gabungan Bangsa Tidung Negeri Sabah (PANTAS).

Saat berkeliling, Irwan dan Hermanus mencicipi beragam hidangan yang disiapkan peserta. Irwan mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak yang ikut menyemarakkan perayaan hari jadi Kabupaten Nunukan.

“Masakannya semua enak-enak dan mempunyai ciri khas masing-masing. Terima kasih ibu-ibu yang sudah menyajikan kuliner dan ikut serta memeriahkan HUT Kabupaten Nunukan,” ungkap Irwan.

Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya warga yang mendatangi tenda-tenda makanan. Cuaca panas tidak menyurutkan minat pengunjung untuk berburu dan mencicipi sajian yang tersedia.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan yang mempertemukan pemerintah dan masyarakat di ruang publik. Beragam sajian yang dihadirkan juga menunjukkan keterlibatan berbagai kelompok dalam memeriahkan hari jadi daerah perbatasan tersebut.

Di akhir kegiatan, Bupati dan Wakil Bupati Nunukan bersama Ketua dan Wakil Ketua TP PKK menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba 10 Program Pokok PKK tingkat Kabupaten Nunukan 2026.

Pada kesempatan yang sama, Presiden PANTAS yang juga Timbalan Presiden MNC Sabah Malaysia, YBhg Dato’ Seri H. Sahran H. Untai, menyerahkan cinderamata kepada Bupati Nunukan sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan. (adv)




HUT ke-27, Bupati Nunukan Akui Stunting dan Infrastruktur Jadi Pekerjaan Rumah

NUNUKAN – Di usia ke-27 tahun, Kabupaten Nunukan masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari angka stunting yang relatif tinggi, pembangunan infrastruktur yang belum merata, hingga indeks pembangunan manusia (IPM) yang masih berada pada kategori sedang.

Persoalan tersebut diakui Bupati Nunukan H. Irwan Sabri dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Nunukan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Senin (12/10/2026).

Irwan mengatakan, peringatan hari jadi daerah tidak hanya menjadi momentum merayakan keberhasilan pembangunan, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi berbagai persoalan yang belum terselesaikan.

“Angka stunting yang masih relatif tinggi berdasarkan data SSGI, belum meratanya sarana infrastruktur, dan masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia merupakan beberapa persoalan yang harus kita tuntaskan,” kata Irwan.

Ia menyatakan, pemerintah daerah berkomitmen menyelesaikan berbagai persoalan tersebut melalui kerja bersama pemerintah dan masyarakat. Namun, ia mengakui perubahan tidak dapat dicapai secara instan dan membutuhkan waktu serta proses yang tidak mudah.

“Kami menyadari bahwa tidak ada jalan pintas untuk perubahan yang bermakna. Semua butuh waktu dan perjuangan yang tidak mudah,” ujarnya.

Selain persoalan kesehatan dan infrastruktur, capaian pembangunan manusia juga menjadi tantangan tersendiri bagi Kabupaten Nunukan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam pidato tersebut, IPM Nunukan pada 2025 mencapai 69,87, meningkat 0,60 poin dibandingkan 2024 yang sebesar 69,27.

Meski mengalami peningkatan, angka tersebut masih berada dalam kategori sedang. Pemerintah daerah pun menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang cerdas, sehat, dan berkarakter sebagai salah satu misi pembangunan.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Nunukan pada 2025 tercatat sebesar 3,98 persen. Irwan menilai capaian itu menunjukkan aktivitas ekonomi daerah tetap bergerak, tetapi masih membutuhkan penguatan agar pertumbuhannya lebih berkualitas dan mampu menciptakan lapangan kerja yang produktif.

Pengembangan sektor unggulan daerah, peningkatan nilai tambah sumber daya lokal, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan investasi menjadi sejumlah langkah yang dinilai perlu terus didorong.

Pemerataan pembangunan juga menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan, pedalaman, pesisir, dan pulau-pulau terluar. Kondisi geografis Nunukan membuat ketersediaan infrastruktur dasar dan akses pelayanan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mendukung pemerataan tersebut, pemerintah daerah menargetkan pembangunan jalan tani melalui 151 paket kegiatan yang tersebar di 16 kecamatan pada 2026. Sementara itu, pembangunan jalan penghubung kecamatan dan desa mencakup pembangunan jalan baru sepanjang 6,5 kilometer, rehabilitasi 4 kilometer, pemeliharaan rutin 19 kilometer, serta rekonstruksi 18,4 kilometer.

Di bidang kesehatan, pemerintah daerah juga menyampaikan upaya pemenuhan tenaga medis, termasuk penempatan 11 dokter spesialis di Rumah Sakit Pratama Sebuku dan Sebatik. Adapun pemenuhan dokter spesialis untuk Rumah Sakit Pratama Krayan masih diusulkan kepada Kementerian Kesehatan, sembari mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung.

Irwan menegaskan, pencapaian visi Kabupaten Nunukan yang inovatif, sejahtera, adil, dan mandiri membutuhkan keterbukaan serta partisipasi masyarakat. Ia juga mempersilakan masyarakat menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

“Silakan masyarakat memberikan saran, masukan, bahkan kritik kepada pemerintah. Kritik yang konstruktif sangat penting bagi kami, dan menjadi tanggung jawab kami untuk menjawabnya dengan penuh rasa tanggung jawab,” katanya.

Di usia ke-27 tahun, tantangan pembangunan Nunukan tidak hanya terletak pada penyusunan program dan penetapan target, tetapi juga pada kemampuan pemerintah memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara merata oleh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.

Pemerintah daerah kini dituntut menerjemahkan komitmen tersebut menjadi hasil nyata, terutama dalam menekan stunting, memperbaiki akses infrastruktur, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (adv)




Senam Lukiwol Masuk MURI, Ingin Budaya Tidung Tak Hilang Ditelan Zaman

NUNUKAN – Legenda Suku Tidung tentang Yaki Bentawol diangkat melalui gerakan senam dan dibawa ke panggung nasional. Kabupaten Nunukan menjadikan pemecahan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Senam Lukiwol sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Kegiatan yang digelar di Ruang Terbuka Publik (RTP) Paras Perbatasan, Minggu (11/10/2026), menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan. Bupati Nunukan H. Irwan Sabri membuka kegiatan tersebut, didampingi Direktur Operasional MURI Yusuf Ngadri serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Irwan mengatakan, Senam Lukiwol tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga sarana memperkenalkan identitas budaya masyarakat Nunukan kepada khalayak yang lebih luas.

Menurut dia, gerakan dalam Senam Lukiwol mengandung cerita dan filosofi yang bersumber dari legenda Iluk Yaki Bentawol. Kisah tersebut menggambarkan kehidupan Yaki Bentawol, mulai dari mengarungi sungai, menebang pohon, berburu, hingga kegembiraan sang istri ketika ia pulang membawa hasil buruan.

Cerita yang diwariskan melalui legenda itu kemudian diterjemahkan menjadi rangkaian gerakan senam. Dengan cara tersebut, nilai budaya tidak hanya disampaikan melalui cerita lisan, tetapi juga diperkenalkan melalui aktivitas yang dapat dilakukan bersama oleh berbagai kelompok masyarakat.

“Hari ini, di tempat yang sangat istimewa ini, di Ruang Terbuka Publik Paras Perbatasan, kita tidak hanya berolahraga. Hari ini kita mencatat sejarah,” kata Irwan.

Ia menilai, pengenalan budaya lokal menjadi penting di tengah derasnya pengaruh budaya dari luar. Nunukan, sebagai wilayah perbatasan, memiliki kekayaan budaya yang dapat diperkenalkan sebagai identitas daerah sekaligus kebanggaan masyarakat.

“Di saat banyak daerah berlomba mengimpor budaya luar, hari ini kita di perbatasan justru menunjukkan kepada Indonesia bahwa kita punya karya budaya asli yang sehat, kreatif, dan membanggakan. Dan hari ini kita bawa ke pentas nasional melalui MURI,” ujarnya.

Namun, bagi Irwan, upaya mengangkat Senam Lukiwol tidak cukup berhenti pada pemecahan rekor. Ia meminta Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Nunukan segera mengurus perlindungan hukum terhadap karya tersebut agar dapat dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Saya harap Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Nunukan untuk segera hak patenkan Senam Lukiwol ini. Ini milik Nunukan. Kita harus jaga, kita harus ajarkan ke anak cucu kita,” tegasnya.

Selain pelestarian budaya, Irwan berharap Senam Lukiwol menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehat masyarakat. Ia mendorong agar senam tersebut diterapkan secara rutin di sekolah, perkantoran, puskesmas, hingga menjadi kegiatan setiap Jumat pagi.

Menurut dia, momentum HUT ke-27 Kabupaten Nunukan seharusnya tidak hanya diisi dengan perayaan, tetapi juga menghasilkan kebiasaan positif yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Pada usia Kabupaten Nunukan yang ke-27 tahun, tidak ada kado yang lebih berharga selain rakyat yang sehat dan bugar,” katanya.

Pemecahan rekor Senam Lukiwol juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata Nunukan. Irwan menyebut, RTP Paras Perbatasan dipilih karena menjadi salah satu ruang publik yang dibanggakan masyarakat.

Ia mengatakan, kawasan tersebut kini menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas masyarakat. Dari lokasi itu, pemerintah daerah ingin menunjukkan bahwa wilayah perbatasan tidak hanya memiliki posisi strategis secara geografis, tetapi juga kekayaan budaya yang layak dikenal lebih luas.

“Dari Paras inilah kita ingin menyampaikan pesan kepada negara tetangga dan kepada seluruh Indonesia: dari perbatasan, kita jaga budaya, kita jaga kesehatan, kita torehkan prestasi,” ujarnya.

Promosi tersebut turut didukung kehadiran peserta dari luar negeri. Dalam kegiatan itu, peserta disebut berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Kehadiran mereka menjadi peluang untuk memperkenalkan Senam Lukiwol sekaligus memperluas jangkauan promosi budaya dan wisata Nunukan.

Kegiatan tersebut juga diikuti berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, ibu-ibu PKK, aparatur sipil negara (ASN), TNI-Polri, hingga komunitas senam.

Irwan mengapresiasi keterlibatan para peserta yang dinilainya menjadi bagian penting dalam memperkenalkan budaya lokal secara bersama-sama.

“Kepada seluruh peserta, dari anak sekolah, ibu-ibu PKK, ASN, TNI-Polri, pelajar, komunitas senam, yang hari ini datang dengan kostum seragam dan semangat yang luar biasa, Anda semua adalah pemecah rekor! Anda semua adalah pahlawan budaya!” ungkapnya.

Suasana di RTP Paras Perbatasan semakin meriah dengan penampilan Liza Natalia, artis dangdut sekaligus instruktur senam, yang mengajak peserta mengikuti gerakan Zumba.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap Senam Lukiwol tidak hanya dikenal saat peringatan hari jadi atau kegiatan pemecahan rekor. Lebih dari itu, senam yang berakar dari legenda Suku Tidung tersebut diharapkan terus dipraktikkan, diperkenalkan kepada generasi muda, dan menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Nunukan. (adv)




Pawai Budaya HUT ke-27 Nunukan Hadirkan Kontingen dari Sabah

NUNUKAN – Pawai Budaya dan Karnaval Mobil Hias pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan, Sabtu (10/10/2026), menghadirkan kontingen Pagun Tidung Kalabakan dari Sabah, Malaysia. Kehadiran mereka memperlihatkan kedekatan budaya masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Pawai yang mengusung tema “Kreatif Berkarya, Nunukan Maju” itu diikuti sekitar 84 peserta dari berbagai kategori, mulai dari SD/MI, SMP, SMA hingga umum. Selain itu, terdapat 12 peserta karnaval mobil hias yang turut memeriahkan perayaan.

Rangkaian pawai diawali dengan penampilan drumband Bahana Suara Berbatasan PDBI Kabupaten Nunukan, kemudian disusul kontingen Pagun Tidung Kalabakan dari Sabah yang hadir sebagai tamu kehormatan dalam rangkaian kegiatan Iraw Tidung Borneo Bersatu di Nunukan.

Pawai dilepas oleh Wakil Bupati Nunukan Hermanus dengan kibaran bendera start, didampingi Bupati Nunukan H. Irwan Sabri dan sejumlah tamu kehormatan.

Dalam sambutannya, Irwan Sabri mengatakan, keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, kesenian, dan tradisi merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Menurut dia, budaya tidak cukup hanya ditampilkan dalam perayaan, tetapi harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus dihidupkan, dilestarikan, dan diwariskan. Kalau kita tidak mengenal budaya sendiri, kita bisa kehilangan jati diri,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar mengambil peran aktif dalam menjaga kebudayaan daerah. Anak muda, kata dia, tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku yang memastikan adat dan tradisi tetap hidup.

“Saya berharap generasi muda Nunukan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku dan penerus budaya daerah. Kenali adat dan tradisi kita, bangga dengan karya daerah, dan jangan malu menunjukkan identitas budaya Nunukan,” ujarnya.

Melalui peringatan HUT ke-27 ini, Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap keberagaman budaya dapat memperkuat persatuan, kebersamaan, dan keharmonisan masyarakat.

Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Ketua TP PKK Kabupaten Nunukan Hj. Andi Annisa Muthia Irwan, Susanti Hermanus, Wakil Ketua I DPRD Nunukan Hj. Arpiah, anggota DPRD, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan instansi vertikal. (adv)